Friday, 5 December 2008

Hidup dan Makan

Sambil melamun seorang petani menyusuri jalan setapak di hutan. Tiba-tiba seekor harimau melompat dan mengaum dengan ganas di depan dia. Si petani terkulai lemas. Ia berpikir: "Mati aku dimakan harimau lapar ini. "Tetapi aneh, harimau itu tidak lansung menerkam. Sambil menelan air liur, harimau itu duduk, lalu melipat kedua tangannya dan memejamkan matanya. Petani yang ketakutan itu bertanya dengan heran: "Apa yang kamu perbuat?". Harimau itu menjawab: "Saya berdoa sebelum makan".

Kalau seekor harimau berdoa sebelum makan, apalagi kita. Doa sebelum makan sudah membudaya. Orang cukup menundukkan kepala dan mengucapkan dua atau tiga kalimat, maka bereslah doa itu. Mudah sekali.

Betulkah itu mudah? Sebenarnya tidak. Bahkan mungkin doa makan adalah yang paling sulit, karena pengakuan bahwa makanan adalah pemberian Tuhan yang patut kita syukuri mengandung banyak arti dan konsekuensi.

-- sp. 16/02/08

3 comments:

Beno said...

Mengingatkan saya bahwa ada sekelompok orang yang harus berjuang habis-habisan agar bisa makan hari ini.
Lha kita malah sering buang-buang makanan atau buang-buang uang untuk membeli makanan yang tak dihabiskan.

Nasih said...

kita itu = aku kamu dan mereka ...
kalau membeli banyak aku setuju, ben bakule kepayon

yen mangan ora di entek-ke, ya mengko kanggo ingon-ingon : cacing, lelembut dkk dadi kompos (pupuk organik)

sing ora oleh kuwi, jiwa yang serakah ora puas-puas ...

Beno said...

Membeli banyak terutama karena serakah !