Friday, 14 November 2008

Suatu Hari: September 2009


Pukul 06.13.
Di dekat Pegadaian berkumpul sekitar 200 orang.
Wajah-wajah ceria mereka mewarnai pagi yang masih muda.
''Hid, Tahid ... ini lho, Tatik,'' teriak Nasih [sambil menggandengnya mesra] di tengah riuh suasana.
Mujtahid celingak-celinguk, memperhatikan seorang wanita di samping Nasih. [Mujtahid berkaca-kaca menahan haru].
''Lha, sama yang ditaksir berat kok pangling,'' kata Nasih mengolok-olok Tahid yang tampak masih kamitenggengen n semlengeren. [Sepertinya ada penyesalan mendalam, 'teman makan teman'] [Prolog tersebut dia atas semata-semata hanya ilusi sutradara, mohon maaf tidak ada kesengajaan menyebut nama]
Di sudut lain, Bambang Supriyadi tampak berbincang akrab dengan Mbak Yani yang masih kribo [Maaf ya Mas Donny, teman saya ini lagi meracau. Kebanyakan minum air dingin, menggigil]. Demikian pula yang lain. Ada yang bertiga, berempat, bahkan bersepuluh.Tak lama kemudian ada yang memberi aba-aba. Lalu, laskar pelangi Nogiri itu pun mulai melangkah menyusuri trotoar ke arah selatan. Masih diwarnai celoteh, teriakan-teriakan gembira, dan sesekali canda tawa lepas.
Setelah melewati depan pasar, terus ke depan Kodim, gudang seng ........... Polres, dan akhirnya berhenti di depan SMP N 1 Wonogiri.
''Wah sudah berubah total. Bekas sekolah kita kini jadi megah,'' kata Kenang Setyawan Purnomo Sakti sembari melongok [melempar apel] ke sana- sini, seolah ingin membandingkan dengan ketika ia menuntut ilmu di situ.
Ya, alumni 81 itu tengah menyusuri sepanjang jalan kenangan mereka yang telah berlalu hampir 30 tahun di belakang.
Kini, wajah-wajah yang dulu masih lugu, lucu, wagu, dan naif itu telah berubah menjadi wajah matang dan dewasa. Beberapa di antaranya telah beruban dengan kulit wajah dihiasi keriput halus.
''Acara kita selanjutnya adalah mengunjungi para guru, kemudian berziarah ke makam guru kita yang telah meninggal dunia,'' kata Susilo yang dijadikan ketua panitia penyelenggara.
''Jangan lupa, besok pagi kumpul di sini untuk bersama-sama mengunjungi museum karst di Prancis eh Praci,'' ujar Patrem.
Selanjutnya .............................................................................................................................................

8 comments:

patrem said...

He..he..he.., aku slalu ketawa ketika teman2 membicarakan Tatik dan juga mbak Yani (soale aku yo duwe kenangan indah ama mreka). Biar pada gak kami tenggengen nanti kalau ketemu, kapan2 tak kirimi ya photone mreka.

Beno said...

Setuju, Mas Patrem. Tak tunggu lho plotro-plotro embok-embok ehh embak-embak itu.

Bambang Supriyadi said...

Patrem piye kabare? aku baru buka2 album lama eh ketemu photomu, Tahid, iduk (titik sholehah), imah, aku belum sempat scan, nanti aku pajang ya. Coba tambah 10 orang lagi aja yg aktif, blog ini past gayeng, semakin terbuka lagi memori kita tentang sekolahan. Mas Soso mana ya, Poppy nongol dong... Ben kamu tetep masih kelihatan imut kok meskipun telah berevolusi.

Beno said...

Bukan imut, Mas Bambang, tetapi imot-imot seperti tomat mlonyot hahahahahaha .........

Beno said...

Walah, tulisan imajiner ini dalam sehari bisa berubah puluhan kali.
Diubek-ubek nggak keruan sampai nggak jelas juntrungnya.
Tapi, asyik kok .......

Beno said...

Walah, minum apaan. Minum tuh konotasinya kan negatif.
Padahal agar mabuk, saya nggak perlu minum-minum. Cukup liat-liat ......... wuahahahahaha.

mujtahid said...

Trem ... aja nambahi saingan Nasih lo ...he he. Ojo mung janji, endi fotone sing jarene Anto tripel L itu.
Kenang ... piye wis kelingan Tatik rung? Perlu "padanan" atau "sinonim" untuk bahan pengingat pa? Piye Sih yen "Doriva Urwatul W"? ... wuahaha ... yen iki Nasih mesti manthuk2 ... madhep mantep nderek Urwatul
Beno ... kamu memang paling bisa berkhayal

Beno said...

Lho, Mas Tahid, saya cuma niru sampeyan nulis soal Bu Gun itu kok. Jadi sama-sama pengkhayal deh.