Friday, 16 January 2009

Wajah Lain Pantai Timur Thailand






Kebanyakan orang Indonesia yang berbicara tentang pantai-pantai di Thailand akan megatakan Pattaya dan Phuket. Secara khusus orang akan merujuk Pattaya karena beberapa sebab, mungkin karena kedekatannya dengan Bangkok, sekitar 2 jam perjalanan dan kehidupan malamnya yang liar, bahkan orang Thailand sendiri sebagian mengatakan sebagai Nightlover, pecinta kehidupan malam. Siang hari pantai sepi hampir tidak ada kegiatan, sednagkan malam hari, hiruk pikuk berjalan sampai menjelang pagi. Totally exploted area. Termasuk manusianya dan secara khusus kaum perempuannya. Yang namanya (kata teman yg ke Pattaya) Sekda dan Bupati diumbar di jalan-jalan pinggir pantai jadi suatu pertunjukkan yang biasa.

Dalam perlajanan hari kelima di Thailand, setelah mengunjungi Universitas Burapha dengan kekhususan di masalah kelautan dan memiliki keunggulan dalam bidang keperawatan (nursing) malam hari kami diundang makan malam sambil mendiskusikan rencana-rencana lebih lanjut dari kerjasama. Menjelang pukul 9 malam acara makan malam selesai. Seorang teman mengajak mengunjungi Pattaya, yg berada dalam jarak tempuh 1 jam dengan bus, namun setelah saya perhitungkan jamnya dan berbagai hal saya tidak ikut pergi dan memilih berjalan di tepian pantai Bangsai dalam jarak tempuh bersepeda dari Univ. Burapha. Pantai tempat menikmati lunch pada siang hari kunjungan kami..

Pantai yang cukup bersih dan nyaman (menurut ukuran saya). Lebih dari 1km memanjang tepian pantai tertata rapi dengan jajaran pohon kelapa yang nyaman untuk melindungi dari terik matahari dan memberikan kesan indah. Jalur pedestrian dengan paving blok, jalur multi fungsi dengan lantai keramik membentang disepanjang pantai. Tepian pantai terisi dengan bentangan pasir putih yang cukup bersih.

Siang hari sepanjang pantai tertata apik meja kursi dan payung pantai untuk tempat menikmati suasana pantai, ngobrol maupun makan. Jika di siang hari pantai dipenuhi dengan meja kursi dan payung pantai, malam hari sudah bersih dari berbagai benda tersebut. Terlihat satu dua orang menyisir pantai menggunakan metal detektor (barangkali mencari koin atau mungkin logam-logam yang tertinggal untuk menjaga kebersihan pantai). Pada malam hari di sepanjang tepian jalan, yang juga membentang lebar disepanjang tepi pantai, serta di beberapa meeting point penjaja makanan (kaki lima) menjajakan dari telur bakar, telur pisang dan makanan laut (udang, cumi, kepiting cangkang lunak dan ikan-ikanan segar) yang siap bakar dan disantap. Ehhh, ada yang jualan durian namun sayanggya masih kemampo yg ini malah orang thailand lebih suka, bukan yang matang tua mak nyus tapi yang kemampo. Diseberang jalan disisi daratan berbagai restoran, warung, resort dan toko kelontong dibuka.

Menyusuri tepian pantai dengan sepeda cukup tenang, nyaman dan aman. Tidak terlihat polisi atau penjaga (hansip) bersliweran tetapi tetap aman bahkan sampai tengah malam sekalipun. Dibeberapa tempat nampak disediakan jeti buat memancing. Beberapa pangung musik, sekelompok orang menikmati suasana malam, bahkan yang tidur berayun di ayunan tidur antara dua pohon kelapa juga nampak. Di salah satu meeting point satu karavan kesehatan lengkap dengan petugas kesehatan nampak berjaga.

Pantai yang mungkin bertolak belakang dengan Pattaya, antai kecil yang menyuguhkan suatu kehidupan yang jauh lebih tenang dan nyaman. Pulang keliling menjelang jam 11 malam berbagai warung makan dan restoran masih buka di sepanjang pantai dan jalan menuju kampus. Kehidupan malam yang cukup ramai. Meskipun udara agak dingin dengan angin kencang kebanyakan perempuan berpakaian minim untuk tidak mengatakan hampir semua yang menikmati makan malam direstoran dengan gaya bupati mencolok, sedangkan yang lelaki dengan celana panjang dan jaket.

9 comments:

Beno said...

Mas Tahid, hati-hati kalau ketemu wanita cantik dan gemulai. Pastikan dulu dia betul-betul wanita. Soalnya, temanku pernah kecele. Sudah ngebet, eeeeee ..... ternyata wanita jadi-jadian (maksudnya transeksual).
Ngomong-ngomong, cerita perjalanannya kian memperkaya wawasan saya dan mungkin teman yang lain. Ayo jangan kapok, tulis terus. Ternyata sampeyan penutur dan pencerita yang baik, bahkan ngalah-ngalahin jurnalis seperti saya. Betul lho !

Beno said...

Saking bersemangatnya, saya keliru. Tak pikir yang nulis Mas Tahid, ternyata Mas Kenang from Malang. Ayo, Mas Kenang, posting lagi pengalaman sampeyan yang banyak.

Isma Ae Mohd said...

Ya. Thailand ada pantai, ada matahari dan ada seks

A N T O said...

Mas Beno..., panjenengan wiwit dekwingi ngomentari SEGITIGA EMAS lan neng nggon WAJAH LAIN PANTAI TIMUR THAILAND ki keliru lho.... Nek aku moco nggon paling ngisor dhewe sing nulis ketoke dudu mas Tahid, tapi Mas Kenang lho...
Tapi yo embuh nek mas Tahid = mas Kenang ha...3

Beno said...

Soale plotrone persis Mas Tahid kok, Mas Anto. Dadi keliru kebablasan.

mujtahid said...

Tenang ... tenang ... sebentar lagi aku muncul, tak crito perjalananku terakhir kemarin ke Tiongkok, yang ringan2 wae, biar nggak nambahin pikiran.
Itulah si Kenang, ngakune bahasa Indonesia nol puthul, tapi gayanya mengungkapkan cerita wis persis jurnalis. Dadekke jurnalis freelance wae piye, Ben?

Susilo said...

Ora maido yen beno keliru identifikasi, wong wajahe kenang ketok tuwa kaya tahid (apa tahid sing kaya kenang ya he.he.he..). Aku ya nggumun thik, kenang ternyata menyimpan bakat terpendam dalam hal tulis-menulis, kayaknya perlu disediakan kolom khusus ki, ben gelem nulis perjalanane nyang ngendi wae (jarak dekat dan jauh...)

Nasih said...

ya begitulah Kenang, tenang-tenang menghanyutkan .... (yen kenang wis gelem nulis iku pertanda, wis tambah kesaktiannya).

Beno said...

Jadi, saya tidak perlu sengaja menularkan kebiasaan menulis karena ternyata teman-teman sudah pinter. Suenengggggg deh pokoknya. Ayo, jangan pendam terus bakat terpendam kalian.