Thursday, 26 February 2009

Perempuan-perempuan Berpengaruh

ADA beberapa perempuan (lebih pas ketimbang wanita, meski makna harfiahnya sama saja) yang berpengaruh besar: memberi spirit sekaligus ikut menentukan jalan hidup saya.
Pertama, tentu ibundaku yang wafat 1998 lalu. Dalam kesederhanaan cara berpikir dan kesahajaannya, aku menemukan kekuatan mahadahsyat sehingga berani melewati berbagai rintangan dan cobaan menuju cita-cita yang kami ikrarkan.
Kedua, ''pacar'' (diberi tanda petik karena maknanya lebih ke kedekatan batin, bukan fisik) ketika masa-masa ABG (anak baru gedhe atau gendheng ya ......) dari akhir SD sampai SMA. Silakan tebak sendiri: siapa dia (hahahaha, kayak kuis saja), tetapi banyak teman yang sudah tahu. Dari dialah saya memperoleh spirit untuk berprestasi, baik akademis maupun kepenulisan.
Ketiga, pacar ketika menjelang lulus sarjana (yang ini tanpa tanda petik karena benar-benar pacar secara fisik dan batin). Sayang, setelah lulus saya agak mengabaikan dia sehingga akhirnya bubar jalan. Sedih deh, tapi memang salah saya.
Terakhir, tentu saja istri saya sekarang yang kisah pertemuan hingga jadian membuat saya baru percaya bahwa jodoh adalah rahasia Yang Di Atas Sana.
Sedikit buka rahasia nih, setelah menjadi teman sekitar dua tahun iseng-iseng setengah guyon saya menawari dia begini: daripada menganggur, kita kawin saja yuk ..... Nah, dia menanggapi serius, ..... akhirnya saya kan tak bisa mengelak.
Mungkin ada yang menilai saya terlalu mengumbar kisah pribadi, tetapi bagi saya tidak mengapa. Siapa tahu bermanfaat bagi orang lain. Apalagi hubungan saya dengan mantan pacar baik-baik saja.
Mantan ''pacar'' SD-SMA memang sudah lama tidak ketemu. Ketika menikah sekitar 1994/1995 (kalau tidak salah), dia mengundangku.
Mantan pacar saat hampir sarjana yang kebetulan adik tingkat itu (hahahaha mau inbreeding nggak sukses) kini tinggal di Solo bersuamikan dosen PTN di kota itu. Saya bahagia mereka happy dan menemukan pasangan yang tepat, minimal lebih tepat (dan baik) daripada saya !!

12 comments:

Nasih said...

Ya, demikianlah sahabat saya ini: terbuka - hangat - apa adanya. Kehidupan sebagai jurnalis mengukuhkannya untuk berbagi pengalaman, manis pahit getir kehidupan semuanya selalu membawa hikmah. Kerajinannya bertutur dengan tulisan perlu dicontoh.

Ungkapan "daripada menganggur, kita kawin saja yuk ..." lugas dan kena. Saya kira sebagian besar kita menjadi menikah dengan cara itu. Ketika usia makin bertambah, ketika kebutuhan sudah mendesak, ... hidup menjadi realistis.

-----
jadi tunggu apa lagi tumpahkan saja semua kisahmu di sini
suatu hari nanti tinggal dirapikan
jadilah sebuah otobiografi

mujtahid said...

Buka2-an wae yo, ra dibukak Nasih yo sriwing2 ngerti .. tebaken Sih :
Mengenang "masa lalu" memang agak ngenes juga. Ada seseorang (waktu kuliah) yang sempat saya "seriusi" tapi juga saya "putus" karena "sesuatu hal". Mutusnya juga ga berani secara langsung, tapi lewat surat setelah aku di Jakarta.
Satu kata darinya yang membebaniku sampai sekarang :"Aku tidak akan menikah kecuali dengan seseorang yang kucintai". Aku berani mutus karena yakin dia akan mendapat ganti yang "lebih" dariku karena dia memiliki syarat untuk itu : cantik, pinter, mandiri, dsb (alesane "seorang buaya darat" he he).
Sampai sekarang beban itu belum lepas, walaupun aku dengar sriwing2 kalau dia sudah menikah dan punya anak juga. Semoga kau berbahagia (yen iki karo mbrebes mili tenan) .. dan berarti aku bukan pria yang kau cintai waktu itu. Yogyakarta yang pilu ..

Beno said...

Itulah posisi kita sekarang. Menertawakan kepahitan dan menangisi yang manis. Tapi bagaimanapun kita senang melihat ''para peserta'' drama masa lalu kita itu kini happy.

Nasih said...

drama babak satu baru saja dimulai, padahal masih banyak drama yang sedang digagas ... wah bakalan keterusan nih

Beno said...

Ngati-ati, babak selanjutnya adalah ....... babak bundas, babak bunyak, babak belur !!

Nasih said...

yen sithik ya ora dadi apa, lha yen mulai rada bruwet sementara iso pindah chanel. ha ha ha ...

Mincuk said...

Tenang aja mas Beno, nanti kalau sempat ketemu alamat rumah, adik, atau kakaknya, aku tanyakan no yang bisa dihubungi, paling tidak aku bisa pesan misi blog 81 ke dia.

Beno said...

Mbak, mau nglacak beliau sebenarnya gampang. Mas Ripto, kakaknya pernah jadi anak buah budheku dan kalau tidak salah, tinggal di lingkungan Donoharjo.
Betul, kakaknya lagi bernama Sarwedi itu teman Mas Eko dan kakak panjenengan.
Untuk sementara ini cukup senang bisa mendoakan dari jauh: semoga happy dan dilimpahi rahmat-Nya.

Susilo said...

Iki kearifan apa pemupusan?, tapi memang kearifan timbul dari pengalaman dan kadang keterpaksaan

Beno said...

Hahahahaha .... mudah-mudahan memang kearifan, bukan mupus atau terpaksa.

Mincuk said...

Mudah-2 an aku sempat dan ada waktu, biasanya aku dapat no yg bisa dihubungi dari ketidaksengajaan mungkin ada sahabat, saudara atau yang lain... baru aku dapat.Mungkin waktu aja yang saat ini aku baru sibuk-2 nya ngurusi siswa yang mau Ujian. Sorri ya..., Kemarin aku juga ketemu saudara dekatnya ditanya tidak tahu karena memang sudah lama sekali tidak tinggal di Nogiri dan tidak sering pulang, Suaminya teman dari mas Sarwedi, Aku sudah dapat no HP teman SD dan SMP Rias Susanto (Kaloran) yang saat ini domisili di Jakarta.

Beno said...

Tengkyu, Mbak.