Saturday, 8 November 2008

Perubahan itu ada di perasaan ataukah ada dimana ?

Saya masih ingat ketika doeloe masih di SMP kalau berangkat sekolah kadang jalan kaki, kadang naik angkutan umum atau pernah juga naik sepeda. Lumayan jauh apalagi kalau pas pulang dan harus naik di tanjakan Kerdukepik. Wuih rasanya melip-melip panjang.

Tak terasa kemudian dengan perjalanan waktu. Tanjakan Kerdukepik yang dulu terasa tinggi itu sekarang kalau pas kembali menjadi biasa. Rasanya menjadi pendek. Ternyata didunia ini buanyak yang lebih tinggi lagi. Masih teringat pula kalau bepergian melewati Semarang dan lewat tanjakan Gombel maka kernet musti siap-siap dengan ganjel ban biar kalau nggak kuat bisa ndang ganjeli. Tetapi rasanya sekarang hampir tidak pernah ada kendaraan pribadi yang tidak kuat naik tanjakan setinggi apapun (selama sudah di aspal... hehehe), kecuali truk-truk pengangkut barang yang overload dan tetap jalan dipaksakan karena alasan ekonomis.

Perubahan terjadi dalam banyak hal. Termasuk perubahan-perubahan di Wonogiri. Masih beruntung kalau kembali, berbagai lintasan dan bangunan masih tetap ada dan mudah dikenali.

Saya mengharapkan memori-memori yang ada dalam bentuk fisik itu tetap ada, namun nampaknya berbagai landmark yang ada juga mulai berubah. Termasuk bangunan SMP nampak dari luar sudah berubah cukup banyak, setidaknya dilihat dari jalan diluar tembok.
Saya khawatir juga dengan SBI yang SBI itu nantinya akan dirombak total berbagai aspek yang ada.

Jika membandingkan dengan berbagai kota di belahan dunia saya rasanya sedikit iri.

Perubahan, perkembangan jaman, perkembangan teknologi, ide, pemikiran tidak menghilangkan memori atas suatu jaman. Landmark tetap terjaga dengan apik. Bahkan mungkin orang yang lahir di abad 18 pun masih akan dapat mengenali lika-liku jalan dan bangunan dengan ....

[soory Nang, tak bantuin caecar ya:N]

3 comments:

Nasih said...

Horee apelnya sudah mulai masak ...

Beno said...

Yes, saya setuju dengan pemikiran Mas Kenang. Semestinya, kita memuliakan bangunan atau jenis landmark lain sebagai penanda lintasan zaman.
Kalau sedikit-sedikit bongkar, apalagi yang bisa disisakan bagi orang untuk sekadar mengenang masa silam, kejayaan, dan apapun.

mujtahid said...

Sedih aku ... landmark Wonogiri apa ya, tak kira tinggal Plintheng Semar dan Gunung Gandul aja yang bisa bertahan ... sapa sing kuat mbongkar! Kalau dulu jaman kecil sebetulnya ada tembok pojokan pasar yang ada lambang Wonogirinya diatas warna kuning bisa sebagai penanda (cedak toko elektronik ABC kalau ga salah) ... sayang sekali dibongkar bersama peremajaan pasar.