Friday, 23 January 2009

Mas Patrem kami tetap berdoa untukmu


Sangat kaget sekali, itu perasaan saya ketika membuka blog ini beberapa hari yang lalu. Betapa tidak, informasi tentang sakitnya Patrem justru datang dari blog ini, padahal jarak rumah kami hanya berkisar 100 meter (jan kebangeten, gak tau berita dari kawan terdekat). Sebagai bentuk penebus dosa, dalam hati saya berjanji untuk mengunjungi sedulur lanang kita ini sesegera saya bisa. Akhirnya pada Kamis kemarin saya jadi berkunjung ke RS Muwardi di Solo untuk memantau perkembangan kesehatannya. Pada kamis yang cukup panas itu sekitar jam 2 siang saya sowan kepada kanjeng Patrem di rumah sakit. Agaknya memang sudah ada kontak batin di antara kita, tanpa janjian ketika saya masuk kamar cendana lantai 3 no. 16 itu di sana sudah ada mbak Yani (barangkali mbak Yani meniru suaminya untuk juga Visit pasien). Di ranjang tergolek tapi masih sangat berdaya, sohib saya Patrem alias Cundrik sang selebritis blog minggu ini cengengas-cengenges dengan senyumnya yang khas. Kuamat-amati wajahnya biasa saja hanya dari bekas sayatan memanjang di perut dan di bawah perut menyembul selang-selang, juga satu selang di tangan (katanya sudah 4 selang yang dilepas, lumayan sakti juga dia, kayak gitu masih bisa cengengesan). Dari pengamatan saya, tampaknya sedulur lanang ini sudah tinggal pulihnya saja. Ditemani sang istri mbak Endah yang setia dan ramah, bercakaplah kami tentang apa saja setelah saya mendengarkan kronologis dari sakitnya sang Pusaka. Kami ngobrol tentang pertemuan besar-besaran di rumah mbak Yani(soalnya mbak Yani bilang : direwangi nyewa kursi saka persewaan RT), tentang Hartatik, tentang Golkar (golongan kasep rabine) dan lain-lain. Sembari berempat menikmati kue Imlek, kami ketawa ketiwi ketika ngobrolin berbagai pernik masa lalu yang menggelitik ... . Tanpa terasa sudah jam 3 sore, saya dan mbak Yanipun pamitan kepada yang empunya sakit, seraya berdoa untuk kepulihan dan kesehatannya. Soal pengalaman sakitnya, biarlah Kang Patrem sendiri yang bercerita suatu kali nanti.

Percayalah, mas Patrem kami tetap berdoa untukmu.

7 comments:

Nasih said...

semoga lekas recovery, untuk meneruskan kembali tugas dan kewajiban hidup ....

mujtahid said...

Kalau masalah kritik tulisan biar pakarnya aja yang kasih komentar. Tapi menurutku, apapun bentuk tulisan kita adalah unik dan khas sesuai dengan gaya kita masing2, jadi ga usah terlalu takut, hajar aja!
Salut yu atas usahamu yang tak kenal lelah, kau betul2 pionir di Wonogiri. Saya sudah menduga, bahwa orang2 seusia kita banyak yang masih gagap komputer apalagi ngeblog. Saya usul teman2 yang ada seperti njenengan, Patrem, Susilo dll meluangkan sedikit waktu (semacam kursus gratis) untuk teman2 yang lain. Tidak ada waktu terlambat untuk mencerdaskan diri dan membuka wawasan, jadi teman2 ngga usah malu2. Gimana?
Terakhir trims banget udah upload ganbar temanku YB

mujtahid said...

Ralat :
Komentarku diatas salah tempat, sebetulnya ditujukan untuk mbak Mincuk di judul : Pertemuan 2 Sahabat SMP.
Sory ya maklum lagi ngga konsen

Beno said...

Saking bersemangat, Mas Tahid salah letak postingnya. Tapi Nggak apa-apa.
Saya juga pernah kan ketika posting Kenang saya kira punya Mas Tahid ....

mujtahid said...

Sus, niliki wong loro, yo niliki wae ra sah ngrasani Hartatik ... mengko ono sing mak sengkring lo ... he he. Soale yen ngomongke Hartatik mesti ora lali nyrempet2 karo sing baurekso Yogya sing suka cembokur kae lo!

Nasih said...

Hid, ha ... ha ... ha

Beno said...

Hehehehehe .... pancen Mas Sus sengojo nyrempet Hartatik ben podho krang kring, rodo dheg-dhegan ngono wuahahahahahahahahaha ......