Tuesday, 2 December 2008

Menumbuhkan Jiwa Kompetisi Tanpa Ranking?

Bagaimana caranya? Saya ingin sekali seperti itu!
Jaman sekarang, mendidik anak adalah pekerjaan yang gampang2 susah. Seperti posting-an dari Beno, hal itu juga jadi bahan diskusi saya dengan isteri. Sebab saya juga menyadari, bila kita salah cara (metode) dan salah arah, penyesalan seumur hidup tidak akan berguna.
Kebetulan isteri saya adalah guru SMP seperti mbak Mincuk jadi sedikit banyak mengenal ilmu paedegogi, jadi bisa diskusi. Di satu sisi kami ingin dan bertekad tidak akan mempersalahkan berapa ranking anak saya. Prinsip itu kami pegang secara konsisten sampai saat ini. Tetapi ada juga kekhawatiran dengan sikap kami itu. Karena saya lihat anak kami tidak memiliki jiwa kompetisi seperti saya dulu dalam belajar. Ketika test IQ dia dapat nilai 126 dan itu adalah batas cerdas mendekati jenius (kata mbak Mincuk juga lumayan), saya tergoda untuk bertanya ke dia, berapa nilai IQ temannya yang ranking 1? Ternyata sama persis. Tetapi ranking anak kami bertengger di sekitar angka 5. Kami sikapi prestasi anak kami dengan enjoy2 saja, karena kami tahu persis potensinya. Tetapi jika melihat perjuangan anak2 teman kami dalam mencari sekolah setingkat SMP atau SMA, saya jadi tergoda juga dengan prinsip kami selama ini, apakah sudah benar. Karena selisih nilai Uji Kompetensi (dulu NEM) 0,1 bahkan 0,01 akan menentukan diterima atau tidaknya di sekolah yang diinginkan. La kalau ukuran prestasi seseorang masih ditentukan oleh nilai, bagaimana saya bisa tenang menghadapi persaingan dengan mengalir apa adanya seperti kata mbak Mincuk? Bukankah mereka tetap dituntut oleh situasi dan kondisi untuk memiliki nilai dan ranking setinggi mungkin?
Itulah dilema yang saya hadapi sampai saat ini, membiarkan mereka apa adanya atau sebaliknya? Walaupun isteri saya selalu meyakinkan kalau permata akan tetap jadi permata dan pasir akan tetap jadi pasir, dimanapun dia ditempatkan, tetapi saya masih bimbang dalam menentukan cara mendidik anak. Sebetulnya saya hanya ingin agar timbul jiwa kompetisinya sesuai dengan potensinya tanpa melihat urusan ranking. Tapi ternyata sulit sekali, karena motivasi anak sepertinya tidak timbul tanpa ada goal yang kongkrit.
Tolong komentari dilema saya teman2, terutama bu guru Mincuk yang sudah berpengalaman.
Bagaimana cara mengoptimalkan anak sesuai dengan bakat dan potensinya? Help me ...

5 comments:

Nasih said...

jam yahene durung balik Hid, mengko teko ngomah diamuk ora ...

mujtahid said...

Nunggu seseorang ... ceile!
Ana wong ko BATAN arep njupuk material nggo penelitian bareng sampai yah mene rung teka.

Mincuk said...

Benar mas Tahid, gampang-2 susah untuk mendidik anak. Potensi putrane panj sdh ada, lebih bahkan di usia seperti itu. mungkin dia ingin punya tantangan dari ortu, dalam posting aku (PR dari mas Tahid) anakku yg nomor 2 bersemangat sekali dengan iming-2 hadiah ( bisa dicoba dengan keinginan anak itu yg belum terlaksana ). sampai saat inipun anakku yg SMA itu masih aja...Kelas 1 dan 2 SMA tidak dapat ranking 10 besar ( eh aku janjikan untuk ganti HP nya )ternyata berusaha banget, dan ada peningkatan akhirnya masuk 3 besar. Laa... ya itu kita bisa mengamati keinginan anak yg beda-beda, hal untuk mbr hadiah ini pun aku jg diskusi dengan suami bahkan anak yg sulung jg sdh aku libatkan utk memberi motivasi adiknya jika nanti bisa masuk PT yg faforit.atau teman lain mungkin punya pengalaman ....

Beno said...

Kompetisi tetap perlu, Mas Tahid. Tapi dengan begitu banyak mata pelajaran, terutama SD dan SMP, kita akan memaksa anak menjadi superman kalau berpatokan pada ranking atau peringkat.
Paling tepat mungkin fokus pada beberapa pelajaran, khususnya yang disukai dan menjadi bakat si anak. Misalnya Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.
Bukan berarti pelajaran lain diabaikan, tetapi potensi anak di pelajaran tersebut dioptimalkan.
Merangsang dengan hadiah boleh, namun sebaiknya tidak menjadi hal utama karena kemungkinan malah merusak semangat. Apa-apa harus dihadiahi.
Kompetisi dengan teman anak perlu diciptakan. Misalnya: si anu dapat sekian, kok kamu yang katanya pinter pelajaran itu cuma segini ?
Lebih penting lagi adalah memperkenalkan target. Contohnya target Matematika dapat angka 10 setiap ulangan atau ujian.
Juga target masuk ke sekolah favorit yang tentu membutuhkan nilai standar.
Selamat membina dan mendidik anak cerdas yang soleh ...... tanpa terikat pada ranking. Sekali lagi: ranking cuma dampak !

mujtahid said...

Matur nuwun ... matur nuwun atas komentar dan "urun rembug" njenengan semua, buat nambah jurus mendidik anak. Terus terang aku bener2 dag dig dug bagaimana cara mengarahkan anak sesuai dengan jamannya, apalagi di pinggiran Jakarte seperti saya. Kalau di daerah kayaknya masih lebih enjoy, bakat dan potensi anak masih lebih gampang terpantau dan diarahkan. Kalau disini mau milih sekolah wae sudah pusing setengah mati ... tiwas mbayar larang rung karuan apik.