Friday, 12 December 2008

Guru dan Garis Hidup


SERASA kehabisan kata-kata ketika ingin membuat kisah atau mengisahkan tentang guru, terutama yang secara langsung atau tidak memberi garis pada karir dan hidup saya sekarang.
Di SD (Wonogiri 8 dekat nJembrok) dulu ada Pak Marino yang memperkenalkan pada pelajaran mengarang. Saya masih ingat, waktu itu diminta mengarang cerita humor singkat. Ceritanya tentang murid yang jengkel karena dilarang mengenakan jam tangan ke sekolah. Akhirnya, si murid bengal (gambaran diri saya hehehehe) ganti membawa jam dinding dengan cara ditalikan ke badannya. Huahahahaha .... lucu !
Setelah itu pelajaran mengarang menjadi salah satu favorit saya. Pernah mendapat pujian selangit ketika ditugasi mengarang surat undangan pernikahan serta menceritakan kembali perjalanan ke sebuah tempat wisata (kalau tidak salah pemandian Selomoyo di Kecamatan Nguntoronadi yang kini telah tenggelam oleh Waduk Gajahmungkur).
Saat SMP ada Bu Gunarti (almarhumah) yang membangkitkan semangat lewat ledekan-ledekannya yang nyelekit, Pak Mufid yang menghadiahi buku ejaan Bahasa Indonesia disempurnakan, Pak Pandoyo (almarhum) yang memberi motivasi, dan masih banyak lagi lainnya.
Tentu saja, majalah dinding yang memberi keleluasaan dalam menumpahkan imajinasi serta ide-ide liar. Sayang, naskah-naskah itu lenyap bersama waktu. Belum ada kesadaran pada waktu itu untuk mendokumentasi, sehingga sekarang akan menjadi kenangan terindah.
Di SMA, saya berjalan sendirian dalam mematangkan kemampuan menulis. Hampir tidak ada bimbingan dari guru atau sekolah, kecuali secara tidak langsung lewat perpustakaan yang beberapa bukunya saya curi (hahahaha, sekarang baru mengaku).
Landasan kuat yang tak boleh terlupakan adalah kedua orang tua sendiri. Beliau sering membawakan buku-buku cerita serta majalah anak-anak. Saya juga menjadi epigon bagi Mas Eko, kakak saya yang ketika SMP dan SMA juga belajar menjadi pengarang.
Ada pula peran paman saya (almarhum) yang bekerja di bagian sirkulasi Kartini Group. Kami mendapat kiriman beberapa majalah gratis. Ada Ananda (almarhum), Dialog (almarhum), Kartini, Putri Indonesia (almarhum), Variasi (almarhum), dan Wanita (almarhum). Pokoknya, bacaan seabreg-abreg. Bahkan Bu Haryati, Pak Fr Suyadi (almarhum), serta Bu Gun pernah tertarik meminjam majalah-majalah yang dikirim lewat SMP Negeri 1 itu.
Di universitas, awalnya saya mencoba jadi mahasiswa yang baik. Kerjaannya belajar thok. Tapi lama-lama gerah juga. Semester 3 dan 4 coba-coba ikut organisasi di kampus, namun tidak kerasan karena diwarnai banyak friksi antara merah, hijau, dan lainnya.
Lalu pindah ke koran kampus. Asyik juga. Selain banyak teman, lumayan mulai memperoleh honor meskipun tidak terlalu besar. Pernah mengorbankan waktu dua semester saat merintis majalah mahasiswa fakultas.
Setelah lulus sarjana dengan predikat ''terpaksa'' dalam waktu 5 tahun 10 bulan saya mencoba meniti karir sesuai jalur studi. Pernah bekerja pada pabrik pembibitan ayam di Pasuruan, tetapi cuma tahan dua bulan karena bosan dan kesepian (alasan nggak masuk akal ya !).
Kemudian melamar ke berbagai perusahaan pakan ternak baik di Jakarta mapun di Surabaya. Beberapa di antaranya sudah tes wawancara, tetapi keburu ''ditangkap'' salah seorang petinggi Suara Merdeka yang melihat potensi saya.
Jadilah saya ''peternak'' berita sejak 1991. Pernah tugas di Blora (1991-1992), Salatiga (1992-1993), Kendal (1993-1995), lalu di-''lemhanas''-kan di LP3Y Yogyakarta selama setengah tahun sebelum di-''penjara'' di redaksi mulai 1996.
Sampai 1999 bertugas di desk ekonomi, lalu pindah ke desk kota hingga 2001 sebelum ditugasi memimpin desk ekonomi. Tahun 2005 mutasi ke desk Jateng selatan dan 2007 diserahi tugas memimpin desk Banyumas hingga sekarang.
Itulah sekelumit kisah hidup saya yang berhubungan erat dengan peran para guru, baik formal maupun nonformal. Mungkin berguna sebagai pengetahuan atau cermin.

8 comments:

Nasih said...

menarik juga untuk dikorek periode kreatif di Kendal (1993-1995)... kelak karena perbuatannya itu Beno "terpenjara" oleh seseorang.

Mincuk said...

Ternyata dari kota ke kota asyik juga ya, pekerjaan yang menyenangkan memang harus didukung dari hasrat hati......tentang tugas mengarang yang diminta guru SD, aku teringat apa betul waktu itu ke selomoyo kita pakai angkutan bak terbuka ? ... seingatku selomoyo ada di dekat giriwoyo sesudah baturetno itu.

Beno said...

Seingat saya, pakai pikapnya Bu Tarmi. Iya, letaknya mungkin dekat Giriwoyo. Apa bekasnya masih ada ya, soalnya saya dengar tahun 1980-an itu ''bangkrut''.
Soal periode di Kendal, itu memang puncak kreativitas saya sebagai jurnalis lapangan. Kalau menyangkut ''seseorang'', ya cuma dampak ikutan, nggak terlalu penting.

Nasih said...

saya dengar, dengan prestasi Kendal itulah kau dapat memuncak ...

(jangan bilang nggak penting, awass)

Beno said...

Wuahahahaha ...... memang nggak penting kok dari segi prestasi jurnalistik saya.
Di Kendal, saya membuat reportase mengenai desa-desa sumber TKI yang memperoleh pujian dari bos-bos dan senior.
Lalu, membuat berita kecelakaan kereta api secara lengkap dan tuntas selama berhari-hari. Nah dapat pujian lagi.
Kalau akhirnya ketemu putri Solo di sana, ya seperti yang pernah saya kisahkan: ketimbang podho nganggure yo ayo kawin wae hehehehehehehehehehehehehe !!!!!!

Susilo said...

Memang habitatnya beno itu di tulis menulis. surat kawin mungkin juga ditulis dhewe...pengen sih bisa nulis kaya beno tapi ternyata sampai saat ini yang bisa tak lakoni mung sampai tahap nggabut buku perpus, liyane belum nyanthol. Mungkin memang habitatku lagi bagian nggabut-menggabut ya...

Beno said...

Percayalah, semua pasti bisa menulis. Kari wani opo ora !
Soal nggabut buku di perpustakaan, lha kok hobi kita sama ya. Dasar ......

Nasih said...

untuk temen semua apalagi yang nggak bisa, nggak biasa atau nggak mau menulis, maka menulislah di blog ini ...
bakalan ngetop markotop lho