Thursday, 4 December 2008

Usaha Mikro Memberantas Hama Belalang

Sekali menyelam dua tiga pulau terlampaui. Itulah istilah yang tepat disampaikan di sini, untuk menggambarkan upaya yang dilakukan Arif Sudarsono (38), pengumpul belalang asal Desa Songbledek, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Dengan profesi sebagai pengumpul belalang yang telah ditekuninya sejak empat tahun lalu, telah mengantarkannya ke Jakarta untuk ikut seleksi menjadi salah satu finalis Citi Micro-entrepreneurship Award (CMA) 2008 untuk kategori perdagangan. CMA adalah ajang penghargaan untuk pengusaha mikro yang dilaksanakan oleh Usaha Kecil Mikro (UKM) Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI).

Berawal dari banyaknya belalang yang mengganggu pohon-pohon di dusunnya, terutama tanaman jagung, Arif mencoba mengatasinya dengan menangkap dan menjualnya. Sebagian dari belalang yang ditangkapnya itu digoreng, tentu saja tak lupa diberi sedikit bumbu garam, bawang putih, dan kecap. Mak nyus...dan pasti ketagihan setelah mencicipi seekor belalang goreng produksi Arif.

Tentu jangan dibayangkan belalang goreng ini utuh seperti yang masih terbang. Belalang yang akan dikonsumsi ini, dikupas dulu, yakni dengan diambil sayap, isi perut, kaki belakang yang berduri, dibuang.

Dalam percakapannya dengan SP, Senin (1/12), Arif mengaku prihatin melihat banyaknya belalang yang memangsa daun tanaman di kampungnya. Apalagi jika musim belalang muncul, akan datang ribuan, bahkan puluhan ribu belalang yang menyerang tanaman jagung. Belalang-belalang tersebut akan memakan daun-daun pohon jagung, sehingga berlubang di sana-sini, yang pada akhirnya akan mengganggu pertumbuhan jagung.

Itu berawal dari tahun 2004. Dia kemudian menangkapi belalang-belalang tersebut. Pada awalnya, dia bekerja sendiri, lalu dijual kepada pengepul belalang lain di desanya. Kemudian dia berusaha menjadi pengepul dengan menampung hasil tangkapan dari tetangganya.

"Belalang dari tetangga itu saya beli dengan harga Rp 8.000 per kilogram (kg). Pada masa puncak musim belalang, saya sehari bisa menampung 5 kuintal. Puncak musim belalang jatuh pada musim penghujan. Dari hasil pembelian tersebut, saya jual kembali kepada pedagang yang lebih besar dengan har-ga sekitar Rp 11.000 per kg," katanya.

Penangkapan belalang biasanya dilakukan di ladang mulai pukul 19.00 WIB dan dalam dua jam, dapat ditangkap 3 kg belalang. Dengan peralatan oncor (lampu minyak tanah terbuat dari bambu dengan sumbu kain) dan kantong sebagai penampung belalang, cukup untuk mulai berburu belalang.

Arif mengumpulkan belalang tidak hanya dari satu lokasi, tetapi dari 13 lokasi sebelum kemudian bersiap mengirim ke pasar. Dalam merawat hasil tangkapan belalang, Arif harus jeli, karena belalang hanya bertahan hidup selama 24 jam.

---
SP: 03/12/08

6 comments:

A N T O said...

Hiii...iik....3 opo ora ono panganan liyane sing jare gizine setara to.. mosok walang terus gendon, uret & enthung kok podo doyan...

Nasih said...

Aku seneng kreativitase, coba sehari dia jual rata-rata 200 kg ... biaya Rp 1.000/kg, maka keuntungan sekitar Rp. 2.000 x 200 = Rp. 400.000,-

Hebat !

Itu juga mengubah paradigma, dari belalang sebagai musuh (hama) menjadi belalang sebagai komoditas.

Mincuk said...

Eh, bukan dari songledeg yg betul songbledeg paranggupito, itu tempat aku mengajar di SMP 1 Paranggupito selama 10 tahun, baru th 2005 aku pindah kerja di SMP 7. Mas Nasih, tentang belalang itu aku banyak sekali kenangan dengan almarhum p.Nardjo. Kalau pas musim panen belalang, aku yang klimpungan sendiri karena tdk bisa makan.kebalikan dengan p.Nardjo dia suka juga makan, bahkan di sana masyarakat biasa makan ulat jati juga lo...! padahal aku tahu bentuk ulatnya saja girap-girap ( ini pernah aku alami waktu SD, ceritanya si Sangat Prihanto teman SMP kita yg gendut ngasih aku ulat, dan aku hampir pisan. kebetulan gurunya sayang aku, jadinya dia dimarahi habis-habisan/ingat kagak mas Beno ? )

mujtahid said...

Lo mas Anto biyen jaman cilikanku walang kayu (rupane coklat) langsung tak bakar ro kanca2 rasane gurih kemripik, padahal ra nganggo bumbu apa2 ... dasar nggragas! Yen saiki yo gilo

A N T O said...

Mbak Mincuk nek ulat jati nyat marahi girap girap. Ning nek ulat - ulatan lha kuwi sing marahi njigloke ati ha...3

Beno said...

Itulah kreativitas. Kita selama ini terjebak pada pangan ''konvensional'': nasi dkk. Padahal banyak pangan potensial yang bergizi tinggi. Contohnya ya walang kayu, gendhon, enthung, dsb.
Waktu tugas di Blora sekitar 1991 saya pernah menulis panjang lebar mengenai ungker atau enthung ulat jati yang dikonsumsi masyarakat di sana.
Siapa mau coba ?