Friday, 21 November 2008

Beno-Mincuk: Rivalitas yang Romantis


TANGAN ini begitu gatal membaca komentar dan posting menggelitik yang menyinggung ''pasangan'' paling populer di blog ini: Beno-Mincuk.
Mas Tahid, Mas Nasih, Mas Bambang Sup, Mas Anto, dan lainnya selalu nggasaki dua nama itu. Dari kelakuan jaim-lah, insiden balsem, nggak berani ngomentari fotolah, dan seterusnya. Harus kuakui, kami sungguh merupakan pasangan antik.
Ketika teman-teman asyik menjodoh-jodohkan, kami justru menciptakan rivalitas tersembunyi: berlomba-lomba mencapai prestasi terbaik.
Kusebut sebagai rivalitas yang romantis, karena guru kelas VI SD Wonogiri 8 waktu itu (kalau tak keliru Pak Marino) justru menempatkan kami pada satu bangku.
Setelah SMP rivalitas itu masih ada meskipun intensitasnya agak turun. Pokoknya, aku nggak boleh kalah sama pesaing abadiku itu !
Namun akhirnya aku kalah telak ketika pertengahan tahun 1980-an (ralat: akhir tahun 1980-an atawa mendekati 1990) mendengar kabar dia telah menikah, sedangkan aku masih menggelandang mencari jati diri.
Setelah itu, ada sesuatu yang hilang, ada semacam perasaan kurang bisa menerima (maksudnya, kenapa dia menyalip di tikungan pertama), dan macam-macamlah.
Namun segera kupupus dengan pertanyaan: apa hubunganku selama ini dengan dia, kecuali teman sebangku di SD serta teman lain kelas di SMP dan SMA ?
Waktu pun berganti. Kini, apa lagi yang bisa kuperbuat selain menertawakan semua kenangan yang telah lewat itu. Termasuk rasa ''memiliki'' yang amat egois: jauh tapi dekat dan dekat tapi jauh.
Sembari masih ketawa aku membayangkan apa jadinya jika aku benar-benar jatuh hati padanya, dan sebaliknya dia juga sungguh-sungguh jatuh hati padaku. Apa jadinya, coba ?
Beruntung, di antara kami ada ''jurang'' yang barangkali sengaja kami ciptakan sendiri, sehingga tak mengherankan kalau nggak pernah ketemu.
Terus terang, dulu aku menganggap dia tak bakalan bisa kuraih akibat penyakit yang baru sembuh ketika mulai menikmati bangku kuliah: inferiority complex, rendah diri !
Tentu saja kami tidak kecewa atau apalah namanya, karena justru itulah yang menyebabkan aku amat menghormati dia. Betul, jangan ketawa: aku amat menghormati dia ! Bahkan lebih dari itu, kami jadi saling menyayangi dari jauh. Lucu ya.
Jadi, tidak aneh kalau Mas Tahid berkomentar bahwa aku berperilaku sopan dan jaim ketika menghadapi Mbak Mincuk (baca posting Jaim ?).
Menurut aku, hingga kini kami merupakan pasangan paling populer di blog kita ini. Siapa yang tidak setuju? Wuahahahahahaha ........................................

4 comments:

Nasih said...

Namun akhirnya aku kalah telak ketika pertengahan tahun 1980-an mendengar kabar dia telah menikah, sedangkan aku masih menggelandang mencari jati diri

perlu diperjelas :
menikah di pertengahan tahun 1980
menikah sekitar tahun 1985

secepat itukah menikah ?

Susilo said...

cerita apapun rasanya tetap menghanyutkan karena beno.

Mincuk said...

yaah gimana lagi mas Nasih... ? sudah ada di depan mata sih...., banyak lo yang nertawain saya, tapi aku cuek aja, asalkan aku masih bisa kuliah n cari ilmu yang aku gemari. aku kan juga tidak mau kalah dengan rivalku sejak SD, jelek-jelek yaah tidak kalah ilmunya... benar kan mas Beno ? nah hasil karyaku yang pertama sekarang br saja Wisuda.ayoo.. siapa yang mau jadi besan dengan aku ( looo....! kok kaya jualan aja .ueeeenak loo nikah duluan.Mas beno siiiiih yang terlalu perhitungan, kalah.( hahaha.... )

Nasih said...

Saya dengar, Rinawati (sekarang Salatiga) juga sudah mewisudakan 2 anaknya seperti Mincuk,

selamat ya ...