Tuesday, 2 December 2008

Setiap Anak Hakikatnya Cerdas

MEMILIKI anak cerdas adalah kebanggaan orang tua. Tidak ada satu orang tua pun yang tak bersemangat ketika menceritakan kehebatan anak-anak mereka. Prestasi anak yang selalu mendapat peringkat I-III atau termasuk lima besar di kelas membuat orang tua makin memacu anak mempertahankan prestasi atau meraih prestasi lebih tinggi, bahkan tertinggi.

Persaingan sedemikian ketat, terutama di sekolah-sekolah favorit, tidak hanya antaranak. Orang tua pun sering tanpa sadar terjebak dalam "permusuhan" terselubung.

Murid cerdas pun sangat dibangga-banggakan oleh para guru, kepala sekolah, dan lembaga sekolahnya. Sekolah mana tidak bangga jika anak-anak didiknya berhasil menggondol piala kejuaraan di tingkat kabupaten, kota, provinsi, apalagi nasional. Berderet-deret piala dipajang di ruang kantor kepala sekolah yang terkadang berdebu karena terlalu banyak dan tak pernah dibersihkan.

Kebanggaan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Namun kita tentu perlu berpikir lebih jauh, apakah tolok ukur kecerdasan adalah peringkat atau piala? Pendapat para orang tua, guru, kepala sekolah, dan masyarakat umumnya tentang anak cerdas adalah anak-anak yang mampu mencetak nilai akademis tinggi.

Adapun anak yang mendapatkan nilai 5 atau 6 di bidang-bidang nonakademis seperti kesenian, jasmani, keterampilan akan dilabel "bodoh". Padahal, mungkin anak "bodoh" itu mempunyai nilai unggul di bidang olahraga, keterampilan, atau kesenian.

Howard Gardner, pakar multiple intelligences (kecerdasan majemuk), kurang setuju dengan pendapat tersebut. Dalam buku Frames of Mind dia menyatakan setiap anak pada hakikatnya cerdas.

Bukan Hanya Intelektual

Kecerdasan manusia bukan hanya kecerdasan intelektual, atau lebih dikenal dengan istilah IQ. Ada kecerdasan-kecerdasan lain yang dimiliki setiap anak. Mungkin mereka memiliki kecerdasan di bidang bahasa (linguistik), logika matematika, musik (musikal), ruang (visual spasial), gerak tubuh (motorik-kinestetik), bergaul (interpersonal), pengenalan diri (intrapersonal), alam (naturalistik), dan rohani (spiritual).

Kecerdasan bahasa dapat ditunjukkan seorang anak melalui kepandaian berkomunikasi dengan orang lain. Kecerdasan logika matematika biasanya ditunjukkan dengan kemahiran berhitung. Kemahiran dalam bidang olah vokal mudah mengingat melodi dan memainkan alat musik merupakan bentuk pengungkapan kecerdasan musik. Keunggulan kemampuan seorang anak membayangkan (visualisasi) hal-hal bersifat abstrak merupakan jenis kecerdasan visual spasial.

Kemahiran mengendalikan tubuh untuk menghasilkan suatu karya, memecahkan masalah, atau berkomunikasi merupakan bentuk kecerdasan gerak tubuh. Kemampuan membina hubungan dan kerja sama yang baik dengan orang lain merupakan bentuk kecerdasan interpersonal.

Para pendidik ketika mengajar di kelas perlu jeli melihat potensi kecerdasan anak. Cara mudah bagi guru untuk mengidentifikasi jenis kecerdasan murid adalah mengenali kecerdasan yang paling berkembang dalam diri siswa dengan mengamati kenakalan siswa di kelas. Siswa yang biasanya sering menyela pembicaraan guru atau teman adalah siswa yang cerdas dalam bidang bahasa.

Jika suka mencoret-coret dan melamun, itu petunjuk bahwa siswa tersebut memiliki kecerdasan spasial tinggi. Siswa yang berkecerdasan interpersonal tinggi akan cenderung mengobrol di kelas. Siswa berkecerdasan kinestetis jasmani tidak bisa duduk diam, sering berjalan-jalan di kelas. Adapun siswa yang memiliki minat tinggi pada alam mungkin suatu saat tiba-tiba membawa binatang ke dalam kelas tanpa izin.

Murid dengan kecerdasan musikal tinggi cenderung membuat kegaduhan dengan mengeluarkan bunyi-bunyi khusus, entah memukul-mukulkan pensil ke kotak pensil atau meja, sepatu ke lantai, dan sebagainya.

Disiplin - Frustasi

Guru sering salah menyikapi siswa yang memiliki keanekaragaman beserta keunikan masing-masing dengan pendisiplinan yang sebenarnya justru membuat siswa frustrasi dan tak dapat mengembangkan kecerdasan mereka. Bukan berarti kita menoleransi kenakalan mereka di kelas. Namun guru perlu melakukan pendekatan individual untuk mengarahkan potensi anak tersebut.

Kurikulum 2004 yang akan diberlakukan pada tahun ajaran 2004/2005 menekankan pada kurikulum berbasis kompetensi (KBK), yang menuntut kemampuan guru menularkan kompetensi kepada anak. Dengan demikian, anak didik pun mempunyai kompetensi seperti diharapkan.

Dalam buku Kurikulum Berbasis Kompetensi tulisan Mulyasa (2002: 40) ada tiga landasan teoretis yang mendasari kurikulum itu.

Pertama, ada pergeseran dari pembelajaran kelompok ke arah pembelajaran individual.

Kedua, pengembangan konsep belajar tuntas.

Ketiga, pendefinisian kembali terhadap bakat. Hal itu memberikan beberapa implikasi terhadap pembelajaran, antara lain pembelajaran perlu lebih ditekankan pada kegiatan individual meski dilaksanakan secara klasikal dan perlu memperhatikan perbedaan peserta didik.

Karakteristik kurikulum berbasis kompetensi antara lain adalah proses pembelajaran bukan teacher centered melainkan student centered. Jika pembelajaran berpusat pada anak, guru hanya berfungsi sebagai fasilitator. Jadi guru perlu melakukan pendekatan kepada anak secara indvidual. Itu berarti guru harus benar-benar mengenali setiap anak baik karakter, perilaku, kecepatan, maupun gaya belajar, termasuk potensi kecerdasan meerka.

Memang cukup berat dapat menjalankan kurikulum berbasis kompetensi. Sebab, kurikulum itu sangat menuntut profesionalisme guru sebagai pendidik, jumlah siswa dalam kelas tidak terlalu banyak, metode mengajar harus bervariasi, menekankan pada proses dan hasil, dan tuntutan untuk dapat memahami anak secara individual.

Tidak heran jika banyak pakar pendidikan pesimistis atas pelaksanaan kurikulum itu. Sebab, mereka jelas-jelas menyadari bahwa sebagian kelas di Indonesia adalah kelas "gemuk" dengan sumber daya manusia yang rendah dan enggan berubah, tidak inovatif dan kreatif, mewarnai pro-kontra seputar pemberlakuan kurikulum itu.

Terlepas dari pro-kontra mengenai kurikulum berbasis kompetensi, toh ''ide'' itu sudah diadopsi pemerintah dan telah disosialisasikan. Juga sudah terselenggara pelatihan-pelatihan. Bahkan beberapa sekolah telah mengujicobakan.

Jadi tak ada salahnya kita optimistis lebih dahulu. Setidaknya pengenalan mengenai kecerdasan majemuk atau ganda (multiple intelligences) yang menyatakan bahwa setiap anak cerdas tentu membantu dan mendukung kita untuk menyukseskan pemberlakuan kurikulum tersebut. (18g)

-Yulianti Siantayani SPd, mahasiswa S2 PPS Unnes Program Manajemen Pendidikan
SM. Sabtu, 31 Januari 2004

10 comments:

Beno said...

Sengtungju !!

mujtahid said...

Wis pokoke cedak guru ki nambah ngelmu

Nasih said...

campur bu guru, tambah enak .... lan .... anak

Beno said...

Marahi pengin campur bu guru wae ......

Mincuk said...

bener lo.. mas nasih, campur bu guru weeeeeeeeenaaaaak banget, mas beno ora percoyo..? coba aja...

Nasih said...

iyo Beno, coba takon Tahid sing wis pengalaman ... eh pengamalan

mujtahid said...

Ra penak piye ... la wong yen ra iso diajari kok!

Susilo said...

pokoke luput ra luput yen gurune durung marem ya prentah "Ulangi...!!!"

Nasih said...

saya akeh pengulangnee saya manteb ...

Beno said...

Weh weh weh, lha kok podho nggladrah. Mangsudku kan .........