Thursday, 13 November 2008

Waktu

seperti pisau
mengiris pagi
dan malam kita
tanpa terasa
tiba-tiba termangu
di tepi jurang
antara kemarin dan hari ini

: apa yang digoreskan
sepanjang detik berlalu
di belakang ?

seperti pisau
menguliti nyali dan kesadaran
tak menduga
melayang di langit hampa
tanpa siapa-siapa

lalu,
masih perlukah mengayun
langkah dan pikir
kalau diri diam beku
dan jarum jam berlari
sepanjang cahaya
tak terelakkan

: di mana
mesti menahan
agar semua makna
tak melayang
sia-sia

(khusus untuk Mas Bambang Sup di mBali)

Semarang, 13 November 2008

2 comments:

Bambang Supriyadi said...

Terima kasih banyak Ben, terharu sekali aku.... yah... waktu, sedetikpun kita tidak bisa ambil kembali. Semakin tua kita harus semakin bijak dalam memanfaatkan waktu, jatah waktu kita juga semakin menipis.

Terima kasih Sobat

Nasih said...

mengambil waktu kembali tak mungkinlah,
tapi kalau memberikan waktu kita dapat ya ...