Saturday, 1 November 2008

Menulislah Sesuka Hati

Mas Nasih meminta saya menularkan ''jurus'' dan ''kemampuan'' menulis kepada teman-temin. Ya semacam teknik dan kiat begitulah.
Saya jadi bingung, apa istimewanya menulis. Mau menulis, ya langsung saja menulis sesuka hati. Tak perlu khawatir jelek, ditertawakan orang, atau tidak bermutu.
Bermutu atau tidak, sangat sangat tidak penting. Pokoknya, sejak detik ini juga niatkan hati untuk menulis apa saja.
Buktinya, tulisan teman-teman (yang temin-temin belum nongol) enak dibaca, bisa dimengerti, dan menambah wawasan -- minimal wawasan untuk guyon hehehehe !!!
Selalu dalam workshop, seminar, pelatihan, atau apalah namanya, saya tegasken dan tandasken dalam menulis abaikan saja soal teknis. Pokoknya nulis, nulis, nulis, dan nulis.
Kalau terpaku pada petunjuk teknis, malah tidak bakalan menelurkan tulisan. Begicu, Mas Nasih. Oke ?
Untuk Mas Bambang di Bali, sabar ya. Saya memang bukan administrator yang baik sehingga tulisan saya bertebaran entah ke mana. Ini lagi dicari-cari sama sekretaris saya (wuahahahaha, som-som, bergaya punya sekretaris).
Mudah-mudahan, Insya Allah, saat ketemu tahun depan sudah bisa dibaca bersama-sama sembari makan sate plus mete di alun-alun depan kabupaten bersama Mbak Imah (wualah, iki opo to kok malah nggladrah).
Sebagai tombo kangen, besok-besok tak ambilken salah satu puisi saya yang kebetulan sudah ketemu teronggok di laci. Beberapa cerpen bisa ditengok di blok saya kan ?
Liding dongeng, ayo rame-rame nulis apa saja.
Setuju ????

3 comments:

Nasih said...

kasih dong link ke blognya-
biar kita bisa santap rame-rame itu pusi dan cerpen.

Beno said...

Oke, oke, men ......

Nasih said...

Mau menulis, ya langsung saja menulis sesuka hati. Tak perlu khawatir jelek, ditertawakan orang, atau tidak bermutu. Bermutu atau tidak, sangat sangat tidak penting. Pokoknya, sejak detik ini juga niatkan hati untuk menulis apa saja.
Jawaban klasik dari setiap penulis sukses, tapi aku suka gayanya itu ...