Friday, 26 December 2008

Apakah Perlu ............

ENTAH, sudah berapa kali Nasih meminta, mendesak, menyarankan, mengimbau, dan ...... setengah ''memaksa'' saya agar menurunkan ilmu menulis, yang sebenarnya bagi saya biasa-biasa saja alias bukan sesuatu yang hebat.
Memang, saya pernah menimba teori menulis, khususnya jurnalistik di LP3Y Yogyakarta (1995-1996). Waktu itu hampir satu kos dengan beliau, tetapi tidak jadi. Malah setelah itu tidak pernah ketemu karena terbenam dalam kesibukan masing-masing. Beliau, kalau tidak salah suntuk studi S-2 sembari mengurus pengangkatannya sebagai dosen, sedangkan saya dipenuhi tugas dan banyak kegiatan lain.
Di samping itu, saya mengoleksi sendiri beberapa buku mengenai jurnalistik dan kepenulisan untuk dipelajari sendiri (dan sesekali dijadikan bantal saat ngantuk !). Dihitung-hitung ilmu menulis saya pun tak terlalu unggul. Ya rata-rata, begitulah. Bagus enggak, terlalu jelek kayaknya juga nggak. Kalau agak jelek, mungkin.
Pengalaman sebagai wartawan lapangan cuma lima tahun, sehingga sebenarnya masih mentah. Mungkin soal menulis artikel populer sedikit lumayan. Paling tidak, dari 1996 hingga kini sudah memenangi sekitar 30 penghargaan, sebagian besar tingkat nasional.
Minat saya gado-gado. Ada artikel mengenai perbankan, asuransi, kelautan, dana pensiun, manajemen air, lingkungan hidup, pendidikan, kepramukaan, kesehatan, pertanian, dsb dsb. Agak kuat di ekonomi, barangkali karena lama menjadi anggota desk ekonomi dan sebentar memimpin desk itu, sehingga terpaksa belajar masalah-masalah ekonomi. Tahun 2006 merupakan puncak, karena selama setahun saya memenangi tujuh penghargaan: tiga dari Depdiknas, satu dari Yayasan Jantung, dan tiga dari perusahaan obat (empat di antaranya juara pertama).
Saya tidak tahu, kemenangan itu berkat tulisan yang bagus, kebetulan sesuai dengan selera juri, atau faktor bejo. Setelah lama direnungkan, disimpulkan lebih dari 50% karena bejo itu. Jadilah cap ''penulis spesialis lomba'' disematkan di dengkul saya (hehehehe .... sengaja milih bagian itu untuk menggambarkan modalnya memang cuma dengkul).
Menulis fiksi ? Saya agak tertinggal akibat susah membagi waktu untuk memanjakan imajinasi liar. Sesekali menulis, itu pun tak terlampau spektakuler. Sebagian besar saya simpan (mungkin sekarang sudah banyak yang ilang), belum terpublikasi.
Jadi, dengan segala plus dan minus itu apakah perlu saya membagi ilmu menulis berita dan menulis yang lain kepada teman-teman lewat blog ini, atau bisa juga dibuatkan blog tersendiri ?

2 comments:

Nasih said...

bagus .. bagus .. teruskan membagi ilmu dan ketrampilan tulis-menulis.

seingat saya pekerjaan menulis (membuat karangan) ini termasuk momok bagi anak-anak di zaman dulu ...

Beno said...

Persoalannya, bagaimana mengubah momok menjadi mimik ehhhhhhh .... maksudnya menyenangkan !
Saya sedang mempertimbangkan untuk menularkan ''jurus-jurus'' itu, tapi bukan pelit lho !
Ilmu kan makin sering dibagi-bagikan akan kian berkembang biak .......