Monday, 1 December 2008

Diperbudak oleh Peringkat


KALAU ingat masa-masa SD, SMP, dan SMA, saya suka tersenyum kecut terhadap ranking atau peringkat yang seolah-olah memperbudak.
Semua upaya ditujukan untuk meraih peringkat terbaik, mengungguli teman-teman lain. Setelah direnungkan lama, terasa hal itu merupakan kesalahan besar.
Semestinya, peringkat bukan menjadi tujuan utama, melainkan hanya dampak ikutan atas kerja keras dalam belajar dan mencoba memahami mata-mata pelajaran.
Dengan begitu tidak ada istilah belajar SKS (sistem kebut semalam), les-les yang tidak perlu, atau bahkan berbagai jenis tindakan curang semacam njiplak serta nyolu pak dan bu guru.
Kini, saya suka ribut sama Ibunya anak-anak kalau beliau mulai menyebut-nyebut harus ranking sekian terhadap jagoan sulung saya.
Bull shit itu ranking, yang penting anak punya kesadaran bahwa belajar merupakan kebutuhan. Bukan paksaan atau demi ranking nomor satu.
Begitulah, saya lebih menekankan apakah anak memetik manfaat dari aktivitas belajarnya, apakah ia termotivasi untuk belajar lebih lanjut, apakah ia telah memahami dan mengerti benar bahan-bahan yang dipelajari, dst dst.
Biarlah hanya Bapak dan Ibunya yang diperbudak oleh ranking !

3 comments:

Nasih said...

kalau dulu tidak begitu, maka sekarang saya tidak begini ...

masing-masing jaman memiliki jalannya.

Mincuk said...

Pikiran saya sama dengan panjenengan,kenapa harus meraih rangking ? dengan nyolu guru-2 nya ? setujuuu.... banget, biar anak belajar enjoy, bisa menjadi anak-2 di kala jadi anak, menikmati masa remaja kala sdh remaja.... yaah ngikut arus aja... sing penting doa orang tua... anak menjadi diri sendiri, tapi ya harus dengan pantauan.

Beno said...

Iya, Mbak, kuncinya di pengawasan, pemantauan, dan pengendalian.