Tuesday, 18 November 2008

Lukisan Usang


di bawah lengkung langit kuning muda
tiga empat anak telanjang kaki
berlarian bersama serpih angin
sepanjang pematang sawah basah
tiga bukit menjulang memandang
bertumpu pada lembah-lembah
hijau tua sewarna purba
suara nyanyian di semua sudut
tumpah ke permukaan
dari jamuran dan cublak-cublak suweng
sampai dandanggula, megatruh,
dan pucung

: aku berdiri ngungun
di sini
antara ada dan tiada
sayup-sayup
semua melindap
ke bawah ketiak waktu
tanpa sisa

(kembali kusampaikan khusus kepada Mas Bambang Supriyadi)

Semarang, 18 November 2008

3 comments:

Nasih said...

sawahe wis dadi dalan tol

mujtahid said...

Trenyuh Ben aku ... kalau dah gitu aku terus nyetel langgan jawa :

Dek jaman berjuang ...
Njurkelingan anak lanang ...
Biyen nate janji ...
Gek saiki ana ngendi ...

Bambang Supriyadi said...

Trima kasih Ben, saya sudah salin ke file koleksi puisiku, aku tunggu yang lain ya