Thursday, 18 December 2008

Mencegah anak terjebak rokok

Perlu ada aksi nyata mencegah anak terjebak rokok, dan itu harus dimulai di rumah, sejak anak berusia dini bahkan sejak balita, ketika sedang dalam masa emas pertumbuhannya, termasuk dalam hal pertumbuhan karakter.

Langkah pertama dan terpenting yang harus dilakukan adalah orang tua menjadi contoh dengan tidak merokok, demikian juga dengan orang dewasa lain yang ada dalam rumah tersebut. J Schikendanz dalam bukunya Family Socialization and Academic Achievement (1995) berpendapat segala perilaku orang tua dan pola asuh yang ditetapkan di dalam keluarga pasti berpengaruh dalam pembentukan kepribadian atau karakter seorang anak. Ini artinya, sangatlah mustahil menjelaskan dampak rokok bahkan melarang anak merokok bila sejak bayi anak terbiasa melihat orang tuanya merokok. Ironinya justru kondisi seperti inilah yang umumnya terjadi.

Survei GYTS (2004), yang merupakan bagian survei WHO dan CDC Atlanta dan diselenggarakan di lebih dari 100 negara di dunia, menunjukkan bila di Jakarta, 66,8 persen murid sekolah usia SMP tinggal serumah dengan orang yang merokok, sementara di Bekasi 66,3 persen sedangkan di Medan 69,0 persen.

Langkah selanjutnya adalah memberitahu anak tentang bahaya merokok. Jangan tunggu sampai anak berusia 12 atau 13 tahun, tapi lakukan sedini mungkin, sejak si anak mulai bisa menangkap makna kata-kata. Tentu saja cara dan materi pesan harus disesuaikan dengan tingkat usia anak, agar pesan tersebut bisa mereka pahami.

Pada usia dua tahun, anak umumnya mulai kritis dan banyak bertanya atas segala yang dilihatnya, termasuk ketika melihat rokok atau aktivitas merokok, entah secara langsung (di warung/toko/dsb) atau melalui media televisi. Bila mereka bertanya, ini adalah kesempatan emas. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, cukup dengan kalimat singkat yang sederhana. Misalnya, "Itu rokok, jangan !" Untuk memperjelas maksud, orang tua bisa menambahkannya dengan bahasa tubuh yang tepat. Bisa jadi ia belum paham betul dengan penjelasan orang tua, namun ia sudah bisa memahami raut muka serta bahasa tubuh orang tua yang tidak menyukai rokok.

Ketika anak berusia tiga tahun, ketika ia mulai memahami konsep benar-salah, boleh-tidak, orang tua bisa lebih memperjelas bahaya rokok dengan mengatakan "Rokok bisa bikin sakit batuk". Kalimat singkat itu dijamin akan terekam kuat dalam benak anak. Dengan penjelasan ini, dan bila kepercayaan dirinya telah diasah, bisa jadi ia dengan tanpa ragu akan berkata "Jangan merokok, nanti batuk", ketika bertemu dengan orang yang merokok. Siapa yang tak akan segan bila ditegur oleh anak yang masih imut?

Ketika anak berusia empat tahun, ragam penjelasan dampak rokok ini kian diperbanyak. Tapi tetap harus dipilih yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak dan dilakukan secara bertahap. Misalnya (me) rokok bisa membuat gigi kuning serta pakaian dan rambut berbau. Ragam dampak rokok ini bisa membantunya semakin kritis menjadi "polisi anti rokok" bagi sekitarnya.

Ketika anak berusia lima tahun, sudah bisa diajari untuk berani berkata "Tidak" bila ada yang menawari rokok. Keberanian ini harus terus dimantabkan. Mengapa demikian? Sebab pada usia ini umumnya anak sudah mulai keluar dari rumah, ia sudah mulai memasuki sekolah TK, artinya lingkup pergaulannya makin luas, dan mulai lepas dari orang tua. Ingat, survei membuktikan bahwa ada anak usia 5-6 tahun telah mengenal rokok.

Proses pengajaran anti rokok, harus terus dilakukan orang tua setiap saat, agar ia tidak terpengaruh oleh ajakan teman, atau tipuan iklan rokok. Memang tidak mudah menghindarkan anak dari intaian monster rokok, tapi bukan berarti tak mungkin dilakukan. Saya yakin, kita semua mampu melakukannya, demi siapa lagi kalau bukan demi masa depan yang lebih baik bagi anak-anak kita, buah cinta dan tambatan hati kita.

Penulis adalah ibu rumah tangga yang peduli akan masalah seputar anak, perempuan dan keluarga

---

Neni Utami Adiningsih. SP. 31/05/06

4 comments:

Kenang said...

bagaimana kalaun ada suat kabar yang menyatakan bahwa ROKOK DAPAT MENYEHATKAN. Barabngkali ini merupakan good news bagi para perokok. Bagaimana kalau berita tadi benar adanya ? ;)

Nasih said...

bagus juga diposting di sini, biar komplit .... nanti tinggal pilih yang disukai.

Beno said...

Ya, kalimat ''dapat menyehatkan'' itu kan berarti pula bisa tidak dapat menyehatkan.
Selain itu, memang rokok ''menyehatkan'' kantong negara (dari cukai) dan tentu saja produsennya !!

Kenang said...

Ada teman yang melakukan riset dan mendapatkan bahwa dengan filter tertentu rokok tidak lagi berbahaya tetapi dapat meyehatkan.
Nah kan. Ini yang menarik.