Wednesday, 28 January 2009

Mendengar Jeritan Wonogiri Selatan

KONDISI menyedihkan di dua kecamatan di Wonogiri selatan, yakni Pracimantoro dan Giritontro, membenarkan teori dalam ilmu politik: daerah yang terletak jauh dari pusat, atau daerah pinggiran (perbatasan luar / periferi) cenderung kurang terperhatikan. Akibatnya, daerah tersebut selalu terbelakang dalam segala hal.

Dalam konteks Kabupaten Wonogiri, daerah yang termasuk pusat adalah wilayah yang menjadi pusat pemerintahan dan wilayah yang berdekatan dengannya. Pusat pemerintahan sudah jelas, yaitu Kota Wonogiri. Sedangkan yang berdekatan adalah Kecamatan Selogiri (sebelah utara / barat laut kota), Wuryantoro (sebelah selatan / barat daya kota), dan Ngadirojo (sebelah timur kota).

Dalam banyak hal, khususnya pembangunan ekonomi dan prasarana fisik, Pracimantoro dan Giritontro jauh tertinggal dari wilayah-wilayah yang berdekatan dengan pusat pemerintahan itu.

Selain Pracimantoro dan Giritontro, masih ada lagi kecamatan di pinggiran, misalnya Purwantoro. Tetapi Purwantoro dilalui oleh jalur utama Wonogiri-Ponorogo, sehingga kota kecamatan itu menjadi tempat transit. Alhasil Purwantoro ikut menikmati kue pembangunan, sebagaimana Baturetno yang berada di jalur utama Wonogiri-Pacitan.

Pinggiran Provinsi
Pracimantoro dan Giritontro tidak hanya berada di pinggiran bagi Kabupaten Wonogiri, tetapi juga berada di pinggiran untuk Provinsi Jawa Tengah. Pracimantoro berada di pinggir paling selatan, sementara Giritontro pinggir paling tenggara dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Pacitan (Jatim). Keduanya termasuk wilayah yang sangat jauh dari Semarang: pusat pemerintahan Jateng.

Baik Pracimantoro maupun Giritontro berada di jalur utama Yogyakarta-Pacitan. Keduanya dilalui jalan utama jalur selatan Jawa yang membentang dari Cilacap sampai Pacitan, dan dapat berlanjut sampai Trenggalek. Akibat kurang terperhatikannya kedua wilayah itu, baik oleh pemerintah kabupaten maupun provinsi, masyarakat setempat lebih suka berhubungan dengan Yogya, baik untuk kepentingan menuntut ilmu maupun mencari penghidupan baru. Akses ke Yogya lebih mudah, dekat, dan terbuka ketimbang ke Wonogiri, Solo, dan —apalagi— Semarang.

Sejak akhir kekuasaan Orde Baru, dan berlanjut di era reformasi, sebenarnya sudah ada konsep pengembangan di kawasan itu. Kerja sama tiga kabupaten, yakni Gunungkidul (DIY), Wonogiri (Jateng), dan Pacitan (Jatim) sudah dijalin resmi dalam konsep pengembangan kawasan Pawonsari (Pacitan, Wonogiri, dan Wonosari).

Tetapi sampai saat ini, konsep pengembangan tiga wilayah di pantai selatan itu belum begitu sinergis. Gunungkidul dan Pacitan lebih serius dalam mengembangkan kawasan Pawonsari, sebagaimana terlihat dalam pembangunan jalan utama yang lebar dan mulus. Bahkan jalan jalur selatan di Pacitan jauh lebih memadai, lebih lebar, dan ber-hotmix.

Dalam pengembangan objek wisata, Gunungkidul dan Pacitan juga ’’habis-habisan’’. Jalan-jalan menuju objek wisata dibuat halus dan lebar. Objek-objek wisata di kedua daerah itu juga terus dibenahi.

Implikasinya, jumlah wisatawan yang berkunjung ke pantai-pantai di Gunungkidul, seperti Baron, Kukup, dan Sundak, dari tahun ke tahun mengalami peningkatan secara signifikan. Peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung ke objek wisata di Pacitan, seperti Goa Gong dan Pantai Teleng Ria, juga terus meningkat.

Jauh Tertinggal
Bagaimana dengan Wonogiri? Belum adanya keseriusan Pemkab Wonogiri, membuat kabupaten ini jauh tertinggal dari Pacitan dan Gunungkidul dalam kerja sama pengembangan kawasan Pawonsari. Jalan di jalur selatan yang melewati Pracimantoro dan Giritontro masih jauh dari memadai.Selain belum begitu lebar, juga kurang mulus; tidak seimbang dengan kondisi jalan yang ada di Gunungkidul dan Pacitan.

Begitu pun dalam pengembangan objek wisatanya. Pantai Sembukan dan Pantai Nampu yang ada di Desa Paranggupito, Kecamatan Pracimantoro, belum dipoles dengan baik dan optimal. Padahal kalau kedua pantai itu dipoles, dan jalan menuju ke sana dibuat halus dan lebar, tentu akan berkembang menjadi objek wisata unggulan sebagaimana Baron dan Teleng Ria.

Jika Sembukan dan Nampu dikembangkan secara serius, otomatis masyarakat Solo Raya —meliputi Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Surakarta, Sragen, dan Karanganyar— akan memiliki objek wisata pantai kebanggaan sendiri. Kalau Nampu dan Sembukan diberi perhatian serius, tidak mustahil jalur menuju Pracimantoro, baik melalui Wuryantoro maupun Baturetno, bakal sangat ramai.

Bagi Wonogiri, pengembangan kedua pantai itu tak hanya akan memperkaya objek wisata yang ada, terutama Waduk Gajahmungkur, tetapi juga akan mengatrol pendapatan asli daerah (PAD).

Sedangkan bagi kawasan Solo Raya, hal itu makin melengkapi keberadaan objek wisata unggulan, seperti Tawangmangu, Candi Sukuh, Situs Sangiran, Kraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, Taman Satwataru Curug Sewu, Rowo Jombor, Waduk Kedungombo, waterboom Solo Baru, dan Waduk Gajahmungkur.

Dalam konteks pembangunan ekonomi daerah, pengembangan Pantai Nampu dan Pantai Sembukan akan memunculkan trickle-down effects, atau dampak ikutan yang berarti. Tidak hanya rumah makan dan toko baru yang akan bermunculan di Pracimantoro dan Giritontro, tetapi juga hotel dan penginapan —khususnya di Pracimantoro.

Tidak mustahil Pracimantoro dengan wilayah pantainya akan menjadi tempat tetirah dan peristirahatan baru, sebagai alternatif lain dari Tawangmangu. Apalagi kalau di kecamatan ini dapat segera direalisasi pembangunan Museum Karst, seperti direncanakan Pemkab Wonogiri, maka nilai tambah kawasan itu makin kentara, karena juga cocok untuk dijadikan daerah tujuan wisata pendidikan. (32)

---
Oleh: Drs Sarworo Soeprapto MSi, peneliti masalah pertanian, pedesaan dan budaya; beberapa kali meneliti seni tradisi di kawasan Pawonsari. Suara Merdeka, 24 Januari 2009

7 comments:

Mincuk said...

Kalau begitu bagaimana partisipasi kita orang Wonogiri untuk andil dalam mengurangi ketertinggalan daerah tersebut( yang satu daerah asal Admin Blog 81 ), tidak hanya daerah itu saja sebelah selatan yang tertinggal ( Paranggupito ) yang mempunyai banyak sekali pantai yang jika penanganannya serius niscaya bagus sekali, masih sangat perawan sekali perlu polesan (pantai sembukan, ramai jika ada peringatan 1 syuro...pantai nampu dll )

Beno said...

Wonogiri Selatan kita jual saja sama China, Wonogiri Utara dilego ke Jerman, Timur dan Barat digadaikan ke AS, lha tinggal yang tengah-tengah pas waduk itu. Beres kan ? Wong bupatinya juga cuma jalan-jalan dan marah-marah .....

Mincuk said...

Berartiiiiii...., Aku ada di sekitar waduk tetap deh jadi orang Nogiri, temanku jadi orang luar Negeri semua... ha.. ha.. ha.

Beno said...

Awas, siap-siap tenggelam oleh lumpur waduk !

Giritontro said...

Wonogiri oh wonogiri...........saya lahir tahun 74, sudah ganti camat ,bupati , gubernur bahkan presiden berkali-kali tetap saja wonogiri bagian selatan MISKIN, TERBELAKANG, SERBA KEKURANGAN , kalau kemarau pasti KEKERINGAN.

Apakah warga wonogiri peduli ???????

kalau kami boleh memilih, kami didaerah selatan wonogiri ingin gabung dengan wonosari , kenapa ? ya karena akses ke daerah tersebut mudah, murah karena kendaraan selalu ada.

bandingkan jika kami harus ke wonogiri ?????
Mau ngurus surat-surat penting seperti AKTE KELAHIRAN, kami harus ke wonogiri dengan jarak tempuh 1 jam, dengan biaya kalau naik bis 20.000 PP hanya untuk ongkos angkutan.

jarak dari wonogiri ke giritontro 60 KM. terlalu jauh untuk ukuran kecamatan diwilayah wonogiri. belum lagi wilayah Paranggupito yang super jauh lagi.

Tolonglah bagi bapak-bapak yang mempunyai jabatan , pikirkan sedikit saja daerah kami.

Sekarang pemilu sudah dekat , banyak umbul-umbul partai dan atribut CALEG bertebaran diwilayah selatan wonogiri, semua menjanjikan ini itu.......

mujtahid said...

Memang kalau dipikir2, letak ibukota Wonogiri itu tidak strategis, kurang ke tengah, terlalu mepet ke utara. Wis ngono wilayahnya terlalu luas. Bandingkan dengan Sukoharjo. Mas-ku baru saja dipindah dari Wonogiri ke Sukoharjo, ngrasakke ... penak tenaan! La biasane nderekke bupati tarling setiap malam Ramadhan ke seluruh kecamatan di Wonogiri dengan jarak puluhan kilometer, pas bakda mesti kari ambruk-e. Begitu di Sukoharjo, durung nganti ambekan wis tekan ngendi-endi.
Ide pemekaran wilayah menurutku bagus asalkan dipikirkan dengan matang demi kesejahteraan rakyat, bukan demi nafsu berkuasa segelintir orang. Kalau pemindahan ibukota kayaknya lebih berat konsekwensinya. Kabupaten Wonogiri Selatan ... oke juga!

Beno said...

Hidup Republik Wonogiri Selatan !!