Tuesday, 16 December 2008

Gagal Belajar Merokok


HARUS saya akui, saya benar-benar bodoh dalam merokok. Pernah belajar intensif ketika jadi reporter koran kampus sekitar tahun 1987-1988. Waktu itu rokok melimpah, karena salah satu produsen besar di Tanah Air menjadi pemasang iklan tetap. Istilahnya, sehari mau bawa pulang sepuluh slop pun bukan persoalan.

Sayang, saya tidak bisa menikmati enaknya merokok. Mulut pahit dan makan jadi terganggu. Pokoknya, sangat sangat tidak enak. Rekan-rekan satu koslah yang bergembira ria memperoleh limpahan rokok dari saya.

Akhirnya, saya memutuskan memang tidak berbakat merokok walaupun almarhum bapak saya ''sepur dur'' alias perokok berat. Gen hobi rokoknya tak mengalir ke darah saya. Malah kemudian saya benci bukan alang kepalang terhadap orang yang merokok.

2 comments:

mujtahid said...

Sama, Ben ... buat gaya2an aku juga pernah belajar merokok waktu kuliah ... biar keliatan gaya gitu!
Hasilnya ga merasakan kenikmatan sama sekali. Akhirnya jadi berpikir, udah buang duit, mengganggu kesehatan ... buat apa sih! Sekarang jadi benci 1/2 mati sama orang yang merokok. Tapi ya itu tadi sisi ekstrem di seberang sana (pro rokok) mesti ya pola pikirnya kebalik dengan kita. Saya jadi berpikir apakah toleransi juga perlu ya dalam menyikapi hal ini?

Beno said...

Iya, Mas, kita perlu toleransi. Boleh merokok, tetapi jangan mengganggu atau mengorbankan orang lain. Jadi, mesti ada pembatasan. Termasuk iklan-iklan rokok yang seperti ngojok-ojoki remaja agar gemar merokok, karena berkesan keren dan gaya.
Buruh pabrik rokok dan mata rantai distribusi beserta keluarganya perlu diperhatikan. Bisa kan pelan-pelan dialihkan. Pemerintah juga masih butuh cukai rokok yang nilainya triliunan rupiah.