Friday, 5 December 2008

BLT

Di tengah hiruk-pikuk demonstrasi penolakan terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan penderitaan rakyat, yang semakin menumpuk akibat kenaikan itu, mencuat cerita yang menyentuh sukma rakyat miskin.

Sebagaimana diberitakan salah satu media cetak nasional, Sadimin (55), warga RT 04, RW 08, Kelurahan Mlati Baru, Kecamatan Semarang Timur, telah membuat kebijakan yang menggugah hati dalam kaitan dengan bantuan langsung tunai (BLT) yang diterimanya dari pemerintah. Konon, di desa itu terdapat 32 kepala keluarga (KK) yang semuanya tergolong orang miskin. Sayangnya, mereka semuanya tidak menerima BLT. Hanya 12 KK yang menerima bantuan dari pemerintah. Dengan demikian, yang tidak menerima BLT jauh lebih banyak, lebih dari separuh jumlah kepala keluarga.

Yang menyentuh hati adalah apa yang dilakukan oleh Sadimin beserta rekan-rekannya yang menerima BLT terhadap warga miskin lain, yang tidak menerima bantuan uang. Dalam musyawarah rukun tetangga (RT), Sadimin beserta teman-temannya menyepakati untuk menyisihkan sebagian jatah untuk warga yang tidak menerima BLT. Jumlah dana yang mereka sisihkan Rp 25.000 dari dana yang diperoleh. Dana sisa inilah yang dibagikan kepada warga miskin yang tidak menerima BLT.

Lebih menarik lagi, semangat kepedulian ini ternyata tidak hanya berhenti di RT Sadimin, juga menyebar ke RT lain di kelurahan yang sama. Beberapa ibu penerima BLT melakukan hal yang sama. Bahkan, seorang ibu bernama Mariyem (66), janda tanpa anak yang menumpang pada tetangganya, sangat ikhlas menyisihkan sebagian jatah BLT-nya untuk warga yang tidak menerima bantuan.

--- SP.31/05/08

1 comment:

Beno said...

Sejak awal, saya nggak setuju BLT. Tidak berprinsip beri kail, tetapi beri ikan glondongan. Ya nggak mendidik dong, kecuali untuk kasus-kasus khusus.