Sunday, 23 November 2008

Tikar dari Pandan

Ketika itu kelas satu SMP, terjadi masa perpanjangan masa studi ½ tahun, katanya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia yang waktu itu memprihatinkan. Masa itu dipergunakan untuk mengaplikasikan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Di samping itu, mata pelajaran ketrampilan juga digalakkan. Masih ingatkah ketika kita harus mencari pandan ke sana kemari untuk bahan buat tikar. Waktu itu aku sama Priyono harus naik sepeda onthel ke Dusun Seneng ke rumah Marwanto, cari pandan di sekitar kebunnya. Untuk sampai ke rumah Marwanto harus melewati alas kethu yang waktu itu masih cukup lebat (nggak sperti skarang yang sudah bothak, cuma lebat dipinggir, tapi bolong ditengah). Di tengah alas kethu itu aku dan Priyono dikejutkan oleh orang tinggi besar brewok yang tiba-tiba nongol di depan sepeda kita dari tengah rerimbunan hutan (mungkin baru aja pipis kali). Kontan aja aku & Priyono nggenjot sekencang-kencangnya sepeda onthel kita.

Beberapa hari berikutnya sibuklah kita (waktu itu Kelas IA) memproses pembuatan tikar itu, sampai-sampai jari-jari kita perih dan gatal kena duri-duri pandan.

Suatu hari ketika jam ketrampilan, Pak Narjo (Almarhum), guru ketrampilan kita nggak segera masuk kelas. Anak-anak mulai iseng, pandan punya Sunar Priyono, yang waktu itu tergolong anak yang alim, lan rodo feminim sithik, di buat mainan bal balan. Aku yang baru aja dari kamar mandi ikut nimbrung nyepak pandan Sunar P. Sial bagiku, ketika asik bal balan pandan, pak Narjo tiba-tiba datang dari belakangku, yang lainnya tahu kalau pak Narjo datang pada lari tunggang langgang. Alhasil, tertangkaplah aku oleh pak Narjo. Hukumannya, dijewernya telingaku dari jongkok sampai jinjit. Aku hanya bisa pasrah dan tersenyum kecut...

Dimana ya Marwanto dan Sunar Priyono sekarang?

5 comments:

Nasih said...

Ingat Marwanto, jadi ingat juga Prayit (Suprayitno) yang rumahnya di juga Seneng. Konon mereka sering juga pergi ke sekolah dengan jalan kaki.
Hebat semangat teman kita ini ...

Beno said...

Inilah kisah-kisah nostalgik yang memperkaya batin kita.
Ada yang ngguyokke, nganyelke, nyedhihke, dst dst.
Kita masih menunggu teman-teman lain dengan tabungan kisahnya yang kalau dibukukan mungkin di atas 500halaman.

Mincuk said...

Ingat buat tikar dari pandan, aku yang paling senang. kagak usah repot-repot cari karena mbah ku pinter buat tikar. kalau kagak percaya coba cari pandan lagi.. dan yang sudah siap pakai, nanti aku buatkan tikarnya... mau pesan berapa meter ? ( kalau nggak jadi..... yah... )

Susilo said...

Soal ketrampilan, barangkali aku siswa yang paling tidak trampil. Dalam sejarah sekolahku, nilai merah yang pernah tertulis di rapor ya mata pelajaran ketrampilan ini, nggak pernah bikin tugas, kalopun bikin pasti paling belakangan, wah. kayaknya memang soal kurang hiburan, main bola pakai bola dari pandhan eri ini memang ngetrend juga di kelas Ic, ingatanku saat itu kami2 yang main bola di aula harus berjejer masuk kelas lalu satu-satu mempersiapkan daun telinga untuk dimassage oleh swargi pak Narjo, lumayan pringisan juga, he..he..he...

mujtahid said...

Aku dulu juga setengah mati cari pandan sampai direwangi tekan Eromoko barang ... dapatnya di pinggir2 kali, udah gitu kecil2 tidak bermutu, habis digodog dan dijemur malah kusem jamuren. Tapi aku punya teman (Wahyudi Hanranto) yang kalau pulang dari ndesa (Giriwoyo) bawa pandan kualitas nomer 1 ... gede2 putih mulus ... bikin iri sekelas.