Monday, 8 December 2008

Hormat bagi yang Memilih Jadi Guru


DULU, saat saya di SMP almarhum Bapak dan almarhumah Ibu saya pernah mengungkapkan keinginannya agar salah satu saja dari lima anaknya ada yang menjadi guru. Keinginan itu bisa dimaklumi karena keduanya adalah guru sekolah dasar (SD).
Waktu itu saya terus terang menyatakan tidak ingin menjadi guru dengan alasan sangat berat. Selain mesti berjiwa pendidik dan bukan sekadar pengajar, masih banyak persyaratan lain yang harus dipenuhi. Alasan lainnya yang naif adalah saya tidak ingin ''miskin'' seperti kedua orang tua saya.
Untuk itulah saya memberikan hormat khusus kepada teman-teman yang menjadi guru dari play group sampai perguruan tinggi. Tidak mudah menjadi pendidik. Bukan hanya bermodal kepintaran, tetapi juga kepribadian, moral, dan etika.
Tidak penting, misalnya, Anda merasa ''terpaksa'' atau ''keblasuk'' menjadi guru. Bagaimana pun Anda semua amat layak diberi penghormatan khusus. Di tangan Andalah masa depan bangsa dipertaruhkan.
Ayo, ciptakan generasi yang bukan hanya pintar, melainkan juga bermoral, berkepribadian, dan beretika paripurna !
Tugas Mas Nasih untuk mendata berapa alumni 1981 yang jadi guru.

11 comments:

Nasih said...

kepada teman guru ... ayo segera serahkan diri kalian untuk didata.

Beno said...

Setelah didata, dipisah sebelas sebelas untuk dibentuk tim-tim sepak bola .....

Nasih said...

terus di-adu ...

Mincuk said...

Aku sudah dapat no hp beberapa guru, nanti aku sms aja ke mas nasih. biar di data.Aku sudah sampaikan rencana kita untuk lebaran th depan...

Bambang Supriyadi said...

Ben, kebetulan saat ini ibuku lagi ada di Bali dan saya sering cerita tentang temen2 yang beliau kenal, Ibu kenal betul dengan almarhum ibumu karena sempat mengajar satu sekolah dengan almarhum bapakku. Ibuku sangat kagum dengan orangtuamu karena anak2nya pintar-pintar dan berhasil.

Orang tua kita dulu rela gak punya apa-apa asal anaknya sekolah semua. Saya masih ingat kok Ben dulu sarapan thiwul tapi semangat bapak dalam mendidik bener2 masih melekat di dalam diri saya.

Karena anak guru kali ya, sekarang saya juga seneng ngajar, kasih training, kalau gak masuk kelas sebulan saja sudah kangen. Begitu di depan kelas udah enjoy banget.

saya kadang2 jadi dosen tamu di UNUD untuk mahasiswa pertukaran pelajar dari Jerman, seneng banget lho Ben bisa ngajar bule2.

Jadi Guru akan membuat batin kita kaya.

Mincuk said...

Benar mas Bambang, sarapan tiwul dengan lauk apa adanya kita dulu semangat banget, tidak mudah menyerah, aku juga ingin begitu... akupun jadi guru tidak punya apa-2 yang penting anakku bisa sekolah dengan sukses. doakan aja... ya ?

A N T O said...

Iya kami semua ikt doa, tapi tdk berarti harus sarapan thiwul lagi kan ???

Susilo said...

Betapa benar ungkapan pak guru Diarko (trade marknya pagoda pastilezzzh )" dhasar utek thiwul", ternyata sekarang sudah mulai nampak reaksi dari thiwul-thiwul itu ...

Beno said...

Saya rindu sarapan thiwul, tempe goreng tanpa minyak, dan sambal yang pedas !
Betul, Mas Bambang, aku masih suka terkenang-kenang pada perjuangan orang tuaku yang guru tulen.
Karena itulah, betapa saya menghormati dan menghargai teman-teman yang kini menjadi pendidik.

Mincuk said...

looo... tempe tanpa minyak itu apa yang di sangan ?atau ada yang lain ( hehe..he )apa mungkin yang ..... itu?

Beno said...

Ada deh !