Friday, 14 November 2008

Museum Kars Indonesia

Awal 2009, Wonogiri bakal punya museum berskala nasional, atau bahkan mungkin internasional, yaitu Museum Kars Indonesia. Dibangun atas kolaborasi Departemen ESDM, Pemprov Jateng dan Pemkab Wonogiri di Dusun Mudal Desa Gebangharjo, Pracimantoro. Letaknya, dari arah Wonogiri, perempatan traffic light Praci, belok kanan. Kira-kira 1 km, di sebelah kiri jalan ada gerbang besar bertuliskan “Museum Kars Dunia”, kemudian masuk kira-kira 300 m. Saat ini pembangunan telah mencapai 80 % untuk bangunan museumnya.

Bila kita mengunjungi museum ini, tidak hanya disuguhi gedung, gambar, diorama, film, info tentang kars di seluruh dunia dan kelengkapan lainnnya, kita juga akan menikmati keindahan alam dari bentangalam kars di sekitarnya. Ketika hendak memasuki area museum, kita sudah diajak untuk memasuki sebuah gua yang bernama Gua Tembus. Dikatakan gua tembus karena gua ini masuk dari ujung bukit sebelah utara dan keluar di sebelah selatan bukit. Keluar dari gua tembus kita dapat melihat bangunan museum yang megah yang terletak agak ke bawah dari pintu keluar gua tembus. Ada banyak pilihan gua yang dapat kita kunjungi di sekitar museum kars ini, selain gua tembus ada gua merica, gua sodong, gua gilap, gua bunder, gua potro, gua sonya ruri dan beberapa gua lagi di sekitar museum.

Apa sebenarnya kars itu? Mengapa harus dibuat museum? KARS merupakan istilah bahasa Jerman yang diadopsi dari bahasa Slovenia yang berarti lahan gersang berbatu. Pada khasanah pustaka saat ini, kars ditakrifkan sebagai bentangalam yang terbentuk akibat pelarutan batuan (umumnya batugamping, dan atau dolomite) oleh air. Selain itu, pembentukan kars dipengaruhi oleh faktor struktur geologi, relief, iklim dan waktu (Blair, 1986, dalam Srijono, 2000). Jadi jangan kita menyepelekan kawasan lahan gersang berbatu di Wonogiri Selatan yang kalau musim kemarau selalu kering kerontang tak berair. Ternyata kalau kita telusuri, ada keindahan dan keunikan di dalamnya yang sebenarnya dapat diberdayakan agar bermanfaat.

Kawasan Kars Wonogiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem Kars Gunung Sewu yang membentang antara Pantai Parangtritis hingga Teluk Pacitan. Pada Kars gunung sewu kita dapat menikmati bukit bukit kerucut (conical hills), Dolina (lekuk topografi yang terletak diantara bukit batugamping dengan bangunnya yang membundar atau lonjong), Lapies atau Karren (bangun pelarutan yang berongga, berlubang, beralur), telaga, sungai bawah tanah, ponora dan lain sebagainya. Selain itu, di sekitar museum, agak jauh sedikit, kita akan dapat berkunjung ke lembah kering (Sungai Bengawan Solo Purba yang dahulu mengalir ke arah Selatan dan bermuara di pantai Sadeng). Berbagai keunikan yang dimiliki oleh Kars Gunung Sewu dengan ribuan bukit kars (+ 40.000 bukit), gua dengan panjang ratusan kilometer, sungai purba dan situs arkeologi, mendorong IUCN untuk menjadikannya sebagai situs warisan dunia (Natural World Herritage). Ayo.., kalau rekan-rekan lagi mudik ke Wonogiri, jangan lupa ya berkunjung ke MUSEUM KARS INDONESIA !! (Pesan Sponsor lagi, he he he...)

3 comments:

mujtahid said...

Ga mengira di Nogiri ada keindahan seperti itu. Isin aku dadi wong Nogiri tapi ra ngerti daerahe dewe. Sekarang gimana caranya supaya museum itu membawa manfaat ekonomis bagi masyarakat.
Aku usul gimana kalau 2009 nanti kita jadi temu alumni terus beramai-ramai piknik ke Praci. Kalau mudik anak2ku paling tak ajak ke Bendungan atau Kayangan buat menumbuhkan rasa cinta pada tanah leluhur bapaknya. Sekarang ternyata ada alternatif lain. Eh ngomong2 ada yang cerita kalau di Slogohimo ada air terjun yang ok ya? Jalannya udah bagus ga sih, aku mau ngajak anak2ku kesana katanya jalannya masih payah.

Nasih said...

Good Jobs.
Dulu sewaktu ngelajo dari Yogya ke Giritontro (ndesoku)saya ya melewati Pracimantoro-Baran. Sekarang jalannya sudah lebar banget, sering dilewati Pak SBY kalau mau ke Pacitan.
Memang memandang seribu bukit berjajar-jajar nyenengke ya ...

Beno said...

Inilah yang sering disebut dengan pepatah: rumput tetangga selalu lebih hijau .....
Lha wong di kampung kita ada objek wisata begitu heibat, kok cari yang jauh-jauh.
Terima kasih , Mas Patrem. Kami tunggu informasi-informasi berikutnya.