Monday, 10 November 2008

Mandiri Pupuk

Menanggapi posting Patrem, saya langsung kebelet nih
Numpang mimpi ya ...

Tolong diteruskan juga dengan gerakan "sapi-nisasi" [?]
[note: istilah yang nggombalisasi alias merusak bahasa, hayoo apa dong yang tepat untuk menggambarkan ghirah semacam itu. mungkin pengembang-biakan sapi ya]

Dalam setiap hektar lahan pertanian (setara) kita cadangkan 20% luas untuk pakan ternak secara terus menerus sepanjang tahun, terus sisa panen (jerami dsb.) dibuat awetan pakan sapi yang dikemas dalam bentuk kue untuk sapi. Nah bapak-bapak tidak perlu ke ladang mencari rumput setiap harinya, waktunya dapat untuk yang lain. Ibu-ibu yang perkasa dapat memberikan sepotong kue sapi tersebut di pagi hari dan sepotong lagi di sore hari. sambil membelai kepala sapi dan melantunkan tetembangan. Disertai memberi air minum yang diperkaya mineral dan dibumboni empon-empon. Agar makannya sengkut (dokoh, rakus) dapat ditambahkan permen sapi atau saus sapi.
Sapinya kadang-kadang perlu juga diumbar untuk memenuhi kaidah animal welfare ...

Sapinya dipelihara dalam kandang kelompok sehingga pengawasan dan kesehatan akan terjamin, faeces dan urine dibuat biogas, sisa cairan biogas menjadi pupuk cair, sisa padatan biogas menjadi pupuk padat. Urine juga dapat langsung dibuat menjadi pupuk cair. Urine dari sapi betina yang lagi bunting lebih jozz lagi. Demikian juga faeces dapat langsung atau dicampur dengan sisa-sisa organik, dikomposkan menjadi pupuk organik. Nah kalau ini dilaksanakan, kita dapat mandiri pupuk. Artinya tak perlu beli pupuk lagi. Cukup dengan daur ulang itu saja. Lebih lanjut, kita dapat membentuk pertanian dan produk organik. La kalau sapi yang dipelihara banyaknya betina atau sapi perah, kita dapat menghasilkan susu dan produk olahannya demi mencerdaskan anak-anak.

[note: huruf e pada faeces merupakan sumbangan dari Beno ahli faeces. TQ]

Sebetulnya masih banyak mimpi lain yang serupa ...
misalnya bagaimana kita membangun perkebunan Turi (Sesbania grandiflora syn. Aeschynomene grandiflora) yang dipetik pucuknya berkala seperti kebun teh itu lho, sebagai penghasil pupuk hijau, ini diusahakan di lahan kritis sekaligus sebagai usaha konservasi dan meningkatkan pendapatan wong dheso.
juga membuat aneka makanan untuk anak-anak dengan bahan dasar kacang, ingat kue satu atau bakpia patok,
tanaman legum yang akarnya memiliki bintil itu kan pabrik nitrogen (mereka mengikati Nitrogen bebas dari udara yang kadarnya N di udara itu sekitar 82%),

tapi sekian dulu ya ...
yang jelas rekan-rekan di Nogiri memang huebat.

:: Thanks untuk Eko Hary Sukyanto, tadi telah menengok blog tercinta ini namun belum sempat kasih komen atau posting. Wah dia sudah ancang-ancang posting foto yang serem-serem nampaknya. Jangan lupa nge-mail dulu ke smp1wng@gmail.com ya untuk dimasukkan sebagai penulis ::


8 comments:

Beno said...

Mau koreksi sedikit, Mas. Kotoran ternak itu faeces atau sering disingkat feces saja. Bukan faces. Kalau faces itu, rupaku !

Nasih said...

sudah terkoreksi, makasih ya

mujtahid said...

Aku jadi iri sama teman-temin kayak Imah, Nasih, Patrem, Beno dll yang ilmu dan sumbang sarannya bisa langsung diterapkan untuk kemajuan kampung halaman. Jadi sedih ... ihik ihik ... ilmuku ga berguna langsung untuk kampungku. Ingat Nur Rohman (Maman)? Ketemu terakhir di Bandung waktu masih kuliah. Selepas Teknik Mesin ITB dia kerja di IPTN (PTDI) ... mau nyumbang cara bikin pesawat terbang Man?

Bambang Supriyadi said...

Saya sempat belajar bertani organik Sih, sama petani di Bedugul. Sayuran organik harganya berlipat-lipat dibandingkan dengan sayur yg berpestisida. Limbah sapi selain untuk kompos juga diolah jadi bio gas, wah hebat bener petani itu. Kencingnyapun dipakai untuk menyiram rumput gajhnya dan bener2 subur.

Selain itu juga ada petani yg mengembangkan peternakan kambing dengan perkebunan kopi. Kotoran kambing dipakai pupuk, limbah kopinya (daging buahnya) diolah jadi makanan kambing.

Kalau kita bisa kembangkan pertanian dengan konsep itu, konservasi lahan terjaga, sayuran yg dihasilkan juga sehat.

Saya pelajari pertanian organik karena bisa dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata, dan masuk paket tour juga.

Ini salah satu ide yg bagus untuk pengembangan pertanian di Wonogiri. Tapi jangan salah untuk introduce system baru ke petani akan terganjal dari dinas2 terkait karena mereka sudah biasa jualan pupuk non organik. Maksudku sudah jadi salesnya perusahaan2 pupuk itu.

Piye Sih?

Nasih said...

Siap Jenderal. Ning tulung teman dinas dibujuki ya ... mereka itu susah-susah gampang

mujtahid said...

Usul langsung ke Imah wae mBang/Sih, biar dia yang ngatasi

Nasih said...

Hid, ketoke susah le mbujuki. Aku call dua kali, ning ketoke adem ayem.
saja. Coba temen-temen semuanya saaja mbujuki, mbok menowo gelem lilih ... he he ..

Beno said...

Mas Tahid, nggak usah kecil hati. Ilmu bangun roket tetap berguna untuk Wonogiri. Minimal untuk meroket munyuk-munyuk yang turun gunung itu ..... hehehehehehe.
Atau, untuk meroket rumah dinas bupati, biar nggak mengganggu Alas Kethu.
Pokoknya. pede ajaaaaaaa !!!!!!