Wednesday, 14 January 2009

Segitiga Emas Kini : Dari Opium menjadi Wajah 3 Negara dalam 1 Delta

Setelah mengunjungi Thailand bagian selatan, yang menurut berita agak
rawan, menikmati Tom Yam dan kelapa yang manis tanpa tambahan gula,
maka pada siang hari kami meningggalkan Prince Songkla
University menuju bagian utara Thailand. Dari hangatnya udara di Hat
Yai, udara di Bangkok terasa agak dingin. Sembari menunggu waktu,
melihat-lihat bandara Suvarnabhumi yang lumayan luas (rasanya bandara
Soekarno Hatta kita menjadi nampak kecil dan agak obsolte ;(,
ini sekedar membandingkan dengan sesama negara Asean dengan GDP
penduduk yang hampir sama). Nampak sekali bagaimana bandara
Suvarnabhumi ini didisain dingan visi jangka panjang dan untuk
mendukung dengan total Thailand sebagai kota tujuan wisata dan
sekaligus hub perjalan udara.

Perjalanan berlanjut ke bagian utara, Chiang Rai, untuk mengunjungi Mae
Fah Luang University yang baru berdiri sejak 1998. Udara dingin dibawah
10 C menyambut kedatangan kami di Chiang Rai. Setelah beragai kegiatan
di MFLU sore hari kami sempatkan waktu menuju Segitiga Emas. Daerah
penghasil opium terbesar didunia pada masa-masanya sebelum narkoba
menjadi musuh utama dunia modern. Setelah mengunjungi Hall of Opium dan
menikmati museum yang tertata dengan informasi seputar Opium dari
penggunaan awal sampai dengan bisnis opium dan berbagai tetek
bengeknya, kami menuju the Golden Triangle. Saya tidak hendak mengulas
tentang opium atau yang lain, tetapi melihat dari sisi bagaimana 3
negara menyikapi posisi segitiga emas dengan segudang sejarah yang
terkandung didalamnya.


Terletak di aliran sungai mekong yang membentang dari daratan China,
pada delta segitiga emas bertemulah titik perbatasan 3 negara
(Thailand, Laos dan Myanmar). 3 negara di delta ini bukannnya cerita
klasik China dengan judul Sam Kok. Tetapi sebuah fakta yang sedang
terbentang.



Thailand dengan unggulan wisatanya telah dengan apik menata sisi tepi
segitiga emas di bagian Thailand dengan resort dan kawasan wisata yang
menarik. Infrastruktur tertata apik, jalan, pertokoan, hotel, point of
interest, dll telah terbangun dengan baik. Wisatawan asing dan domestik
menjadi salah satu urat nadi utama perekonomian daerah, dan telah mampu
mengubah daerah ladang narkoba menjadi daerah tujuan wisata. Masyarakat
juga telah terdidik untuk menyikapi kunjungan turis. Dalam hal ini
Thailand telah mampu memetik suatu keuntungan tersendiri dari sejarah
kelam dari segitiga emas. Bukan lagi opium yang ditemukan tetapi
suguhan pemandangan, kios-kios cendera mata, restoran, hotel dll dengan
dukungan akses jalan yang cukup lebar dari Chiang Rai. Perjalanan 45
menit terasa lancar tanpa kemacetan dengan laju 100km/jam.



Dari titik pandang pengamatan di bagian delta terlihat disisi kanan
adalah wilayah Laos dan disisi kiri wilayah Myanmar. Jika di sisi
Thailand telah berkembang dengan cukup apik, pemerintah Laos nampaknya
mulai melirik potensi segitiga emas ini. Ditepi Mekong bagian Laos
mulai nampak embrio hotel, resort dan berbagai infratruktur lain yag
sedang dibangun. Kata teman dari MFLU, setahun yang lalu
bangunan-bangunan di sisi Laos masih belum ada. Diperkirakan dalam 1-2
tahun kedepan di sisi Laos akan berdiri berbagai infrastruktur yang
akan dapat dipergunakan sebagai tempat untuk menikmati segitiga emas.
Dengan perahu motor tempel, kami menyusuri delta mekong dan mendekat ke
sisi Myanmar, tetapi tidak turun, karena yang ada adalah semak belukar
sejauh memandang. Hanya ada kasino di tepi Mekong (yang ini katanya
juga milik orang Thailand, karena di thailand kasino dilarang oleh
hukum). Selanjutnya memutar ke sisi Laos dan semakin jelas adanya
pekerjaan infrastruktur bangunan. Kami mendarat di sisi Laos di sebuah
perkampungan kecil. Membayar 20Baht (Rp. 7000) untuk semacam karcis
masuk Laos. Hanya dititik, tempat yang mirip pasar krempyeng, ini kami
berjalan-jalan melihat cindera mata yang dijual. Harga-harga barang
sedikit lebih murah dibandingkan di Thailand dengan beberapa
sentuhan khas Laos yang sedikit agak berbeda dengan Thailand.



Dari sisi ini semakin nampak bagaimana tepian disisi Thailand sudah
sedemikian siapnya memanfaatkan peluang yang ada. Disisi Laos mulai
menggeliat dan nampak berbenah,s edangkan disisi Myanmar masih tertidur
lelap. Nampak jelas bagaimana satu titik disikapi dengan berbeda dan
memberikan dampak yang jelas berbeda.



Yah akhirnya kami kembali ke MFLU dan masuk kamar jam 11 malam, setelah
putar-putar di pasar malam (pasar yang memang buka malam) di Chiang
Rai. Makan seafood di lapangan terbuka dengan suguhan musik dan
dikelilingi kios-kios makanan yang tertata bersih.

16 comments:

A N T O said...

Kapan yah aku bisa ke LN spt tmn2 yang lain.... Neng Bali wae durung tau....

Beno said...

Pasti, suatu saat ada kesempatan, Mas Anto. Jangan khawatir.
Buat Mas Tahid, terima kasih atas kisah perjalanannya yang memperkaya pengetahuan dan wawasan. Jangan kapok, ayo nulis terus !
Ini wong Yogya sedang sakit. Entah sakit sendiri atau keluarganya, kurang jelas saat dia nelepon. Mudah-mudahan segera sehat dan jaga blog ini lagi.

Bambang Supriyadi said...

Kapan libur mas Anto, wis cepet pesen tiket sedyo mulyo nang Bali sekalian bulan madu.

Tahid, thanks kisah perjalannya, tambah putih gak?

Mincuk said...

Syukurlah, ternyata teman-2 blog 81 banyak yang dibutuhkan negara hingga bisa ke LN dengan misi yang bermanfaat,.. atau hanya dolan saja.( Tugas atau jalan-2 mas Tahid? ). Kalau aku cukup tugas antar kabupaten ( ke Semarang aja..) yang penting dilaksanakan dengan Iklas dan senang. Betuuuu..l kan ! Selamat datang kembali ke negara tercinta.Mas Nasih yang katanya sakit semoga cepat sembuh ya..?

Kenang said...

Ehhh, kalau mau ada cara dolan ke LN yang murah:
1. Sudah punya NPWP (biar nggak mbayar fiskal)
2. Nyari tiket promo AirAsia (kemarin dalam rangka tugas ke beberapa uni di Thailand ini, saya berangkat dengan tarif tiket Rp.0, hanya kena asuransi dan biaya bagasi menjadi Rp. 110.000,- sama dengan travel dari Solo ke Malang
3. Cari penginapan bagpack atau penginapan murah. Di thailand penginapan dengan harga sekitar Rp.200.000 per malam sudah cukup lumayan (kebetulan saya nginapnya di Guest House univ yg dikunjungi, jadinya gratis)

Enaknya lagi juga amat jarang terjadi pemalakan harga karena turis, harga relatif standard. Termasuk taxi dng jujur mengantarkan lewat jalur terpendek.

Beno said...

Hehehehe .... Mas Kenang lama nggak nongol. Nongol-nongol langsung kasih kiat jos.

Mincuk said...

Mudah-2 an kiat jos nya bisa kita gunakan, ternyata di seberang negara sana segala sesuatunya masih bisa dijangkau.

Beno said...

Itulah, Mbak, ke luar negeri kan tak identik dengan mahal. Asal tahu trik dan strateginya.

Mincuk said...

Iya mas, mudah-2 an bisa nyampai LN, tunggu aja tanggal mainnya..

Beno said...

Ke SMP Netral (masih ada nggak ya) atau ke SMP Kristen kan sudah ke luar negeri to ........... hehehehehehehehehehe !!

Kenang said...

Tips buat yg kerja di pendidikan (guru or dosen):
- Cari kenalan lewat internet/email. Nah ini bisa berlanjut sampai ada undangan dll.
Kalau sudah punya kontak sering-sering kita cuman ngongkosin perjalanan kita dan makan di lokasi, penginapan dapat gratis dari institusi yg dikunjungi. Karena sekarang sedang eranya cross culture saling bertukar dll.
- Jalin kontak, kalau sudah ada kontak bisa sharing informasi dll, selanjutnya terkadang berlanjut sampai invitation
- Coba cari sponsor (sekarang banyak yg bersliweran tinggal bagaimana kita menyikapi, ya mirip cerita Golden Triangle masa kini. Mau jadi Myanmar, Laos atau Thailand) atau siapkan dana sendiri.

A N T O said...

Iya Mas Bambang... tak mampir nek Insya Allah tekan Bali..
Wah ternyata murah juga yah ke Thailand, berarti tinggal manfaatkan NPWP dong. Carane manfaatke NPWP piye Mas Kenang ?

Mincuk said...

Ngomong tentang SMP Netral ( SMP 1 masuk siang, istilah kita dulu ) sudah almarhum lama . benar juga itu sekolah LN nya wonogiri.

Beno said...

Wah banyak kenangan yang hilang. SMP Netral, SPG, SMP Pancasila, dsb-dsb.

Beno said...

Saya keliru besar. Saya kira ini postingan Mas Tahid, karena fotonya mirip dia sih. Ternyata postingan Mas Kenang. Sori ya Mas Kenang, salah sangka nih !

mujtahid said...

Ojo do keliru to, yang nulis ke Thailand itu Kenang lo, bukan aku. Pingin banget aku kesana, tapi takut tegoda .... wuahaha ... padahal memang dasare pingin digoda. Kalau teman yang satu itu aku memang aku yakin kin "iman" dan "imin" nya kuat sehingga berani keluyuran kesana.
Bebas fiskal pakai NPWP gampang mas Anto, siapin aja fotocopy paspor dan npwp (soalnya fotocopy di bandara suka ga ok). Langsung diurus di bandara ga sampai 5 menit jadi.