Tuesday, 11 November 2008

Di Balik Minuman Isotonik

Minuman isotonik semakin gencar menyerbu pasaran.
Melalui iklan, produk ini dicitrakan mampu mengganti cairan tubuh yang hilang dalam waktu singkat. Di balik kesan kesegarannya, minuman isotonik dapat berbahaya apabila dikonsumsi sembarangan. Sebuah iklan minuman isotonik di televisi mengatakan, ion di dalam isotonik mampu menjaga kelembapan kulit dan tubuh lebih baik daripada air biasa. Iklan lain menyebutkan, kehilangan dua persen cairan tubuh akan menurunkan stamina dan konsentrasi.

Dosen pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, Fransiska Rungkat Zakaria, mengatakan, iklan produk isotonik sebagian menyesatkan masyarakat. Di iklan, seolah-olah isotonik bisa diminum siapa saja dan dalam kondisi apa saja. Padahal, Fransiska mengingatkan, isotonik tidak bisa dikonsumsi sembarangan karena minuman ini mengandung garam natrium (NaCl).

" Coba perhatikan labelnya, pasti ada kandungan Na dan Cl nya," tutur Fransiska. Ia menambahkan, minuman isotonik itu tidak lain adalah larutan garam. Oleh produsennya, larutan itu kemudian diberi tambahan zat lain, seperti vitamin. Ion yang disebut-sebut sangat bermanfaat bagi tubuh sebenarnya juga tidak hanya terkandung pada isotonik. Setiap garam yang dilarutkan dalam air, kata Fransiska, pasti akan berubah menjadi ion Na dan ion Cl.

" Jadi, ion yang terkandung dalam sayur lodeh dengan ion dalam isotonik itu sama saja," tutur Fransiska. Karena berisi garam, isotonik tidak boleh diminum sembarangan. Apabila berlebihan, kadar garam dalam tubuh akan menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. " Bila sudah kena hipertensi, tinggal menunggu saja
bagian tubuh mana yang jebol duluan," kata Fransiska.

Dari makanan apabila tubuh kita berkeringat, natrium dan klorida yang terkandung dalam cairan tubuh ikut keluar melalui pori-pori kulit. Jika kedua zat itu tidak digantikan, sel-sel tubuh kita lama-lama akan rusak dan mati.

Persoalannya, dari manakah zat natrium dan klorida itu diperoleh ? Apakah harus dari minuman isotonik? Jawabannya, tidak.

Menurut Fransiska, makanan yang kita konsumsi sehari-hari sudah cukup untuk menggantikan natrium dan klorida yang keluar bersama keringat. " Setiap kali masak, kita selalu menggunakan garam. Itu sudah cukup untuk mengganti garam yang keluar dari tubuh. Bahkan berlebih," papar Fransiska. Ia mengingatkan, dalam kondisi normal, tubuh orang dewasa hanya memerlukan 2,3 gram natrium per hari, sedangkan klorida hanya 50-100 mg.

Pada anak-anak, kebutuhan dua zat itu lebih sedikit dibandingkan dengan orang dewasa. Apabila kita memasak tanpa garam, kebutuhan natrium dan klorida juga sudah bisa dipenuhi dari bahan makanan.. Ia mencontohkan, 1 ons daging merah mengandung 70 mg natrium, sementara setiap 10 ons nasi mengandung 10 mg natrium.

Bahan makanan lain, seperti telur, daging ayam, kacang-kacangan, buah, dan sayur, juga mengandung natrium.
"Karena itu, pada kondisi normal, kita tidak perlu lagi mengganti cairan tubuh dengan isotonik," kata Fransiska. Fransiska mengingatkan, isotonik lebih cocok dikonsumsi atlet yang menggeluti olahraga berat. Pada atlet olahraga berat, kebutuhan sodium memang lebih tinggi dari orang biasa, yaitu 5-7 gram per hari. Meski begitu, sebaiknya dihitung lebih dulu apakah natrium dan klorida yang dibutuhkan atlet bersangkutan sudah cukup didapat dari makanan yang dikonsumsi. Bila masih kurang, boleh saja ditambah dengan isotonik.

Di negara maju, kata Fransiska, ada lembaga yang meneliti dan menghitung berapa jumlah natrium pada makanan yang dikonsumsi atlet. Hasilnya, menu makanan yang dihidangkan tiga kali sehari itu sudah mengandung 6 gram natrium.

Mengecoh
Meski isotonik tidak boleh dikonsumsi sembarangan, beberapa iklan produk isotonik justru memakai model orang biasa (bukan atlet) sebagai konsumen isotonik. Minuman isotonik itu juga ditenggak pada kondisi biasa saja, seperti terjebak macet yang tidak selalu identik dengan keluarnya ion-ion tubuh secara berlebihan. Bahkan disebutkan, tanpa menyebut kondisinya, isotonik lebih baik dari air biasa.

Menurut Fransiska, iklan semacam itu sangat menyesatkan masyarakat. Produsen boleh saja menarik pembeli dengan iklan yang kreatif, tetapi dalam iklan juga harus dicantumkan informasi yang jelas, bukan informasi menyesatkan. Produsen seharusnya juga mencantumkan peringatan minuman itu mengandung garam. Agar konsumen bisa mengambil keputusan terbaik, harus disebutkan pula berapa jumlah garam yang dibutuhkan
manusia per harinya. " Memang produsen akan ribut. Kalau label itu diberlakukan, produk mereka tidak akan
laku. Meski demikian, jangan karena kepentingan ekonomi, kesehatan masyarakat dipertaruhkan, " kata Fransiska.

Jadi, meski kelihatannya menyegarkan, hati-hati bila ingin mengonsumsi isotonik, semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua....


Salam,

Eko Hary

11 comments:

Nasih said...

Kalau tubuh kita lagi ngedrop mending buat juz buah segar, selainnya alami juga membantu petani ...

Eko Hary Sukyanto said...

he...3 iya mmg bener, tuh nyatanya skr semakin banyak nama penyakit yg waktu kita kecil dulu tidak / belum pernah terdengar

Nasih said...

haloo teman-teman dinkes kasih komen ya ...

mujtahid said...

Seneng banget nambah teman yang nimbrung buat ngobrol. Meskipun belum pernah sekelas tp aku masih ingat2 dikit waktu itu ... tp kalau liat fotonya sekarang di belakang kemudi ... ketemu di jalanpun jelas ga kenal lagi. Ayo mas teman2 lain diajak buat ngobrol biar awet muda kata Nasih

Bambang Supriyadi said...

Wah seneng banget ketemu lagi sama Anto, inget gak tok waktu latihan nari di bu .... lali aku. Sama kenthut, wardoyo dan dirimu kita nari kelinci di balai desa.... wah ituberapa tahun lalu ya, kalau masih ada fotonya kirim ya Tok. Sekarang dirimu tinggal dimana?

Salam dari Bali
Bambang

Eko Hary Sukyanto said...

Met siang Mas Mujtahid n Mas Bambang sdh pada lunch blm neh... Iya waktu hari minggu aku ke tempat Mas Patrem untuk loundry n dia cerita ttg komunitas tmn2 yg pada ngeblog ll aku di berikan alamat blognya. Hari senin aku cari blognya sesuai lmt yg aku terima tp ga ketemu2... Akhirnya aku search di google dan suenengnya ketika ketemu he...3, Hanya kmrn karena pekerjaan aku ga sempat ksh comment apa2. Aku sangat ingat dg Mas Bambang (jg ttg latihan menarinya he...3), Mas Tahid, Mas Nasih,Mas Beno, Mas Patrem, Mas Susilo, tp bener kata Mas Tahid kali klw ketemu di jalan ada kemungkinan pangling yah ha...3. Trus semlm aku dikontak Mas Nasih via sms n meminta sy untuk ikt ngisi blog kita bila ada materi, ll td pagi Mas Nasih jg sempatkan call aku.
Btw aku sjk 95 kerja di Air Mancur dadi buruh pabrik sampai skr, klw plg wngr mampir yah ke Jl. Sadewo III / 23...

Nasih said...

kapan-kapan digawak-ke lan digawek-ke jamu sing marahi singset ya ...
khusus kanggo Beno jamune sing kuat bercagak malam (beno = batman = manusia kalong) yen wayah ngene iki lagi arep wungon ..

Bambang Supriyadi said...

Di Airmancur sempat ketemu sama Gede Prama gak? kalau gak salah sempat jadi CEO disana ya? Ibu kabarnya gimana An? aku belum dapat no tilp mu lho, Nasih kirim no tilp nya ya

Beno said...

Sugeng rawuh, Mas Anto. Ingat panjenengan, aku jadi teringat betapa bersemangat panjenengan menjodoh-jodohkan saya dengan Mbak Mincuk.
Ya dasar anak-anak, nggak jadi kan ?
Kalau saja tidak demikian, saya barangkali akan berani naksir Mbak Mincuk (sudah kubilang sama yang bersangkutan).
Titip Wonogiri ya, dijaga (walah, ngongkon !)

Eko Hary Sukyanto said...

Iya Mas Beno thx, jd bisa ngumpul2 lagi neh walau msh via blogger tapi Insya Allah bisa direncanakan to utk copy darat, syukur2 dlm jumlah yg lebih besar untuk alumni 81.. Kok yo inget aku karena Mincuk to ha...3

Eko Hary Sukyanto said...

Yap aku pernah dipimpin olh Gede Prama, lha mas Bambang kok kenal apa karena senasib ??? (podo2 bothak ha....3) Maaf br bls kmrn sore ga sempat buka blog...