Thursday, 13 November 2008

Gareng Pung


Saya jadi teringat artikel si suara merdeka beberapa tahun silam (selasa, 13 Juli 2004) mengenai sonic bloom untuk meningkatkan hasil panen, tapi ndak tahu apa sekarang ini masih ada petani yang memanfaatkannya ?
----

SEBUAH teknologi baru dalam mengelola pertumbuhan dan perkembangan tanaman kini mulai dirasakan manfaatnya oleh petani. Sonic bloom, teknologi baru dari AS untuk merangsang pertumbuhan tanaman yang diterapkan pada beberapa areal perkebunan sudah memperlihatkan hasil.

Contohnya terlihat pada panen kencur pada areal perkebunan seluas 2 ha di Desa Temon, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali yang dikelola oleh Jumari warga Glonggong, Kecamatan Nogosari, Boyolali. Selain itu, pada sekitar 2.000 m2 lahan jahe yang dikelola oleh Daryoko, Ketua Kelompok Tani Santi Mulyo Desa Samirono, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Mereka menggunakan sonic bloom tipe M1 atau untuk areal 2 ha. Ketika diperkenalkan tak sedikit petani yang "berteriak" karena harga alat tersebut cukup mahal. Begitu juga nutrisinya yang harganya mencapai Rp 1 juta/liter.

Tak mengherankan jika sampai saat ini belum semua petani bersedia menggunakan teknologi yang ditemukan oleh Dan Carlson tersebut.

Padahal menggunakan alat yang mengeluarkan bunyi seperti gareng pung (Dundupia manifera, serangga yang bunyi khasnya sering dipakai sebagai pertanda kemarau datang) pada pukul 08.00-10.00 akan membuka lebar-lebar stomata tanaman.

Pada waktu-waktu tersebut tanaman tengah melakukan proses asimilasi. Saat itu pula mulai disemprotkan nutrisi pada tanaman.

Dalam kunjungan lapangan yang dilakukan oleh Dinas Perkebunan Jateng beberapa waktu lalu didapat penjelasan dari petani kencur dan jahe yang mendapatkan keuntungan dari teknik tersebut.

Kunjungan lapangan diikuti antara lain Kepala Dinas Perkebunan Jateng Ir Siswanto dan staf ahli Gubernur Bidang Perkebunan Ir Nazaruddin Thoha.

Jumari menjelaskan dari 2 ha lahan yang disewa 1,5 ha efektif ditanami kencur dan sisanya untuk saluran. Bibit yang ditebar sejak Oktober 2003 dipanen awal pekan ini. Beberapa rimpang kencur sudah dia ambil untuk melihat hasil jerih-payahnya selama ini.

Berdasarkan perhitungan ketika dilakukan tinjauan lapangan modal yang dikeluarkan Jumari mencapai Rp 127,6 juta. Setelah dihitung hasil panennya dia mendapatkan untung Rp 135 juta.

"Sebenarnya teknologi ini tidak mahal karena hasilnya lebih baik," kata Nazaruddin.

Dia menambahkan penggunaan sonic bloom dalam menanam kencur membawa hasil berbeda dibandingkan dengan cara biasa.

Dengan cara biasa satu rimpang kencur hanya memiliki 6-7 umbi, tetapi dengan sonic bloom menghasilkan rata-rata 40 umbi dan lebih mentes dalam satu rimpang kencur.

"Kualitas umbi dan akarnya juga lebih baik, serta lebih memiliki daya tahan terhadap serangan hama. Jika untuk bibit maka hasilnya tentu lebih baik lagi," jelasnya.

Keunggulan lainnya adalah waktu tanam sampai panen lebih pendek dua bulan dibandingkan dengan cara biasa.

Pada bulan ketujuh daun kencur mulai mengering dan bulan kedelapan sudah siap dipanen. Jumari akhirnya berniat membeli alat tersebut karena sudah merasakan manfaatnya.

Sementara itu panen jahe gajah di lahan seluas 2.000 m2 yang disewa Daryoko hasilnya juga memuaskan. Dari lahan tersebut Sekdes Samirono, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang itu mendapatkan keuntungan empat kali lipat lebih. Dengan modal Rp 3.470.000 omzet penjualannya Rp 16 juta.

Keuntungan itu didapatkan dari 3.041 kg jahe gajah, 200 kg jahe emprit, lombok, ketela pohon, labu, dan jagung.

Kebetulan Daryoko menerapkan sistem tumpang sari pada lahan yang disewa. Waktu panennya juga lebih pendek dibandingkan dengan tanpa menggunakan sonic bloom.

"Saya sebenarnya masih penasaran. Apakah memang karena sonic bloom atau hal lain. Saya akan mencoba lagi dan berharap pemerintah mau membantu," tutur ketua kelompok tani beranggota 12 orang tersebut.

Meski penasaran, dia mengaku hasil panennya memiliki keunggulan. Antara lain tanamannya lebih tahan dibandingkan dengan yang lain. (Setiawan HK-82)

---

No comments: