Tuesday, 13 August 2013

Sugeng Riyadi 1434 H

Ibu, Bapak, saha Sedherek kawula, keparenga kula matur wonten ngersa jengandika sami.
Kados sampun sawatawis dangu anggen kita angrajut sesrawungan, kekancan, saha pasedherekan
Kawula temtu nate kaduk wani kirang hadeduga anggen kawula matur utawi tumindak.
Kadangkala temtu wonten atur lan tumindak kawula ingkang mboten mranani ing penggalih
Pramila ing dinten ingkang sae puniki keparenga kula matur "lonthong kupat opor santen
sakathahing lepat kawula nyuwun gungging sih pangapunten".
Mangga kita sami hamemuji mugi-mugi sadaya kalepatan saged lebur ing dinten Riyadi puniki.
Kula  sakbrayat ageng ngaturaken sugeng Idul Fitri kagem Ibu, Bapak, saha Sedherek kawula ingkang muslim, minal aidin wal faizin, lan ngaturaken sugeng hangresepi "aktivitas" menapa kemawon ingkang sae lan migunani dumateng para Ibu, Bapak, saha Sedherek kawula sedaya.
Mugi-mugi kita tansah pikantuk berkah saha rahmad lan nugraha saking Gusti Ingkang Murbeng Dumadi, ginayuh sedaya ingkang kita sedya, jumangkah sedaya ingkang kita angkah, mawujud sedaya pepenginan, kalaksanakan sakehing panjangka, amin amin amin YRA.

Salam taklim kawula sabrayat:
 Hero Wadya sakulawarga

Monday, 5 September 2011

Ritus Reuni di Era Digital

Oleh : Bambang Haryanto
Blogger, alumnus SMP Negeri I Wonogiri dan UI


Setiap orang memiliki kecenderungan narsistik. Mengagumi dan mencintai dirinya sendiri. Apalagi di era Internet ini di mana setiap orang bebas untuk mengekspresikan diri mereka di hadapan dunia. Hasil kajian terhadap pemanfaatan mesin pencari Google di Internet menunjukkan hal menarik tersebut .

John Battelle dalam bukunya The Search: How Google and Its Rivals Rewrote the Rules of Business and Transformed Our Culture (2006) mengungkap data dari jajak pendapat Harris (2004) hampir 40 persen adalah pencarian yang berbau narsis, dengan mengetikkan nama kita sendiri di mesin pencari. Tujuannya sederhana, ingin mengetahui apakah nama kita masuk sebagai salah satu “koleksi” khasanah informasi dunia.

Tetapi wartawan dan salah satu pendiri majalah gaya hidup digital Wired justru yakin bahwa pencarian berbau narsis itu mencapai porsi yang lebih tinggi. Disusul pencarian informasi tentang mantan kekasih, teman lama dan kerabat keluarga.

Di luar dunia maya, momen dan suasana Idul Fitri yang baru kita lalui itu kiranya semakin menegaskan hasil kajian John Battelle di atas. Ritus mudik lebaran untuk mempertemukan dan menautkan kembali ikatan keluarga, yang selama ini hidup mereka terpencar-pencar secara geografis, selalu saja menjadi pangilan jiwa yang sulit dielakkan ketika momen mulia itu menyapa kita.

Selain keinginan bertemu keluarga dan handai taulan, kalau Anda rajin menyimak isi kolom surat-surat pembaca, spanduk di jalanan, milis sampai status di Facebook, pasti mudah kita temui informasi tentang penyelenggaraan reuni lulusan sekolah tertentu yang mengambil momen di hari Lebaran. Mereka yang sudah berpisah selama puluhan tahun, membuat impuls-impuls nurani untuk bisa kembali merasakan atmosfir dan interaksi di masa lalu, adalah hal manusiawi yang bisa kita fahami. Dan hal itu menyehatkan jiwa.

Bahkan dari reuni para lulusan tersebut seringkali muncul aksi-aksi positif. Seperti penghimpunan dana untuk membantu pembangunan mantan sekolahnya, pemberian cendera mata sampai santunan kepada mantan-mantan guru mereka. Namun sejauh ini, para alumni itu nampak masih berkutat untuk tenggelam berasyik-asyik semata dalam “pulau-pulau kenangan” masa lalu mereka. Kegiatan rekreatif dan bahkan cenderung miopia.

Angkatan tahun sekian hanya tahu dan peduli terhadap teman seangkatannya saja. Bahkan terlibat “bentrok” ketika hendak memakai fasilitas, misalnya aula sekolah, yang pada saat yang sama juga diinginkan untuk dipakai oleh angkatan lainnya.

Belum lagi betapa para alumni itu seringkali terputus hubungannya sama sekali dengan adik-adik mereka yang kini menjadi anak didik di sekolah yang sama. Juga tidak banyak sekolah yang sengaja mendokumentasikan prestasi anak didiknya yang terdahulu untuk bisa diangkat menjadi inspirasi atau sumber motivasi bagi anak didik mereka sekarang ini.

bambang haryanto,ritus reuni,era digital,alumnus smp negeri 1 wonogiri,alumnus universitas indonesia,blogger wonogiri,valensia atika dewi

Ritual reuni para lulusan sampai aksi-aksi pemberian karitatif/berderma mereka, kini saatnya dikembangkan secara lebih kreatif dan inovatif. Utamanya, terkait dengan wacara pendidikan di era digital, yaitu pendidikan kolaboratif. Mazhab itu merujuk betapa pendidikan di era Internet dewasa ini tak bisa lagi hanya mengandalkan tutur dan kapur (talk and chalk) di kelas semata.

Lanjutannya dapat Anda klik disini.
Terima kasih.



Wonogiri, 4 September 2011


Monday, 14 March 2011

Beberapa menit bersama mas Anto

Saat saya bertugas di Wonogiri, saya iseng-iseng smsm mas Anto dan ditanggapi; maka saya meskipun udah malam sekitar pk. 22.00 saya mampir ke rumah mas Anto dan diajak untuk nge Hik .... sambil ngobrol sana sini sambil minum susu diblonyohi jae akhirnya malam semakin larut. Sekiatr pk. 23.00 saya pamit dan langsung cabut ke Semarang. Terima kasih mas Anto

Mas Ciptono sahabatku

Sejak pertemuan alumni di gajag Mungkur, ingatan saya kembali kepada mas Ciptono yg pernah satu kelas di 2 E dulu. Dan saat itu tampaknya saya menjadi akrap karena sering bertemu di rumah sakit Karyadi Semarang. Saat di rawat di Solo pun saya merasa dekat, saat say amampir di Krisakpun tampak akrab. dan ternyata beliau menunggu saya di Rumah sakit Karyadi sebelum jenasahnya di bawa ke Wonogiri.
Selamat jalan mas Ciptono , terima kasih untuk semua persahabatan penjengan

Friday, 21 January 2011

Revolusi Locavore : Anda Tertarik Ikut Serta ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Locavore.
Sudahkah Anda kenal istilah eksotis ini ?
Saya ketabrak istilah itu gara-gara cabe.

Ceritanya, kemarin (19/1/2011) saya memperoleh kabar mutakhir tentang cabe itu dari penjual mi ayam Mas Jan di Wonogiri. mBaknya baru pulang dari pasar, dan mengeluh. Ia baru saja membeli cabe seperempat kilogram dengan harga gila-gilaan.

"Satu kilogram cabe rawit,harganya masih seratus ribu rupiah," katanya. Beberapa hari lalu, koran lokal mewartakan : harga cabe rawit satu klethusan senilai 300 rupiah.

Pagi ini (20/1/2011), mungkin karena masih dihantui harga cabe itu, ketika membuka-buka situs koran The Jakarta Globe, saya menemukan istilah locavore itu dalam artikel yang inspiratif. Artikel tentang revolusi upaya memperkuat ketahanan pangan bagi warga Indonesia.

Disitu, penulisnya, Magfirah Dahlan-Taylor yang kandidat PhD bidang perencanaan, tatalaksana dan globalisasi dari Virginia Tech (AS), mewedar gagasan revolusi memperkuat daya tahan pengadaan pangan di negara kita ini melalui upaya pemanfaatan halaman kebun rumah-rumah kita.Kunci keberhasilan gagasan mulia ini harus dimulai dari pola pikir, mindset kita-kita semua.

Ia lalu merujuk ikhtiar Michelle Obama, yang berkebun tanaman sayuran di kompleks Gedung Putih. Aksi mulia Ibu Negara AS itu, menurutnya, sejalan dengan tren gerakan masyarakat di AS yang berlabel locavore, walau ada juga yang menyebut localvore.

Gerakan itu pada intinya berusaha mendekatkan sumber makanan kepada konsumen yang selama ini terbiasa mengambil makanan dari rak-rak di pasar-pasar swalayan ketimbang langsung dari tanaman. Dengan gerakan ini kita diajak mengonsumsi makanan-makanan hasil budi daya lokal.

Selain lebih murah, karena tidak terbebani biaya pajak sampai transportasi [baca kisah mBak Bea, warga Indonesia yang kini tinggal di Perancis ketika kangen makanan asal Indonesia], kita juga diajak/diajar untuk mengetahui ikhtiar apa saja yang membuat tanaman itu tumbuh.

Misalnya, apakah memakai pupuk kimia ataukah pupuk organik ? Merujuk hal itu, jelaslah pula bila gerakan locavore itu juga berimpit dengan misi gerakan pelestarian lingkungan hidup. Dan menurutnya, harus digairahkan sejak dini di bangku-bangku pendidikan kita ["halo, alumnus A-1981 yang kini menjadi guru, ada pesan untuk Anda..").

Terima kasih, Ibu Magfirah Dahlan-Taylor.

Bagaimana sikap kita ? Mumpung kita semua masih merasakan shock, termasuk bila Anda membaca berita yang mengabarkan harga cabe mampu mencapai seperempat juta rupiah per kilogramnya, semoga tanda bahaya itu, yang juga bisa menjalar ke komoditas pertanian lainnya, mampu menginspirasi kita untuk mulai bergerak. Dimulai dari hal kecil, dari diri kita, dari rumah kita, dan sebaiknya kita lakukan sekarang juga.

Bertani modal kaleng. Bagi saya, imbauan di atas itu ibarat memutar kembali lagu lama dengan aransemen baru. Sedikit bernostalgia, di tahun 1998 ketika badai krisis moneter menggebuk Indonesia yang membuat saya harus pulang kampung ke Wonogiri setelah ngendon di Jakarta lebih dari 18 tahun, saya sempat membuat isu dan gerakan berkebun tanaman sayuran di halaman rumah sendiri.

Saya mengajak warga, misalnya dengan memanfaatkan lahan terbatas dan bahkan kaleng-kaleng bekas cat, untuk berkebun tanaman cabe, sawi, kangkung, sampai kacang panjang. Saya bahkan berbisnis benih-benih tanaman sayuran itu, juga pupuk organik, dengan label Optimis melalui jasa pos. Gagasan itu saya sebarkan dan promosikan melalui kolom-kolom surat pembaca di pelbagai surat kabar.

Cerita jadul itu sempat juga saya tulis di blog Esai Epistoholica pada bulan Agustus 2005. Potongannya : "Bisnis pertanian melalui surat pembaca juga pernah saya terjuni. Akibat krismon di awal 1998, saya pun harus hengkang dari Jakarta. Kembali mudik ke Wonogiri.

Dalam perjalanan bis Solo-Wonogiri, saya temukan penjaja asongan yang menawarkan produk unik. Yaitu paket kecil berisi sepuluh jenis biji-bijian, benih tanaman sayuran. Ada bayam, kangkung, lombok, sawi, tomat, gambas sampai mentimun. Saya membeli dan minta alamat penjualnya. Dirinya tinggal di daerah Sukoharjo. Harga satu paket, Rp. 1.000. Kalau belinya banyak, harganya Rp. 600 per paket.

Pertanian adalah subjek yang saya buta sama sekali. Saya anak tentara, bukan anak petani. Selama 18 tahun saya pun tinggal di Jakarta. Kini tiba saatnya, pikir saya, untuk belajar menjadi petani. Saya segera mencari info ke Departemen Pertanian. Bahkan kemudian menemukan tempat yang menjual pupuk organik. Juga membaca-baca majalah pertanian Trubus yang terkenal itu.

Di masa krisis moneter itu cabe harganya mencapai puluhan ribu per kilogram, aku pikir, gerakan swadesi alias mencukupi kebutuhan diri sendiri model Mahatma Gandhi (foto di atas) sebaiknya dicoba untuk dipromosikan."

Revolusi kita bersama. Apakah Anda sebagai warga Wonogiri, di mana pun Anda berada, kira-kira kini menjadi ikut tertarik dan kemudian tergerak untuk ikut dalam revolusi locavore yang inspiratif ini ? Hanya Anda yang bisa memastikannya.

Harapan saya : semoga obrolan tentang cekikan harga cabe, gerakan locavore, dan inspirasi dari Mahatma Gandhi ini mampu membawa manfaat bagi kita semua.

Mari kita mulai beraksi.
Demi kesejahteraan Anda pribadi, keluarga Anda, dan kita semua.

Anda punya pendapat menarik tentang hal ini ?
Saya menantikannya.
Terima kasih sebelumnya saya haturkan kepada Anda.


Wonogiri, 19-21/1/2011

PS : Saat ini saya memelihara 6-7 tanaman cabe. Walau tak begitu lebat, saya masih bisa mengonsumsi sayuran favorit ini, untuk diganyang menemani tempe mendoan.

bh

Wednesday, 5 January 2011

MUCHLIS DAN MUKHSIN

Oleh: Nur Rochman Achmad (Maman, 1981)



Tulisan ini saya persembahkan kepada para guru saya tercinta yang telah memberi pencerahan dalam hidup saya utamanya Bp. Ust. Muhammad Zuhri yang pada bulan Desember 2009 ini genap berumur 70 tahun. Salam bakti saya, Nur Rochman Achmad.

Akal dan logika adalah suatu karunia yang diberikan oleh Allah kepada manusia untuk melengkapi dan membantu jasad ini dalam mengarungi kehidupan di alam semesta. Akal dan logika itu tumbuh seiring dengan pertumbuhan manusia mulai dari bayi hingga dewasa dan kemudian menjadi orang tua. Logika digunakan oleh manusia untuk membantu akal dalam menganalisis setiap kejadian dan kemudian merangkaikan setiap peristiwa tersebut serta menarik benang merahnya sehingga didapatkan satu kesimpulan yang mana kesimpulan ini akan digunakan oleh akal untuk membuat spekulasi-spekulasi tentang suatu kejadian di masa yang akan datang. Secara ilmiah bisa dikatakan sebagai membuat suatu rencana untuk mempengaruhi kehidupan kita dimasa depan.

Akal dan logika hanya bisa memahami sesuatu yang direspon oleh panca indra kita. Lalu membuat analisis dan perhitungan tentang apa yang akan terjadi. Semakin kuat dominasi akal dan logikanya maka manusia akan semakin yakin dengan spekulasinya, dan apabila ternyata apa yang terjadi meleset dari perhitungannya, maka muncullah kebimbangan lalu mulailah akal dan logika ini mencari pembenaran atau menyalahkan keadaan yang dianggap menggagalkan rencananya. Ketika semua yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh akal dan logikanya maka kejadian itu dianggapnya tidak logis dan tidak adil, lalu manusia berusaha menuntut keadilan dan tidak mau menerima kenyataan yang ada.

Keadilan memang sesuatu yang relatif, ketika manusia terlalu mengedepankan akal dan logikanya, sebab keadilan selalu dipandang dalam perspektif kepentingan dirinya atau kelompoknya. Ketika kepentingan dirinya atau kelompok yang seide dengannya tidak menjadi bagian dari suatu peristiwa itu maka dikatakan telah terjadi ketidak adilan dan harus dituntut. Akal mengatakan kebenaran harus ditegakkan.

Permasalahannya bahwa  logika – akal kita sering tidak sama dengan logika akal Tuhan. Ketika Tuhan memberikan Qodhonya terhadap seseorang, Dia juga mempertimbangkan takdir dan Qodhonya makhluk lain bukan hanya manusia saja, karena Allah itu Tuhan semesta alam yang akan memberi keadilan dan rahmat pada seluruh isi alam semesta. Jadi kita tidak perlu kaget ketika kita berdoa menginginkan suatu keadilan malah yang terjadi adalah menambah kesengsaraan kita, karena kita lupa bahwa keadilan Tuhan adalah keadilan semesta alam yang juga mempertimbangkan dosa-dosa masa lalu kita baik kepada manusia atau bahkan makhluk lain yang bukan manusia yang pernah kita sakiti. Ini yang dikatakan sebagai hari perhitungan. Hari perhitungan ini selalu diberikan kepada manusia secara periodik dari waktu ke waktu dengan tujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan hakekat dirinya. Jadi apa yang terjadi sekarang adalah buah masa lalu kita dari hasil interaksi kita dengan sesama manusia, binatang, tumbuhan atau bahkan alam semesta.

Sering kita tidak mengerti ketika kita berdoa memohon kesuksesan malah kita ditimpa banyak masalah. Akal dan logika manusia yang belum di set frekuensinya sehingga selaras dengan frekuensi logika Tuhan akan bingung, kecewa dan frustasi, namun sebaliknya ketika frekuensi sudah selaras barulah kita menyadari dan faham bahwa masalah dan kegagalan adalah ibu kandung dari kesuksesan, karena definisi kesuksesan itu adalah seberapa banyak kita bisa mengatasi kegagalan dan masalah. Perlu juga kita pahami bahwa munculnya istilah sukses itu karena ada istilah gagal. Begitu juga ketika Tuhan hendak menjadikan seseorang menjadi sabar, maka Tuhan akan mendatangkan banyak peristiwa yang menjengkelkan dan menyakitkan hati yang kalau ditelaah dengan akal logika kita, semuanya tidak masuk akal.

Logika manusia ada dalam batas dunia yang kasat mata, sementara logika Tuhan ada pada alam ruhiah manusia atau bisa diistilahkan logika spiritual. Manusia mempunyai dua sisi semesta, yaitu semesta milik (alam dunia) yang ditempati oleh sang Jasad manusia dan semesta diri (alam ruh) yang ditempati oleh ruh kita. Kedua-duanya mempunyai Sunatullah. Namun alam ruh ini adalam alam yang gelap gulita, tidak ada penerangan cahaya seperti cahaya matahari menerangi alam dunia atau alamnya jasad. Satu-satunya cahaya yang mampu menerangi adalah cahaya Tuhan yang baru diberikan ketika kita memang mencari dan memintanya kepada Tuhan. Oleh karena itu Sunatullah di alam ruh sangat sulit dipahami oleh akal dan logika manusia padahal itu sangat nyata dan bisa kita rasakan meskipun sulit dibuktikan secara rasional dan kunci kehidupan kita. Contoh mudahnya kita sangat sulit membuktikan adanya kentut seseorang meskipun baunya jelas kita rasakan.

Manusia yang akal dan logikanya telah sampai kepada akal dan logika Tuhan maka dialah orang yang bisa mencapai taraf ikhlas atau Muchlis. Karena dia tahu bahwa setiap kejadian adalah kehendak Tuhan baik itu kejadian yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, seperti kata penyair Ebiet G Ade: Anugerah dan bencana adalah Kehendaknya, kita mesti tabah menjalani. Hanya cambuk kecil agar kita sadar, bahawa Dia adalah segalanya. Ketika manusia sadar betul akan peran yang diberikan oleh Allah saat ini dan menerimanya dengan lapang hati tanpa ada perasaan “seharusnya  kan begini (seperti di dalam fikirannya) tapi kenapa yang terjadi seperti itu” atau “dia merasa seharusnya saya lebih berhak memerankan posisi (peran) itu daripada dia, tapi mengapa dia yang mendapat posisi atau peran itu. Ketika akal manusia terbebas dari keinginan untuk memaksa Tuhan memberikan setiap kejadian ini seperti apa yang mereka inginkan maka barulah manusia bisa  lapang hati menerima segala kejadian yang terjadi baik itu yang menyenangkan atau yang menyakitkan, dan pada saat itulah manusia bisa mencapai taraf ikhlas, dan dari situ barulah muncul rasa bersyukur dengan nikmat yang dia dapatkan saat ini.

Hakekat keikhlasan memang akan menimbulkan rasa syukur dan puncak syukur adalah tidak pernah mencela hari ini, zaman ini, kondisi saat ini, maka Allah akan memberikan dia sifat latif (lembut), penyantun, mulia dan dermawan.
  
Hadits Qudsi : "Jangan Mengutuk zaman karena Akulah zaman".

Puncak dari syukur adalah memiliki karomatullah yaitu kemuliaan Tuhan yang dipinjamkan kepada orang yang bersyukur.

Bagaimana melatih diri sehingga menjadi manusia yang ikhlas. Bp. Muhammad Zuhri, seorang guru tasawuf mangatakan bahwa Ikhlas dengan diri sendiri latihannya adalah sholat, karena Sholat adalah sarana untuk mengkalibrasi dan menselaraskan logika kita dengan logika Tuhan atau logika spiritual.

Sholat memberikan perenungan yang dalam dan kesadaran akan adanya kekuatan yang sangat menentukan dalam setiap kejadian didunia.  Kekuatan diluar akal dan kemauan manusia. Kekuatan semesta alam dari sang pencipta. Kekuatan yang tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun karena kekuatan itu adalah kekuatan Tuhan. Ketika kesadaran itu muncul maka manusia hanya bisa pasrah dan berdoa agar diberi kejadian yang menyenangkan atau diberi kelapangan hati ketika mendapat ujian dengan kejadian yang menyakitkan.

Allah memberikan isyarat bahwa sholat adalah sarana mendidik manusia untuk bisa ikhlas dan menerima apa yang terjadi dan menjalaninya dengan rasa pasrah tanpa kejengkelan, tanpa kedongkolan dan sakit hati, tanpa harus menyalahkan keadaan. Yang ada padanya hanyalah rasa syukur. Orang seperti inilah orang yang terhindar dari berbagai penyakit, baik penyakit fisik maupun penyakit mental. Inilah yang disebut pertolongan Tuhan. Dia akan selalu menatap masa depan dengan optimis dan tidak putus asa terhadap rahmat Tuhan.

Itulah sebabnya Tuhan memerintahkan manusia untuk meminta pertolongan kepadaNya dengan sholat  seperti dalam firmanNya:


 Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (2:153)

Pada ayat tadi disebut juga sabar sebagai sarana mendapat pertolongan Allah. Sabar adalah kelanjutan dari ikhlas yaitu setelah kita menerima dengan lapang hati terhadap segala kejadian yang menimpa kita, maka langkah selanjutnya adalah menyiapkan mental untuk mampu menunda kenikmatan meskipun akal dan logika kita menentang.

·         Ujung dari sabar adalah syafaat yang mampu menolong orang lain. Doa nya terhadap orang yang dipedulikan bisa terkabul.

Mendidik sabar adalah dengan berpuasa. Di sini kita dilatih untuk menahan diri terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah sah menjadi milik kita dan langsung bisa dinikmati, namun tidak boleh kita gunakan sampai waktu yang sudah ditentukan. Kita dilatih untuk menunda kenikmatan meskipun itu kepunyaan kita sendiri. Orang yang telah menjiwai puasa akan tertempa dalam hidupnya dan selalu beroriantasi kenikmatan jangka panjang dengan menunda kenikmatan yang sifatnya hanya sesaat.  Orang seperti ini akan mampu merasakan makna dibalik setiap peristiwa. Dia akan mampu merasakan bahwa setiap kesulitan dan masalah yang ditimpakan adalah mengandung makna kesuksesan yang akan dia nikmati dalam jangka yang panjang, oleh karena itu dia akan tekun dan sabar menghadapi tantangan itu hingga akhirnya sukses dengan mengalahkan tantangan tersebut.

Kebangkitan dan kesadaran biasa akan muncul ketika manusia mengalami momen-momen transendental yang membuat manusia mengalami lompatan dalam spiritual misalnya: 
  • Fitnah; 
  • Sesuatu yang dicintai atau sandaran hidup kita dirampas oleh Allah misalnya: Jabatan, Anak, Harta yang kita miliki, dsb.
Di dalam peristiwa itu manusia akan mengalami goncangan jiwa yang dahsyat, dan hanya orang yang telah memahami makna ikhlas dan sabar yang akan bisa terus mendalami dan memahami makna dibalik peristiwa-peristiwa tersebut. Itulah yang dikatakan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat.

Namun demikian masih ada cita-cita seorang muslim yang paling tinggi yaitu menjadi Muhsin (ihsan).  Mukhsin lebih tinggi dari ikhlas karena mencapai tingkat dimana orang mampu berkoban padahal pada saat yang sama akal kita menentangnya. Nabi Ibrahim mampu mengorbankan Nabi Ismail anak semata wayangnya meskipun logika dan akalnya menentang, demikian juga Abu Bakar Assiddiq memberikan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam dalam menegakkan keadilan dan kemakmuran di dunia. Ini memang terlihat  tidak masuk akal namun terbukti Abu bakar tidak lantas menjadi miskin dan hidup terlantar. Inilah Pengorbanan, Inilah Muhsin, inilah makna Haji dan inilah Logika Tuhan. Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi yaitu orang-orang mukhsin yang tidak terjebak pada kesibukan demi kepentingan sendiri dan keluarganya, tetapi hidupnya senantiasa memberikan yang terbaik untuk kepentingan orang banyak. Karya-karyanya akan menjadi karya yang monumental yang kemanfaatannya dirasakan oleh alam semesta.

Haji merupakan sarana penggarapan terakhir bagi manusia ketika rukun Islam yang empat telah disempurnakan dan membekas dalam kehidupan sehari-hari. Disana jutaan manusia dari berbagai belahan dunia yang berbeda suku dan ras berkumpul mengelilingi satu titik yaitu ka’bah yang merupakan simbol di dunia ini hanya ada satu kekuatan yang mengatur alam semesta yaitu kekuatan Tuhan. Di dalam haji semua ritual merupakan simbol-simbol kehidupan yang harus dipecahkan sehingga kita mampu mencapai derajat manusia yang sesungguhnya, yaitu manusia yang jasad dan jiwa spiritualnya seimbang dan selaras sehingga mampu menjadi duta Allah di muka bumi.

Sebagai contohnya, thawaf dimana manusia mengelilingi ka’bah berulang-ulang menggambarkan bahwa kehidupan ini adalah sesuatu yang berulang-ulang atau rutinitas mulai dari pergantian malam-kemudian pagi-siang-sore lalu kembali ke malam lagi. Demikian aktifitas manusia seperi makan kemudian lapar lagi, minum kemudian haus lagi, tidur kemudian bangun lagi, dan seterusnya, termasuk dalam ritual ibadah misalnya sholat dan puasa juga kita ulang-ulang dalam kehidupan kita. Namun demikian aktifitas yang menghasilkan kesalahan dimasa lalu tidak boleh kita ulang maka manusia dengan Sya’i-nya harus tetap berjalan seolah membuat garis lurus kedepan. Makna sesungguhnya dari peristiwa ini adalah bahwa didalam mencari dan mendapatkan tata nilai kehidupan dijagat raya ini tidak ada yang berulang atau boleh dikatakan bahwa didalam aktifitas rutinitas yang berulang-ulang akan menghasilkan suatu nilai kehidupan yang tidak pernah berulang. Manusia memang melakukan suatu aktifitas rutin dan berulang-ulang dari hari ke hari, namun tanpa sadar dengan aktifitas itu manusia tumbuh dan berubah dari bayi menjadi menjadi dewasa, bahkan kemudian menjadi orang tua. Ini adalah proses pertumbuhan nilai yang tidak mungkin berulang. Tidak ada manusia setelah dewasa kemudian mengecil menjadi bayi lagi. Di dalam ritualpun demikian juga, misalnya nilai dan pemahaman sholat dan puasa yang dilakukan anak-anak akan berbeda dengan orang tua meskipun dalam prosesnya sholat dan puasa tersebut diulang-ulang dari kecil hingga usia tua.

Proses pencarian nilai ini akan berhenti dan berakhir disuatu tempat yang disebut padang ma’rifat atau Wukuf dipadang kehidupan Arafah. Disinilah manusia akan melakukan perenungan akhir hingga menemukan jati diri dan mengenali Tuhannya serta siap menerima amar (perintah) untuk melaksanakan perannya sebagai wakil atau representative Tuhan di muka bumi. Setiap manusia akan diberi peran yang berbeda sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang dipikulkan Tuhan kepadanya. Manajerial Tuhan telah mengatur alam semesta sedemikian rapi sehingga setiap manusia pasti memperoleh peran sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuannya.  Manusia tanpa sadar telah diarahkan dan digiring oleh Tuhan melalui minat, bakat, dan kemampuan yang ditanamkan di dalam dirinya. Lebih dari itu setiap manusia dilahirkan di dalam lingkungan hidup yang berbeda-beda, sehingga setiap orang otomatis mendapatkan bidang garapan yang berbeda-beda di dalam alam semesta ini.  

Salah satu yang paling berat dari sisi sepiritual manusia adalah rasa memiliki yang sangat tinggi terhadap keduniawian, oleh karena itu didalam jumroh manusia akan melempari syetan-syetan yang ternyata adalah simbol-simbol rasa ego yang menjadi berhala yang selalu dibawa oleh manusia. Ego inilah yang akan menjegal hati kita untuk melakukan pengorbanan sosial. Batu-batu kecil dilemparkan sebagai simbol materi atau harta yang kita buang dan lemparkan untuk kepentingan sosial atau kepentingan orang banyak atau bahkan kepentingan alam semesta. Di sini manusia disadarkan bahwa harta milik kita bukanlah harta yang kita tumpuk-tumpuk dan menjadi harta warisan, namun milik kita yang sebenarnya sebagai bekal akhirat adalah harta yang kita sumbangkan untuk orang atau makhluk lain tanpa memandang ras, suku, agama bahkan untuk kelestarian binatang dan juga tumbuh-mbuhan atau alam semesta. Manusia yang lulus di dalam hajinya maka ia akan menjadi manusia sosial yang lintas ras, lintas suku bahkan lintas agama, yaitu manusia yang siap mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi yang memberi rahmat bagi semesta alam.

Haji akan menghasilkan suatu konsep bahwa setinggi tinggi iman adalah manusia yang mampu mementingkan kepentingan orang lain diatas kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya.

---

Tuesday, 28 December 2010

Sepakbola Kita, Korupsi Kita, Catatan Dari Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Pengantar. Eforia terkait naik daunnya timnas Indonesia di Piala AFF 2010, mengharu-biru Indonesia. Tetapi ketika dipukul tuan rumah Malaysia 3-0 di final leg pertama, 26 Desember 2010, keraguan kembali menghantui psike publik bola tanah air. Nasib akan ditentukan pada pertandingan leg kedua, 29 Desember 2010, di stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Pada hari Kamis 16 Desember 2010, 18.15, rasa skeptis saya selama ini terhadap persepakbolaan Indonesia telah diudarakan di Radio BBC Siaran Indonesia. Intinya, seperti yang saya tulis dalam artikel berikut yang pernah pula dimuat di harian Solopos, 10 Juni 2010.


“Sepak bola,” kata Nelson Mandela, “merupakan aktivitas yang paling mampu mempersatukan umat manusia.”

Merujuk negerinya dengan sejarah kelam tergencet politik apartheid yang panjang, kemudian bangkit dalam rekonsiliasi, dan di bulan Juni 2010 ini menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, ucapan Bapak Afrika Selatan itu terasa membiaskan kebenaran. Indonesia berpuluh tahun lewat telah pula merasakannya.

Itu terjadi pada tahun 1938 ketika ucapan Mandela tersebut punya makna bagi kita. Karena tim Asia pertama yang terjun dalam Piala Dunia 1938 di Perancis itu, walau masih di bawah bendera pemerintahan Hindia Belanda, adalah tim Indonesia yang terdiri beragam etnis bangsa. R.N. Bayuaji dalam bukunya Tionghoa Surabaya Dalam Sepakbola (2010), menyebutkan dalam tim tersebut terdapat pemain orang Belanda, Tionghoa dan Bumiputera.

Kemudian keikutsertaan Indonesia oleh novelis asal Uruguay, Eduardo Galeano, dalam Football in Sun and Shadow (2003) yang menulis panorama sepak bola dunia dengan kaya konteks, berdegup dan indah, telah dicatat sebagai satu di antara tiga kaitan antara Indonesia dan Piala Dunia.

Kaitan pertama, peristiwa di Piala Dunia Perancis tahun 1938 itu pula. Dalam pertandingan pertama di Reims Indonesia ditekuk calon finalis Hungaria 6-0, menjadikan momen itu sebagai pengalaman pertama negara kita ini mencicipi terjun sebagai finalis Piala Dunia.

Selebihnya, dua kaitan sisanya oleh Eduardo Galeano Indonesia hanya menjadi latar belakang peristiwa besar dunia terkait masa kenaikan rezim tiran Soeharto dan Orde Barunya (Piala Dunia 1966 di Inggris) dan sekaligus masa keruntuhannya (Piala Dunia 1998 (Perancis).

Dan hari ini, setelah 72 tahun Piala Dunia 1938 di Perancis itu, mengapa sepakbola Indonesia tidak pernah mampu lagi berbicara di tingkat dunia ? Freek Colombijn, antropolog lulusan Leiden, mantan pemain Harlemsche Football Club Belanda, mengungkap bahwa posisi sepak bola Indonesia dalam percaturan dunia kini berada dalam posisi periferi, pinggiran.

Dalam artikel "View from the Periphery : Football in Indonesia" dalam buku Garry Armstrong dan Richard Giulianotti (ed.), Football Cultures and Identities (1999), ia menggarisbawahi keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia sebagai akibat masih meruyaknya budaya kekerasan di teater sepak bola kita dan belum kokohnya budaya demokrasi di negeri ini.

Seolah memberi garis bawah realitas itu, seorang Emil Salim baru-baru ini menyebutkan bahwa demokrasi di Indonesia ibarat anak-anak yang masih berusia 2-3 tahun.

Teater sepak bola kita, seperti halnya sendi-sendi kehidupan bangsa ini di pelbagai sektor lainnya, makin diperunyam oleh budaya korupsi yang menggurita. “Indonesia adalah Brazilnya Asia. Pesepakbola Indonesia bermain dengan intelejensia dan bakat unik yang tidak ada duanya di dunia. Bakat-bakat mereka lebih baik dibanding pemain Korea atau Jepang. Pada era 50 dan 60-an, tim-tim Asia jangan bermimpi mampu menaklukkan tim Asia Tenggara.”

Itulah kenangan Sekjen Asian Football Confederation (AFC), Peter Velappan, di Asiaweek (5/6/1998) menjelang Piala Dunia 1998.

Image hosted by Photobucket.com

Untuk Indonesia Raya ! Stadion Kallang Singapura, 16 Januari 2005, menjadi saksi militansi suporter Indonesia dalam mendukung timnas di Final Piala Tiger 2005. Saya dan Mayor Haristanto (kaos putih) berbaur dengan mahasiswa, juga tenaga kerja asal Indonesia, berbagai suku dan asal keturunan, merasakan gairah persatuan menjadi satu bangsa, bangsa Indonesia. Sayang, timnas kita dewasa ini sangat jarang berjaya di ajang kompetisi internasional. Orientasi prestasinya cenderung hanya untuk konsumsi dalam negeri, memicu maraknya fanatisme kedaerahan, yang justru mengancam tererosinya rasa kebanggaan dan nasionalisme sebagai satu bangsa.

Image hosted by Photobucket.com

Tetap Optimis, Walau Kalah. Begitu Mayor dan saya memasuki tribun berisi suporter Indonesia di Stadion Kalang Singapura, segera merasakan “kimia” yang berubah. Spanduk “Bangkit Indonesia !” yang kami bawa, memicu seluruh tribun tergerak bersama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya merinding dan meneteskan air mata. Chan Yi Shen, wartawan olahraga koran utama Singapura, The Straits Times, tiba-tiba menggamit saya. Kami mengobrol di lorong gang menuju tribun. Esoknya, koran The Straits Times (17/1/2005) memuat pendapat saya, seperti terpajang di atas.

Tetapi di mana kini Indonesia dalam percaturan sepakbola Asia Tenggara ? Tidak membangggakan. Apalagi di Asia, dan tingkat dunia. Sepakbola kita hanya mampu memiliki masa lalu. Dalam artikel itu tersaji gambar pemain Indonesia Rocky Putiray, dengan teks berbunyi : “Pemain Indonesia seperti Peri Shandria yang sedang melompat itu memiliki bakat, tetapi pertandingan seringkali sudah diatur skornya.”

Peter Velappan kemudian melanjutkan bahwa asal-muasal keterpurukan prestasi Indonesia itu bersumber akibat “organisasi persepakbolaannya yang amburadul dan tidak mampu membersihkan borok korupsi yang ada,” sebagaimana keterpurukan prestasi sepak bola di Asia Tenggara selama berpuluh-puluh tahun terakhir ini pula.

Dalam belitan meruyaknya budaya korupsi itu maka sepakbola Indonesia merupakan teater sepakbola penuh rekayasa. Peraturan begitu mudah berganti-ganti, tetapi pada ujungnya hanyalah jeblognya prestasi demi prestasi timnas kita di pertandingan internasional.

Penghamburan uang negara dengan mengirim mereka berlatih ke luar negeri, misalnya ke Belanda, Argentina dan kini ke Uruguay, tidak lain hanyalah tipuan kehumasan untuk memoles citra. Trik semacam ini sudah berlangsung sejak jaman Primavera di era 1980-an dan semuanya berbuah kegagalan.

Kegairahan bangsa Indonesia terhadap sepak bola telah dibajak oleh elite dalam tubuh PSSI untuk kepentingan bisnis rejim mereka sendiri. Bos PSSI, Nurdin Halid pernah bilang dengan bangga bahwa kompetisi di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, baik dalam jumlah klub mau pun luas wilayahnya. Tetapi potensi besar itu selalu saja menjadi mandul ketika timnas kita atau klub-klub kita bertanding melawan tim di kawasan Asia Tenggara dan Asia.

Solusi di masa depan untuk mengatasi jeblognya prestasi sepakbola kita mungkin justru berada di tangan lembaga yang kini sedang mengalami gonjang-ganjing : Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kita harapkan lembaga ini, setelah pelbagai badai yang menerpanya lewat, akan membuatnya sosoknya semakin kokoh dan berwibawa. Setelah pelbagai kasus besar yang urgen bisa selesai, kita harapkan KPK akan hadir membongkar gurita-gurita korupsi dalam tubuh persepakbolaan nasional kita.

Sebagai suporter, saya imbau agar organisasi-organisasi suporter sepakbola Indonesia ikut bangkit sebagai kekuatan positif, dengan mulai mengasah diri untuk menjadi sosok Suporter 2.0.

Dapat diibaratkan bahwa Suporter 1.0. mewakili era suporter yang kreatif dan atraktif seperti digelorakan antara lain oleh Pasoepati di tahun 2000, maka Suporter 2.0. harus memanfaatkan kedahsyatan media-media sosial di Internet sebagai sarana aktualisasi kiprah positif mereka.

Termasuk pula menjadi anjing penjaga, watch dog, yang secara kritis mencatat dan melaporkan jalannya roda manajemen klub yang ia dukung untuk diangkat sebagai wacana publik demi terselenggaranya proses check and balances dalam meraih kebaikan dan kesuksesan bersama.

Selamat menikmati Piala Dunia 2010. Sekaligus mari kita banyak belajar dari negerinya Nelson Mandela ini !


Wonogiri, 28/12/2010

Monday, 27 December 2010

Dukacita

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un
Telah meninggal dunia ayah, guru kita tercinta Bapak Diarko (ayah mas Siswadi) tadi pagi jam 8.00 di RS Muhammadiyah Bandung. Jenazah rencana dimakamkan di Wonogiri. Untuk informasi selanjutnya dapat menghubungi mas Anto di 08172831942 atau Mas Siswadi di 081322105413. Kami mengucapkan turut berduka cita semoga almarhum diampuni segala kesalahannya, diterima amal baiknya dan diberikan tempat yang layak disisiNya. Amiin.

Sunday, 19 December 2010

Danar, Jamasan Keris dan Perang Budaya Di Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Bupati Danar Rahmanto kini lagi sibuk.
Melunasi hutang-hutang dan janjinya.
Kegegeran pun terjadi.

Surat kabar berbahasa Inggris The Jakarta Globe (25/11/2010), telah menulis berita terkait keputusan mas bupati baru kita itu. Bahkan berita ini berhari-hari menjadi topik favorit pembacanya.

"Tunduk kepada tekanan organisasi berbasis Islam konservatif lokal, bupati baru Wonogiri di Jawa Tengah telah mencabut dukungan pemerintahannya sebagai penyedia dana dan hal lainnya bagi penyelenggaraan peristiwa budaya tradisional setempat."

Alasan Danar, ia melakukan hal itu sebagai wujud pelunasan hutang secara moral dan memenuhi kontrak politik yang ia sepakati dengan pelbagai organisasi Islam dan tiga partai politik, yaitu Partai Gerindra, PAN dan juga PPP.

"Saya hanya akan menghapus tiga penyelenggaraan peristiwa budaya dari anggaran pemerintah, tetapi tidak akan melarang warga Wonogiri yang akan menyelenggakannya dengan dana mereka sendiri," tegas Danar Rahmanto.

Tiga peristiwa budaya itu adalah Tradisi Jamasan Pusaka yang rutin diadakan setiap bulan Sura/Muharam di Waduk Gajah Mungkur (WGM). Demikian pula acara tradisi seperti Larung Ageng di Pantai Sembukan dan Sedekah Bumi di Kahyangan, Tirtomoyo.

Jawa lagi bunuh diri. Seorang pembaca bernama "John Kramer" menulis pendapat yang sinis atas keputusan itu.

"Danar dan orang-orang dibelakangnya adalah mereka yang kacau dalam memahami mana yang bagian dari agama dan mana yang bagian dari adat istiadat suatu tradisi. Kami semua mampu melihatnya secara jernih. Mereka itu seharusnya juga mempromosikan Pancasila tetapi tanpa slogan 'Bhinneka Tunggal Ika' sejak sekarang, karena ini akan membingungkan orang dalam melaksanakan perintah 'satu agama sejati' mereka."

Pembaca lainnya "jeprince977" nimbrung berkomentar. Lebih galak. "Inilah tanda-tanda bahwa Indonesia mengalami pelemahan dan pembusukan dari dalam. Dan penyebab utamanya, sebagaimana orang melihat pelbagai bukti yang tersaji, adalah Islam radikal.

Siapa lagi yang mempromosikan kekerasan, pengrusakan, kebencian, dan terutama upaya mereka untuk menghancurkan keindahan khasanah budaya yang ada."

Muncul pendapat menarik, yang berupa kritikan tajam dan pedas kepada orang Jawa sendiri. Adalah "MoGei" yang menulis : "Sungguh menyedihkan melihat banyak dan banyak lagi orang Jawa yang nyingkur, membelakangi akar budaya mereka sendiri.

Secara pribadi saya tidak menyalahkan Islam dalam hal ini. Masalahnya adalah semakin banyak orang Jawa menelantarkan dan menolak identitas budaya mereka sendiri. Tentu saja selalu ada pengaruh dari luar, tetapi sisi internal, mentalitas (kebanggaan diri) akan selalu menentukan ketangguhan bangsa bersangkutan.

Apakah atas nama agama atau globalisasi, melalui cara kekerasan atau cara damai, orang-orang Jawa sekarang ini sedang membunuh warisan budaya mereka sendiri. Dalam pendapat saya, sebagian besar orang Jawa memang tidak memiliki kebanggaan sama sekali terhadap budaya mereka sendiri."

Wonogiri bergolak. Keputusan Danar Rahmanto itu memicu gejolak. Mantan Kepala Dinas Pariwisata (Diparta) Wonogiri, H Mulyadi menilai prosesi jamasan pusaka sudah telanjur dikenal di luar negeri. Karenanya dia menyayangkan penghapusan tradisi budaya jamasan dan ruwatan tiap bulan Muharram atau Sura di Wonogiri.

Seperti dilaporkan oleh koran lokal Solopos, Mulyadi yang juga mantan Sekretaris Daerah itu mengaku kegiatan jamasan dan ruwatan di Waduk Gajah Mungkur (WGM) telah dipromosikan ke lima negara, yakni Australia, Malaysia, Singapura, Thailand dan AS.

"Turis mancanegara tertarik soal budaya dan kegiatan jamasan atau ruwatan pusaka Mangkunegoro I di WGM telah kami usulkan sebagai event internasional," ujarnya.

Diskusi yang sempat membuat "hawa panas" di Wonogiri itu akhirnya memperoleh solusi. Acara itu akhirnya tetap akan dilangsungkan, hari ini. Minggu, 19 Desember 2010.

Tetapi sebagaimana diwartakan oleh situs Radio Komunitas Gunung Gandul, berbeda dengan saat Begug Poernomosidi masih menjabat dengan terjun sendiri memimpin kirab, kini bupati dan jajarannya hanya sebagai penonton di panggung kehormatan. Acara itu diselenggarakan oleh Himpunan Keluarga Mangkunegaran (HKMN).

Citra Wonogiri. Sebagaimana kata presiden AS ke-15 James Buchanan (1791-1868), "I like the noise of democracy" , saya menyukai gaduhnya demokrasi, saya juga tertarik mengikuti kegaduhan dan "perang budaya" di Wonogiri ini.

Berbeda dibanding era Begug yang kemratu-ratu, yang dirinya suka memposisikan diri sebagai raja kecil, antara lain yang oleh para pegawai pemkab sering didaulat dengan sebutan feodal seperti Gusti Kanjeng, nampaknya Danar ingin menghapus citra-citra feodal itu. Seperti dalam spanduk-spanduk kampanyenya, ia ingin mencitrakan diri sebagai bupati yang merakyat.

Danar Rahmanto, sebagaimana tindakan biasa penguasa baru, memang senantiasa berusaha menghapus bayang-bayang pemerintahan sebelumnya. Aksi "de-begug-isasi" itu sedang ia gencarkan mulai saat ini. Termasuk yang segera nampak : mengubah tampilan bangunan di depan halaman kabupaten Wonogiri.

Bagi saya, penghapusan dukungan Pemkab Wonogiri bagi penyelenggaraan peristiwa budaya, dalam satu sisi, merupakan kabar baik. Inilah saatnya, walau mungkin harus tertatih terlebih dahulu, kekuatan sipil yang harus tampil ke depan sebagai motor untuk gerakan yang mereka antepi sendiri.

Lupakan pemerintah. Jangan tergantung melulu kepada pemerintah. Sebab seperti kata David Cameron, PM Inggris saat ini, "pemerintah itu makin lemah dan makin lemah, dan rakyat dengan dukungan teknologi komunikasi dan informasi, akan semakin menguat dan menguat posisinya."

Kirab 1000 Komputer. Teknologi komunikasi dan informasi. Itulah salah satu obsesi yang selalu mengusik saya, ketika bupati lama setiap kali menyelenggarakan acara-acara budaya yang menjadi klangenan dirinya.

Sebagai warga Wonogiri yang ingin ikut urun rembug, saya telah menulis surat pembaca ("itu yang bisa saya lakukan"), terkait bobot kecenderungan dirinya yang berorientasi ke masa lalu dan tabrakan dengan pemikiran pentingnya orientasi warga Wonogiri dalam melangkah menuju masa depan.


Kirab 1000 Komputer
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah,
Kamis, 13 April 2006

Setelah wayang, tahun ini UNESCO menetapkan keris Indonesia sebagai maha karya dunia. Saya tidak tahu apa dengan alasan itu Pemkab Wonogiri (12/2) menyelenggakan ritus jamasan pusaka dan diikuti kirab 1.000 keris. Pelaku kirab adalah siswa SLTP/SLTA Wonogiri yang hanya berbaris pasif, tanpa seni happening, dengan masing-masing membawa sebilah keris.

Kirab itu berkesan hanya sebagai acara tempelan. Jauh dari praksis memberikan penyadaran atau edukasi. Karena sama sekali tidak ditunjang dengan kegiatan ceramah, diskusi, pemutaran film, lomba karya tulis sampai workshop pembuatan keris sebagai karya seni dan warisan budaya.

Intinya, merupakan kegiatan edukatif menjauhkan generasi muda Wonogiri dari pemikiran gugon tuhon seputar keris yang kental berselimutkan aura mistis, misterius, yang disebarluaskan dari mulut ke mulut atau sinetron. Ingat kasus penipuan menyangkut jual-beli keris yang dianggap sakti dan bertuah yang menimpa seorang cerdik pandai asal Semarang.

Alangkah idealnya bila selain kirab 1.000 keris juga disertai kirab 1.000 buku favorit pelajar, sampai kirab 1000 komputer di Wonogiri. Generasi muda Wonogiri harus pula diajak untuk berorientasi ke masa depan.

Kalau kirab keris hanya sebagai tempelan acara ritus jamasan pusaka yang disukai generasi-generasi tua, apalagi kental bernuansa aura mistis, generasi muda Wonogiri tidak memperoleh manfaat apa-apa.

Terutama lagi bila dikaitkan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Wonogiri. Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal tanggal 7 Desember 2004 telah menyajikan data pahit : dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah ternyata Wonogiri termasuk sebagai daerah tertinggal.

Ngelus-elus dan menjamas keris saja jelas tidak menyumbang perubahan apa-apa !

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612


Anda sebagai Warga Wonogiri, bagaimana pendapat Anda ?
Setelah gebrakan seperti ini, apa saja harapan Anda terhadap Mas Bupati kita itu terkait program untuk meningkatkan SDM Warga Wonogiri, yang selalu ia katakan ingin meningkatkan martabat warga Wonogiri ?


Wonogiri, 19 Desember 2010

Friday, 26 November 2010

SELAMAT HARI GURU ..........


Umar Bakri, Umar Bakri pegawai negeri
Umar Bakri, Umar Bakri 40 tahun mengabdi

Jadi guru jujur berbakti memang makan hati


Umar Bakri, Umar Bakri banyak ciptakan menteri

Umar Bakri, profesor dokter insinyur pun jadi

Tapi mengapa gaji guru Umar Bakri seperti dikebiri


penggalan lirik lagu yang mengawali tulisan ini rasanya sudah tidak asing lagi bagi banyak orang, termasuk kita.
Oemar Bakri yang melambungkan nama Iwan Fals, bercerita tentang sosok guru jujur tapi bernasib tragis justru karena memilih hidup yang lurus.

Hahahahaha ...... wis kudune ora sah nggambleh, waton njeplak wae .... aku ora arep menggurui seperti ini karena nasib Umar Bakri sudah banyak orang tahu.

Jarene setiap tanggal 25 November, kita (seharusnya) memperingati hari guru. sayangnya, kita kerap lupa, atau sengaja melupakan, bahwa setiap bulan November ada hari guru yang diperingati secara nasional, jangankan mengingat jasa-jasanya, kita bahkan tidak pernah menganggap sosok guru sebagai individu-individu yang berperan besar dalam "melahirkan" orang jadi menteri, dan bupati seperti DANAR RAHMANTO, profesor, dokter, insinyur, atau apa pun seperti yang disenandungkan Iwan Fals.

Zaman memang telah berubah.
Gambaran guru seperti yang diungkapkan Iwan Fals dalam Umar Bakri rasanya tidak lagi sama dengan sosok guru zaman sekarang.
Di zaman Umar Bakri mungkin masih banyak guru yang datang ke sekolah dengan mengayuh sepeda butut koyo bapakku, iso duwe sepeda motor uthuk uthuk yo ndadak golek utangan nyang Koperasi SEMANU (jaman semono Koperasine keluarga SMP Negeri 1 Wonogiri).
Guru zaman sekarang, seperti kita tahu, banyak yang bermobil ke sekolah. Kita juga tahu, gaji guru zaman sekarang tidak lagi dikebiri.
Pendek kata, kehidupan guru tidak lagi memprihatinkan. Paling tidak, guru-guru yang mengajar di sekolah ternama di kota-kota besar.


Selamat Ulang Tahun para guru, mantan guru dan juga termasuk pensiunan guru ......
tetaplah berkarya untuk membangun negeri, mencetak manusia manusia yang ber budi pekerti,
biar tidak jadi tukang KORUPSI dan juga tukang ngapusi, opomeneh dadi gali
.........