Monday, 10 November 2008

Stambul Baju Biru

Tatkala kita disana baru berjumpa yang pertama-tama
Diwaktu itu mengapa kau tak suka lihat padaku
Remuk redam hatiku berlayar di alun rindu asmara
Oh kepadamu hanya kuberi nama si baju biru

Tapi sekarang tak kuminta kau berikan cintamu sejati
Aku terharu dari sopan serta irama kasihmu
Siang malam kepada si baju biru kumenanti-nanti
Tetap dan pasti sehidup semati aku disampingmu


Betapa halus, lembut dan dalamnya lirik lagu itu … salah satu lagu keroncong/stambul yang selalu abadi buatku. Tapi sayangnya disaat itu bait keduanya tidak menjadi kenyataan … oh nasib … jadinya malah diketawain Vety Vera :

Bertepuk sebelah tangan … plok plok plok plok ..
Bertepuk sebelah tangan
Mana mungkin ….
Bikin capek … bikin repot …. sayang
… (monggo dilajengaken mbak Vety …)

6 comments:

Beno said...

Mas Tahid, cinta bertepuk sebelah tangan itu mengasyikkan. Bahkan tambah asyik kalau terjadi berulang-ulang.
Makin tahan banting, dan ..... tambah menjadi rai tembok ! Tangguh dan tak malu berjuang.
Jadi, bertepuk sebelah tangan itu juga pelajaran berharga dan penting. Belum utuh jadi orang kalau belum mengalami.
Itu pendapatku lho. Lain lagi pendapat Nasih .....

Nasih said...

Tahid original ...

mujtahid said...

Ngeceeee...

Nasih said...

ha ha ha ... kamsude selera kita ternyata saling bertabrakan atau bertumbukan ya = selera boleh sama to

Beno said...

Benul (bener dan betul), Mas Tahid. Saya tidak ngece nih. Sungguhan. Perkara bertepuk sebelah tangan, saya sudah kenyang. Malah sampai nggak sempat bertepuk hehehehehehe .......

Saji Hartana said...

ALhamdulillah, akhirnya dapat lirik si baju biru, lagu yang aku coba hapalkan sejak tahun 1980-an tapi belum hafal tuntas.