Sunday, 16 November 2008

Mengapa Beno ?

Kalau pun aku sering menulis Beno, itu bukan ke-tidaksengaja-an. Maksude ben-ono, be exist.
Karena memang sesungguhnya sms Beno yang meskipun hanya sebaris itu, telah membuatku terobsesi (melihat peluang) untuk menyambungkan dengan rekan yang lainnya. Malam itu aku mendapatkan Tahid, dan Surya. Kalau pun aku belum menyebut nama yang lain, itu bukan karena ndak penting. Karena rekan yang lain harus bermain pada babak-babak berikutnya.

Saya kutipkan apa yang ditulis beno di blognya, Akhirnya...

Rabu malam 1 Oktober sekitar pukul 21.30 akhirnya bisa juga ketemu teman lama meski cuma berempat. Saya, Nasih yang sudah sejak sebelum Lebaran saling kontak, Tahid, dan Suryo.
Kami bertemu di rumah Suryo di Kajen. Wah ya ramai. Sayang tidak ada teman semasa SMP lain yang bisa dijawil untuk ketemu sekadar kangen-kangenan. Ketika ditelepon Susilo yang guru matematika itu ternyata ada di Solo.
Kami berempat pun akhirnya buka-bukaan. Terutama soal teman-teman putri yang menarik hati dan ditaksir. Nama-namanya ? Biar kami saja yang tahu, takut nanti menciptakan suatu ketersinggungan hehehehehe ......
Tahun depan ketemu lagi deh, dengan jumlah yang lebih banyak. Tidak perlu formal. Kan sudah tua-tua walaupun saya rasa semua masih merasa umur di bawah tiga puluhan.

"teman-teman putri yang menarik hati dan ditaksir" ... dimotori oleh Tahid (jadi sekarang jelaslah ya rekan-rekan, dialah biangnya)

Dan kalaupun blog ini tambah rame, tentu untuk memenuhi pula seruan beno, Apa yang bisa kita sumbangkan ?

Hayo, teman-teman yang masih merasa punya tanah kelahiran bernama Wonogiri, apa kira-kira yang bisa kita sumbangkan ?
Di sana sudah ada Mbak Imah yang jadi Kepala Dinas Pertanian, Mas Patrem, dan banyak lagi lainnya. Apa yang bisa kita titipkan pada mereka untuk sekadar menambah gereget pembangunan di Wonogiri ?
Soalnya, ketika ketemu Lebaran lalu ada rerasan bahwa Kota Gaplek tidak menunjukkan perkembangan berarti. Waduk Gajahmungkur yang diharapkan menjadi magnet pariwisata dan motor penggerak ekonomi ternyata jalan di tempat.
Gunung Gandul yang pernah lama menjadi ikon juga terabaikan. Padahal waktu saya kecil begitu populer dan dikunjungi banyak orang.
Kenapa ? Kenapa semua seperti mandek begitu saja ? Di mana para pemikir dan teknokrat ? Apakah cukup puas menjalankan rutinitas kerja ?
Hayo, teman-teman, apa yang bisa kita lakukan dan kerjakan demi kota yang tetap kita cintai sepenuh hati itu ?

Kenapa ? Kenapa semua seperti mandek begitu saja ? Di mana para pemikir dan teknokrat ? Apakah cukup puas menjalankan rutinitas kerja ? ... Ungkapan itu selalu menghentak menghantam kesadaran kita. Apa yang sudah kita perbuat, apa yang sudah kita berikan? Semoga rekan-rekan birokrat tersentuh dengan seruan tersebut.

Begitulah, mungkin kalau di masa-masa mendatang saya tetap banyak menulis beno ... beno ... beno. Ya memang dia pantas dan kuat sebagai bamper.

---
Tulisan ini menjelaskan mengapa dalam banyak posting saya menyebut nama beno.


1 comment:

Beno said...

Soalny, bukan apa-apa. Cuma ''rada risi'', seolah-olah nama itu mendominasi, di luar persobatan kita yang teramat dekat.
Tapi barangkali namaku memang lumayan ''sakti'' untuk menggugah teman-teman lain.
Oke, jalan terus.