Thursday, 23 October 2008

Filosofinya adalah ......

Lebaran lalu sebenarnya tidak tebersit niat merencanakan pertemuan dengan teman-teman alumni SMPN 1 Wonogiri lulusan 1981. Ketika itu saya cuma mengontak Mas Nasih, saya akan berada di Wonogiri selama dua hari. Saya bertanya lewat e-mail, apakah beliau juga akan berada di sana, sehingga siapa tahu bisa ketemu setelah sekitar sebulan sebelumnya kami jumpa tak sengaja di Semarang.

Di tengah kesibukan saya mengikuti pertemuan keluarga pada hari pertama Lebaran, beliau mengabarkan Mas Tahid juga ada di Wonogiri. Saya pun mengusulkan bertemu dengan alternatif tempat di alun-alun atau alas Kethu (wong ora nggenah, malem-malem kok janjian ketemu di alas). Tanggal 1 Oktober sekitar pukul 21.30 akhirnya kami berkumpul di rumah Suryo si jago catur berkaca mata tebal itu.

Puluhan tahun tak ketemu tentu saja ngobrolnya jadi gayeng. Terutama ngrasani teman-teman dan para guru (jangan khawatir, ngrasani yang baik-baik kok). Sayang, cuma berempat. Tapi mau menambah jumlah anggota geng tidak mungkin, karena sama sekali tak pegang nomor yang bisa dikontak. Mungkin kalau disamperin di rumahnya satu per satu bisa, cuma karena malam-malam kok tidak etis.

Dari ngomong-ngomong itu ternyata Mas Nasih yang jenius itu melangkah lebih jauh. Ia menerjemahkan secara brilian rerasan kami untuk merencanakan pertemuan pada Lebaran tahun depan anggota geng lebih banyak lagi. Hebat, hebat, hebat ..... calon doktor ilmu tanah dan dosen Fakultas Pertanian UGM itu langsung bikin blog (padahal awalnya saya sempat merasa begitu percaya diri sebagai pioner blog di antara sesama rekan alumni 1981, ternyata keliru besar !).

Saya jadi takut, jangan-jangan beliau telah membaca jalan pikiran saya, rencana-rencana saya, dan impian-impian saya di masa depan. Di antara rekan-rekan juga telah berembus kabar mengenai rencana ''reuni'' tahun depan. Sejauh ini tanggapan mereka sangat sangat baik, dan itu amat membahagiakan hati saya (semoga juga membahagiakan hati semua teman yang kini telah menyebar di mana-mana dengan berbagai profesinya).

Minimal, hubungan pertemanan yang selama ini ''mati suri'' kembali hidup. Saya dengar, teman-teman yang sama-sama berdomisili di Wonogiri kini asyik saling telepon. Alhamdulillah, cita-cita Mas Nasih, Mas Tahid, Mas Bambang Supriyadi, dan Mas Suryo sudah tercapai sebagian. Pokoknya, seneng dan happy-lah.

Namun saya ingin menjernihkan soal ''reuni'' tahun depan. Sejak awal saya ingin berlangsung tidak formal, tidak memaksa, dan tidak menimbulkan salah paham atau ''kekacauan'' baru. Saya tidak ingin memakai kata ''reuni'', sebab selama ini kata itu hampir selalu diidentikkan dengan pamer kesuksesan.

Saya ingin teman-teman menyambung kembali tali silaturahim dalam posisi nol sebagaimana ketika masih di SMP dulu. Jadi kita bertemu dengan semangat kekeluargaan, guyub, dan gotong royong (walah, apa iki, kayak pelajaran PMP saja). Bahkan kalau perlu tempatnya di alun-alun atau plasa Waduk Gajahmungkur. Saya bayangkan kita ramai-ramai jalan sehat, jalan santai, dan syukur bersama keluarga masing-masing.

Itulah filosofi awal saya ketika terbetik niat ngumpulke balung pisah (pinjam istilah Mas Nasih), siapa tahu bisa dibuat thengkleng yang nyamleng hehehehehe ...........
Sekali lagi saya perlu berterima kasih kepada the Man from Giritontro yang telah menerjemahkan ide kami secara cerdas, bahkan disertai upaya spionase lewat agen beliau di SMPN 1 Wonogiri. Salam untuk semua rekan-rekan, dan saya tunggu komentar serta pemikiran di blog kita ini.

3 comments:

Nasih said...

Aja nganti kalah, ning aja ngalahke... itu sebuah pepeling yang perlu diugemi sebagai ciri wong wonogiri.
Jangan sampai kita ini menghambat seseorang untuk maju. Karena kita dapat maju bersama-sama menuju bintang impiannya masing-masing.
Karena semakin ke atas, langit itu makin luas saja.

Nasih said...

Reuni yang gegap gempita misalnya dapat dilihat di Trah Martowirono Ke-22 Di Wonogiri

mujtahid said...

Setuju Ben, diatur wae sing apik piye. Percaya aja, selama masih ada Nasih cekake beres