Monday, 24 November 2008

LSC

Leila S. Chudori
Dia memang pengarang jempolan. Usia merambah, kreativitas bertambah. Masa kanak-kanak, Leila jadi pengarang cerita anak-anak, waktu remaja, jadi pengarang cerita remaja, dewasa, mengarang cerita sastra. Leila kecil mulai karirnya dengan membuat cerpen, kisah Sebatang Pohon Pisang, dimuat di majalah Kawanku tahun 1974. Habis itu karyanya rajin muncul di majalah tersebut dan majalah lainya seperti Kuncung.

Bakatnya dalam menulis memang sudah menonjol sejak kecil. Dia kepikiran untuk membuat animasi benda mati, menghidupkan botol, kursi, dan lain-lainnya sehingga bisa bicara, punya perasaan atau berkeluh kesah. Kemampuan Leila untuk menangkap sesuatu ini terus berlanjut seiring dengan umurnya, wawasannya berkolerasi dengan karya-karyanya. Ketika beranjak remaja dengan wawasan remaja dia membuat cerita remaja. Tetapi mulanya ia sempat tak yakin. Soalnya ia merasa tidak bisa membuat cerpen cinta-cintaan, ungkap Leila yang menurutnya lebih senang bikin cerita fiksi timbang artikel. Meski begitu, pada kenyataannya Leila dikenal sebagai pengarang cerita remaja.

Karyanya manis, menggemaskan, tapi tidak cengeng. “Saya tidak bisa membuat karya yang dibikin-bikin. Pokoknya apa yang saya fikirkan, saya tuangkan,” cetusnya. Untung yang dipikirkan Leila bukan cinta saja meski usia remaja lumrah berisi dengan warna-warna cinta. Ini tercermin dari keragaman tema cerita yang diproduksinya. Salah satu karya yang diingatnya, persahabatan seorang remaja dengan tukang koran. Itu tidak lazim dibuat pengarang remaja masa itu, yang umumnya senang membuat cinta-cintaan si tampan dan si cantik. Karya-karyanya banyak dipuji, terutama kumpulan cerpennya Malam Terakhir. “Semua kritik dan saran cuma efek dari karya yang muncul. Yang penting kita terus berkarya, dan tidak pernah merasa puas, banyak bertanya dan terus memperbaiki diri,” tegas Leila. Kiat ini memang digenggam Leila sejak kecil.

Sejak kecil dia sudah biasa berkumpul dengan pengarang terkenal seperti Yudhistira Massardi, Arswendo Atmowiloto atau Danarto. Tapi dia memang bukan perempuan yang pantang mundur, terutama untuk bidang tulis menulis yang diyakininya sebagai pilihan hidup dan karir. Karena itu, dia memilih karir sebagai wartawan. Kerjanya memang sungguh menyita waktu dan meletihkan, sehingga ia tak sempat lagi menulis cerita fiksi. Sempat mewawancarai tokoh-tokoh terkenal, yang kemungkinan tak bisa dijumpai kalau ia cuma sekedar penulis fiksi. Meski diakui karirnya sebagai pengarang cukup cemerlang, diminta ceramah, sampai diundang ke pertemuan pengarang Asia di Filipina. Tapi dia juga tak bisa menyembunyikan kegembiraannya sempat bertemu dengan Paul Wolfowitz, Bill Morison, HB Jassin, Corry Aquino dan menjadi satu dari 11 wanita Indonesia yang bisa makan siang bersama Lady Diana.

Jauh sebelum Leila berkecimpung di bidang jurnalistik, dia sudah sering mempublikasikan karangannya di berbagai media cetak bergengsi di Indonesia dan satu media berbahasa Inggris di Filipina, Solidarity. Perempuan kutu buku ini juga sudah menerbitkan sejumlah buku. Semuanya fiksi, ia memang jarang nulis artikel. Selagi kuliah ia mengaku cukup serius dan konsentrasi dalam studi, giat membaca buku-buku teks, sehingga tak punya waktu untuk menulis. Kalau sedang pulang ke Indonesia, baru ia bisa mengarang. Leila memang terus melaju di dunia tulis menulis. Terus belajar sampai kini. Ia sangat tidak percaya dengan bakat, bagi dia kata bakat itu mengandung misteri. “Manusia itu ditentukan oleh faktor internal dan eksternal. Kita harus menguji diri kita, punya jiwa seni atau tidak.” katanya. Bagi Leila, seorang pengarang itu memiliki kepekaan menangkap fenomena dalam dirinya yang kemudian diekpresikan lewat kertas.

“Kita harus mengadakan pendekatan pada kepekaan itu. Sesudah mengenal kepekaan itu, barulah dilanjutkan dengan proses edukasi, ya membaca, belajar dari pengalaman, menghayati kehidupan,” Bagi Leila, seni itu tidak diperoleh dalam pendidikan akademis, kecuali masalah politik dan ekonomi. Seorang pengarang berbakat itu tak ditentukan oleh kuantitas karyanya, tapi bobot karya itu sendiri. Pengarang yang terlalu produktif itu diragukan kualitas karya-karyanya. “Kapan sih kesempatannya untuk mengendapkan karyanya dan kemudian merenung. Lain halnya dengan Putu Wijaya yang benar-benar produktif, tapi terasa ada pengulangan-pengulangan tanpa disadarinya,”

Kekaguman Leila pada ayahnya Mohammad Chudori yang wartawan kantor Berita Antara itu, tak mampu disembunyikannya. Nama Leila S. Chudori pernah tercantum dalam daftar keanggotaan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 1993-1996, ia menegaskan bahwa sudah sejak lama ia menolak untuk duduk dalam keanggotaan itu.
---
Sumber: TIM

3 comments:

mujtahid said...

Selain penulis handal dia juga seorang psikolog hebat ... jawaban2 nya para rubik psikologi di Kompas Minggu sungguh bernas, ringan dan menggelitik. Selain segi intelektualnya, sisi kepribadiannya juga istimewa dan kaya warna ... menikah dengan tokoh Arief Budiman yang beretnis Cina, mengajar di UKSW Salatiga yang karena perbedaan prinsip kemudian keluar, tinggal di Australia ... pokoknya pribadi mandiri yang sungguh menginspirasi.

Beno said...

Mas Tahid keliru. Leila Chudori tuh sekarang wartawan senior Tempo. Kalau istrinya Arief Budiman kan Leila Chaerani, psikolog.

mujtahid said...

Oh beda to ... tak kira pada wae. Trims ya Ben atas infonya!