Friday, 6 February 2009

Proses Menjadi Saudara

Membaca posting Kenang tentang waktu, aku jadi ingat puluhan tahun yang lalu, tetapi karena relativitas waktu jadi seperti baru terjadi kemarin sore. Waktu kelas 1 SMP, aku bener2 kuper, cuma akrab dengan sesama teman sekelas. Paling2 hanya dengar kalau di kelas 1a ada Beno yang piawai menulis, di kelas 1c ada Kenang yang dapat nilai 100 waktu semesteran test Matematika, dan tentu saja ada yang putih denok moblong2 dan blalak2.
Begitu pula dengan sedulur lanang sing saiki mbaurekso Yogya, aku hanya sriwing2 tahu kalau ada yang namanya Nasih di kelas pojok yang gelap dan kurang sehat itu, paling hanya melihat dari jauh ketika berangkat atau pulang sekolah. Kontak omongan pertama kali yang kuingat adalah ketika aku dipanggil pak Mufidh (Wakepsek) untuk mengisi quesioner tentang apa yang membikin matematika itu mengasyikkan yang kata beliau akan dikirim/dilombakan ke Jakarta atau apa. Setelah selesai saya disuruh memanggil Nasih di kelas 2c, katanya mau berangkat ikut lomba pelajar teladan atau apa (Bener yo Sih?). Baru disitulah saya kontak pertama kali dengan dia, dengan seorang siswa yang selalu berpakaian necis dan rapi (jarene Bambang lo, tapi aku yo mengamini). Karena grogi atau hormat atau apalah saya nggak tau, saya menyapa dia dengan bahasa Jawa kromoinggil. La repotnya hal itu keterusan sampai kelas 3 waktu kita sekelas di kelas 3a. Saya tidak bermaksud menjaga jarak atau bagaimana, bahkan sebetulnya saya juga merasa akrab dengannya. Tapi nggak tau, pingin merubah cara berkomunikasi dengan bahasa Jawa ngoko udah terlanjur susah. Bahkan sampai kita sama2 merantau ke Solo dan kos bareng, hal itu masih terjadi. Padahal dengan teman2 baru yang sama2 kos dari daerah lain seperti dari Ngawi, Karanganyar, Boyolali, Purwodadi, dll kita langsung ngomomg Jawa ngoko. Seingatku, karena diledek teman2 dari daerah lain itulah yang membuat kami meninggalkan cara berkomunikasi yang kesannya menjaga jarak itu. Setelah fase itu lewat kami bahkan jadi kebablasan, kalau perlu malah pisuh2an. Ketika di Yogya kami bahkan sempat sekamar berdua (Kenang beda kamar), jadi aku tahu persis njobo-njerone dia itu seperti apa, dan benar2 tidak ada lagi jarak diantara kami, persis kaya sedulur dewe, mau marah ya marah saja, arep nesu yo nesu wae. Kalau mengenang peristiwa itu sekarang, aku kadang jadi geli sendiri, ternyata dengan Nasih persaudaraanku melalui proses yang unik. Beda dengan proses persaudaraanku dengan yang lain2 seperti Kenang, Bambang, Beno, dll. Piye Sih, kenapa kamu dulu kromo inggil padaku? Pasti karena kamu menganggap aku calon saingan beratmu to? (Maksudku dalam hal taksir menaksir). Ini yang juga membuatku agak heran, kami rada2 mirip dalam hal ini, kalau Kenang sih seleranya lain dan suka jual mahal alias jaim kalau kita sama2 membahas cewek.
Saya jadi berpikir, blog ini juga bisa menjadi salah satu wahana untuk kita dalam berproses menjadi saudara. Dulu aku kurang begitu kenal apalagi akrab dengan mbak Mincuk, mas Anto, dll. Tapi dengan komunikasi lewat blog ini, kita jadi menemukan saudara baru.

6 comments:

Nasih said...

tentu saja karena Tahid punya nama Mujtahid ZUBAIDI ... itu artinya Tahid berdarah biru, wajarlah kalau aku mesti kromo inggil.

Beno said...

Dulu tuh diam-diam saya kagum berat pada kelompok ''elite'' yang pinter-pinter: ada Nasih (1B), Kenang (1C), Mas Tahid (1D), Alfi Ipung (1D atau E ya ...).
Pengin nyaingi mereka, tapi sampai kelas 3 kesingsal terus di bawahnya.
Soal kromo inggil, lha saya geli sampai begitu lama kok jalan terus. Kenapa begitu sekamar di Solo tidak segera berngoko-ngoko saja ......

Beno said...

Bareng wis tuwo lagi kroso mbutuhke akeh konco lan sedulur. Paling ora kanggo partner guyon, ngudoroso, lan saling memberi inspirasi.

Mincuk said...

Proses untuk menjadi saudara banyak jalan dan lika-likunya, terutama yang jauh sono. Tidak ada salahnya jika kita mencari dan mencari, mungkin persaudarauan yang ditemukan bermanfaat bagi anak-2 kita.

Nasih said...

setelah membentuk persaudaraan kita perlu juga membentuk persaudagaran ...
kenapa ya, kearifan itu muncul di belakang, kenapa ndak dulu-dulu sebelum kita saling mengenal banyak he ..

Beno said...

Itulah proses ! Kalau dulu sudah arif, mungkin nggak seperti sekarang: menelusuri jejak, mencari, dan mengejar teman-teman lama.