Thursday, 11 December 2008

Penghujung tahun lalu ...

Wardi, Agus, dan Asmo Pomo (Giyono) adalah juragan Anthurium jenmanii yang selalu menjadi rujukan penghobi tanaman hias. Empat jenmanii milik Wardi pernah ditawar seharga Rp 1,5 miliar, tetapi belum dilepas. Ternyata, jenmanii itu memang harus menjadi milik Wardi selamanya. Bukan hanya empat, ratusan jenis Anthurium dengan nilai yang menggiurkan ikut terkubur bersama jasad Wardi. Seorang pengusaha asal Jakarta yang menitipkan dua anthurium-nya senilai lebih dari Rp 400 juta kepada Wardi (40), terpaksa harus melepas bunga kesayangannya dengan pasrah.

Pada Rabu (26/12/07) dini hari kelabu, sekitar 15 orang berkumpul di rumah Wardi. Nahas menimpa mereka.

Dusun Mogol, Desa Ledoksari, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, yang gemah ripah loh jinawi berkat si emas hijau itu, tiba-tiba berubah menjadi lautan lumpur dan isak tangis. Sedikitnya 35 warga dusun, terbenam dan terkubur hidup-hidup dalam lelehan tanah dari bukit di sisi selatan kampung itu.

Seorang bapak menyebut-nyebut nama anak dan istrinya sambil terbenam dalam duka. Desa yang dihuni 180 keluarga itu tiba-tiba harus berkurang 13 keluarga. Sebanyak 13 rumah hancur dan beberapa rusak parah.

Sedangkan juragan jenmanii Asmo Pomo, kehilangan istri, anak, dan cucunya. Dia juga harus rela kehilangan indukan tanaman yang dia banggakan serta ratusan bibit yang baru disemai. Rata-rata harga jenmanii muda bisa mencapai Rp 1 juta. Tetapi ada juga yang berharga Rp 500 juta.

Sedangkan Agus, yang juga bakul Anthurium, kehilangan dua anak dan istri. Melihat jasad anaknya pun Agus tak kuasa. Kakinya hampir lumpuh ketika menyalatkan jasad anaknya yang baru ditemukan Kamis (27/12/07) siang. "Ah, harta bukan segalanya...," keluhnya panjang.

Bukan hanya nyawa, harta benda milik warga juga ikut tertimbun longsoran tanah. Jenmanii bernilai miliaran rupiah, tak mungkin lagi diselamatkan.

Menurut kabar, di rumah Wardi yang bertingkat dua itu terkubur jenmanii senilai Rp 7 miliar. Rumah Wardi malam itu menjadi rujukan beberapa tetangganya. Setelah bekerja bakti membersihkan longsoran pertama yang tak seberapa, mereka menikmati hangatnya kopi sambil mengobrol. Sekitar 10 lelaki berkumpul di rumah itu. Sebagian dari mereka juga tidur-tiduran. Di samping 10 lelaki, di rumah Wardi juga ada tujuh anggota keluarga lainnya.

Longsor pertama tidak sampai menimpa rumah warga. Saat itu waktu menunjukkan pukul 03.30 WIB dan warga memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing karena sudah masuk waktu salat Subuh. "Selang 15 menit kemudian terjadilah longsor besar itu," ujar Kepala Lingkungan Desa Ledoksari, Widodo.

Longsornya bukit yang tidak diduga sebelumnya itu langsung menimpa sekitar 15 rumah dengan 35 warga di dalamnya. Listrik mati. Warga hanya bisa ternganga. Bingung tak tahu harus berbuat apa. Duka pun menyelimuti dusun itu.

Terkait peristiwa tragis itu, Bupati Karanganyar Rina Iriani, langsung turun tangan dan sibuk mengatur segalanya, mulai dapur umum sampai mencari logistik. Ribuan relawan juga bergantian menggali tanah merah yang menimbun permukiman penduduk di sana.

Benarlah apa yang dikatakan orang soal jenmanii. Selain harganya yang menakjubkan, tumbuhan tropis dengan daya tarik pada daun itu, telah menopang perekonomian rakyat. "Dulu pendapatan per kapita hanya Rp 3 juta. Dengan melejitnya jenmanii, maka pendapatan per kapita mampu mencapai Rp 7 juta," ujarnya.

---
SP. 28/12/07

1 comment:

Beno said...

Saya masih curiga dan sinis hingga sekarang soal harga tanaman yang gila-gilaan itu.
Jangan-jangan itu kerjaan orang yang punya uang banyak tapi tak tahu untuk apa. Akhirnya ''menggoreng'' jenmanii dkk sebagai pelampiasan setelah gagal di bursa saham.
Sama sekali tidak realistis !! Memberi mimpi-mimpi, setelah itu dijatuhkan. Ya orang-orang kecil itulah yang jadi korbane ''wong edan'' !!