Thursday, 27 November 2008

Berbagi kegembiraan

Orang pasti dengan mudah berkomentar miring tentang apa yang dilakukan motivator Tung Desem Waringin ketika menyebar uang senilai Rp 100 juta. Beberapa hari sebelum aksi dimulai, dia sudah memberikan keterangan akan menyebar uang di sebuah lapangan. Lalu, diuruslah berbagai izin, termasuk tentu saja izin lokasi di Stadion Baladika Kesatrian, Serang Banten.

... dia hanya ingin berbagi kegembiraan di saat sebagian besar masyarakat sedang muram dengan kenaikan harga berbagai kebutuhan yang melangit. Berbagi kegembiraan dalam memperebutkan uang lembaran pasti heboh, karena mereka dilakukan dengan suasana riang. Tidak muram. Jika hanya berbagi kegembiraan, maka aksi Tung masuk kategori kegembiraan jenis yang berbeda. Tidak biasa. Bukankah juga hak setiap orang untuk berbagi kegembiraan bersama, dan cara itulah yang ditempuhnya.

Berbagi kegembiraan dengan cara yang tidak biasa, sama artinya melakukan sesuatu yang tidak biasa pula. Inilah yang biasa dikerjakan oleh para motivator. Jika kita memahami cara motivator bekerja, maka aksi sebar uang itu bisa diterjemahkan pula sebagai ajakan untuk melakukan hal yang tidak biasa di tengah krisis tetapi masih dalam koridor bisa diterima nalar dan tidak melanggar hukum. Jadi, di dalam aksi itu ada muatan motivasi, kegembiraan, amal, dan juga mungkin pendidikan dan pengajaran. Kalau yang biasa disebar via pesawat adalah pamflet yang berisi imbauan, agitasi, dan sejenis, tetapi kini ada orang yang menyebar duwit dan membagi kegembiraan.
...
Sumber: TD Waringin

3 comments:

A N T O said...

Nek aku krunngu tak kon transfer neng rekeningku wae yo, lumayan iso dinggo ngajak mas Tahid foto neng studio...

Beno said...

Kanggoku, nyebar dhuwit di tengah kemelaratan yang makin merata tetap perbuatan koya, kurang beradab, dan ugal-ugalan.
Ketimbang begitu kan lebih baik disumbangkan secara baik-baik.

mujtahid said...

Aku kagum sama njenengan2 yang selalu punya sikap dalam melihat sesuatu (nasih pro, beno kontra). Sifat terjelekku dari dulu yang selalu pingin kuhilangkan yaitu ... selalu plin plan dalam bersikap ... argumen Beno bener, pendapate Nasih juga masuk akal ... aku coba berpendapat : berbuatlah (contohlah) kedermawanan dia ... baru kita kririk caranya!