Saturday, 28 February 2009

Oemar Bakri Pergi ke Turki

Catatan Perjalanan seorang guru ndeso (1)

Mendapatkan kesempatan untuk melihat Negara manca merupakan anugerah bagi setiap orang, apalagi untuk seorang guru ndeso. Dalam perspektif itulah ketika Nopember kemarin aku mendapat kesempatan untuk memfollow up MOU antara SMA Negeri 2 Wonogiri dengan Kardelen Lisesi di Gazi Osman Pasa Istanbul, Turki jadilah aku pergi ke negeri Jalaludin Rumi itu. Sebuah pengalaman perjalanan yang mengesankan. Sebagai persiapan biar nggak ngisin-isini, dilatihlah saudara2 Oemar Bakri ini di hotel Horison di kawasan Simpang Lima Semarang agar bisa makan cara luar negeri. Terbiasa ‘muluk’sinambi lungguh mbedhingkrang, sekarang harus makan dengan tatanan yang ribet dan alat makan yang macem2, terus terang jadi nggak enjoy aja. Aturan standar alat makan dihabiskan dari jajaran terluar (biyuh2 mung arep ngemplok wae aturanne kok ya neko-neko…).

Minggu, 9 Nopember 2008,Setelah mendapat tambahan pembekalan sedikit tentang Bahasa Turki pada jam 12.30 kami meluncur ke bandara Ahmad Yani, makan siang di resto padang di bandara. Sambil nunggu flight ke Jakarta dengan Garuda sempat ngenet dulu di ruang tunggu bandara, nengok blog 81 dst.
Tiba di Cengkareng nunggu di airport untuk tujuan berikutnya Singapura . Akhirnya jam 19.05 penerbangan naik Singapore Airlines menuju Singapura, sebelumnya ketika lewat di pemeriksaan aku nyangking cindera mata guci akar wangi disuruh ngubah dari dalam kardus ke plastik kresek, katanya kalau pakai kardus harus di bagasi aja takutnya bawa bom kali (padahal wajahku lebih mirip aktor daripada teroris). Untung persediaan barang “haram” berupa lima pack rokok Dji sam soe filter sudah takkunci rapat di bagasi. Kayaknya ada 2 kali pemeriksaan termasuk paspor dan kartu keberangkatan ke luar negeri sebagai utusan Negara (elek2 gini pernah jadi utusan negara he.he...).

Flight Jakarta -Singapura ditempuh selama kurang lebih 40 menit, nyampailah di bandara Changi Singapura pada jam 21.40 waktu Singapura.

Bandara yang bersih dan juga tertib dalam pelayanannya meskipun terhitung ketat, jaket dan lain peralatan diperiksa dengan seksama. Suasana bandara yang nyaman, malah ada taman juga di bawah atap, gimana ya nanam dan ngrawatnya?(gumun aku...dasar guru ndeso gumunan), Nunggu penerbangan ke Istanbul, nongkrong bahkan tiduran di lantai bandara yang full karpet tetap nyaman.


Pukul 23.35 waktu Singapura kita berangkat dari bandara Changi menuju ke Istanbul naik Singapore Airlines lagi dengan pramugari yang cantik dan tentu ramah. Ketika ditanya mau minum apa?, iseng2 kuminta "white wine please", dan segelas white wine mengantar tidur dalam perjalanan di ketinggian 9000 meter di atas permukaan laut.

Kita transit di Dubai setelah menempuh perjalanan selama sekitar 6 jam dari Singapura, di bandara Dubai sayang nggak sempat turun. Setelah transit sekitar satu jam perjalanan dilanjutkan menuju ke Istanbul Turki, dengan waktu tempuh sekitar 5 jam dan akhirnya pada jam 07.10 waktu Istanbul sampailah kita di Bandara Ataturk, Istanbul Turki. Bandara yang bersih dengan pelayanan standar dalam pemeriksaan.



Sebuah perjalanan panjang yang cukup melelahkan menempuh sekitar 14 ribu kilometer telah terlewati dan ternyata bisa juga ya, aku menginjak tanah Ottoman Turkiye...he.he.he...

11 comments:

Beno said...

Alhamdulillah, satu lagi seorang sahabatku diberi kesempatan melancong ke mancanegara.
Terima kasih, pengalamannya menambah kekayaan batin sahabat-sahabatmu. Kita tunggu lanjutan ceritanya ya.

Nasih said...

Ayo teman lain yang pernah melancong ke negara manca bagi-bagi cerita di sini. Kita pengin mendengarkan kisahnya ...

Beno said...

Lha iya Mas Susilo ini, mampir di Horison dan Bandara A Yani kok ya tidak calling saya. Siapa tahu bisa menemani makan dan nunggu pesawat. Wong ndeso ketemu wong ndeso kan asik.
Lain kali kalau lewat Semawis, wajib dan wajib calling saya ya. Bukan hanya Mas Susilo, tetapi juga teman-teman lain. Kalau tidak sibuk (walah koyok eksekutif wae ...), pasti saya temui dan syukur .... bisa saya jamu kalau ada duwitnya huahahahahahahaha .......

Susilo said...

Sorry ben, jan2nya ya sering sih ke semawis, cuman nggak sempat mampir, next time lah I'll try...

mujtahid said...

Sedih yo Sus kalau liat bandara-bandara di luar negeri, kemudian mendarat di Cengkareng .. njomplang banget, seperti pindah dari jalan2 di mall terus blusukan ke pasar Bringharjo. Bagi kita senep ning mungkin kanggone wong londo .. eksotis .. huahahahaha
Apalagi kalau habis terbang dengan Garuda dengan peragawatinya yang sebagian besar wis "ngemut umur" .. oalahhh mbok la mbok leren neng omah wae sambi momong putu .. terus pindah ke maskapai lain yang kempling dan kinyis2, nelangsa banget.
Aku pernah turun dari pesawat terus antri di bagian imigrasi, kebetulan di sebelah kananku adalah pemeriksaan khusus untruk crew pesawat. Beberapa rombongan pramugari dari Catay Pasific, Thai, SIA dll yang kempling tadi ketawa-ketawi dengan PD-nya dibalut seragam yang aduhai, sementara di urutan paling belakang ndepipis mbok-mbok dari Garuda dengan malu2 tidak PD, berseragam rok hitam dengan atasan batik sing ra "meching" babar blas.. mesak-ke banget, gemes tenan aku karo "penguasa" Garuda.

Susilo said...

Nggih pakdhe, tak bayangke Dirut Garuda iku Mujtahid , wah jan nyenengke tenan, njut seragame pramugarine apa ya hid ?

mujtahid said...

Ra sah nganggo (seragam) apa2 malah ayu

Susilo said...

hua.ha.ha.ha.ha.ha.ha...nyenengke tenan.

Beno said...

Usul, yen Mas Tahid sido dadi Dirut Garuda, seragam pramugarine bikini wae .......... Mesthi Mas Nasih yo sengtuju !!

Nasih said...

Ora sah nganggo apa2 wae .... natural.

Beno said...
This comment has been removed by the author.