Monday, 2 February 2009

Sekolah

SEBENARNYA saya tak punya kapasitas untuk memberi saran karena bidang saya bukan pendidikan. Lebih tepat mungkin Mas Nasih, atau bisa juga Mas Tahid. Apalagi saya termasuk anggota ''aliran sesat'', maksudnya lulusan yang tersesat ke bidang lain.
Tetapi tak apalah, minimal saya punya pengalaman sekolah di perguruan tinggi dan punya beberapa masukan yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan.
Untuk kota yang aman, saya kira Semarang lebih aman dibandingkan dengan Yogyakarta atau kota-kota lain. Cuma pilihan perguruan tingginya tidak banyak. Nomor satu jelas Undip, baru disusul Unnes (singkatan Universitas Negeri di Sekaran ?) dan lainnya. Swasta yang bagus Unissula dan Unika Soegijapranata.
Yogyakarta yang mengerikan adalah kemungkinan terkena pengaruh sekte-sekte Islam. Bandung dan Jakarta mungkin terlalu riuh. Demikian pula Surabaya. Kota lain yang ideal untuk menuntut ilmu adalah Malang. Mas Kenang bisa membantu memberi petunjuk dan gambaran.
Program studi yang punya prospek bagus, menurut saya, adalah teknologi informasi dan komunikasi. Di masa depan, ilmu itu sangat diperlukan, terutama oleh industri kreatif yang terus berkembang, mulai desain, film dan audio, hingga telekomunikasi.
Namun sebenarnya semua ilmu tetap punya peluang. Tinggal si anak minatnya ke mana dan kemampuannya bagaimana. Saat ini saya kira selain kepintaran atau kecerdasan, dibutuhkan mental atau kepribadian yang kuat serta kreatif. Sebab, kreativitas akan menemukan banyak jalan dengan bekal ilmu apapun.
Itulah, sekadar masukan dari saya.

16 comments:

Mincuk said...

Terima kasih Mas, atas infonya Ya ? mungkin juga akan menuju ke semarang karena di sana sdh ada tempat utk berlindung. Tetapi anakku jurusannya ambil IPS tapi IT nya bagus sekali. tapi kan tidak mungkin, tolong jurusan yang tepat untuk nya.

Nasih said...

Kemampuan berkomunikasi memang mutlak untuk masa depan, (ini termasuk IT, bahasa inggris, menulis berbicara, bergaul ...)
untuk anak berbakat sebaiknya dijuruskan pada ilmu atau bidang yag langka peminatnya agar nanti dia menjadi orang kesohor, atau carikan bidang yang membutuhkan banyak dukungan --misalnya pertanian-- sehingga kehadiran orang berbakat itu memberi kemajuan yang nyata.
jadi disamping karier pribadi sukses, namun juga memberi dampak kebaikan bagi masyarakat ...

Beno said...

Kalau IPS, ya barangkali bisa memilih Ekonomi atau Komunikasi. Tapi sebaiknya serahkan pada anaknya, apa yang ia mau.

mujtahid said...

Setuju Ben komentarnya tentang Yogya, adikku sing ragil (temannya guru matematika smp 1 yang suka kita rasani itu), pas sekolah dari smp 1 wng sampai sma 1 solo oke banget. Lomba2 yang dia ikuti (yang mengandalkan IQ) sudah kaliber nasional. Begitu kuliah di UGM (di jurusan yg sama denganku), kecanthol aliran yang "sesat" ... mengerikan sekali : kuliah ga perlu, merintis jadi bakul lombok di Bringharjo dengan memberdayakan para petani, hidup ga perlu uang, jihad, etc, etc ... Perlu waktu bertahun-tahun untuk menyadarkan dia ... sampai ibuku nangis2 : yang penting "kamu serahkan ijasah ke ibu" setelah itu terserah kamu. Yah, walaupun sekarang akhirnya bisa lulus juga dan kerja serta hidup normal, tapi pengalaman traumatis itu kalau bisa jangan terulang. Kalaupun toh mau berniat ke Yogya, bekali dengan nasehat untuk berhati-hati dalam "bergaul".
Kalau pilihan jurusan, aku sendiri juga masih bingung nanti kalau anakku mau kuliah : antara "mengarahkan" atau "biarkan dia memilih sendiri". Saya kira keduanya harus dikombinasikan, antara kemampuan, bakat/hoby dan kondisi riil di lapangan (dalam "mencari" kerja). Soalnya kalau dilepas memilih sendiri begitu saja, saya yakin 100%, anak juga kurang pengetahuan dan pengalaman hidupnya untuk menentukan masa depannya. Ya kayak kita aja dululah (khususnya saya), alasan milih jurusan lebih dari 50 % ya hanya karena ikut2an yang sedang "ngetrend" dan atas saran orang2 yang "sok tahu". Jujur saja, kalau jarum jam bisa dibalik, saya pingin bekerja sebagai "peneliti kebudayaan yang sepanjang hidupnya berkelana ke pelosok dunia". Tetapi itu kan berarti saya dulu harus kuliah di antropologi atau arkeologi. La kalau dulu saya punya keberanian memilih itu mungkin dikomentari orang : "Oalah le le ... la apa arep mangan reco gladag lan nganggo koteka". Bingung yo mbak? Podho!

Mincuk said...

Terima kasih banget atas saran teman-teman semua, kayaknya anaknya ke Yogya juga tidak begitu minat, tapi mau mencoba tes yang jurusan Ekonomi manajemen, semua aku serahkan ke anaknya. Dia juga ingin mencoba seperti kakaknya untuk masuk STAN, doakan aja ya ? Oh ya mas Kenang aku minta pendapatnya donk jurusan yang sebaiknya dipilih di jurusan PT yang ada di JATIM. Trims semuanya.

Beno said...

Mas Tahid, setuju pendapat panjenengan. Anak tetap perlu mendapat arahan dan bimbingan sebelum memutuskan memilih jurusan.
Dulu saya malah ngawur, bener nih ! Akibatnya, di tengah jalan saya putar haluan dengan ''melirik'' kebun lain yang lama saya sukai. Tapi, bagaimana pun ilmu yang saya sesap di ''jalan sesat''tetap berguna kok. Minimal, jadi tempat bertanya teman-teman lain mengenai ngelmu khewan hehehehehehe ....
Menurut saya, sekarang pun panjenengan bisa melanjutkan hobi petualangan ala Indiana Jones. Ke tempat-tempat bersejarah, lalu mengumpulkan artefak.

Nasih said...

yang bener, Tahid memang suka Bollywood = India-nan (tapi itu doeloe)

Beno said...

Hehehe ... dulu aku pernah suka juga sama film India. Cuma dua minggu karena nganggur dan tontonannya ya mung kuwi ......

Nasih said...

lah yeh beno cetho senenge pilem hole in wood ...

Beno said...

Mangsute, hole in one .... sekali nembak, masuk dan gol !!!

Kenang said...

Susah ya amikirkan sekolah dan jurusan. Barangkali saya yang termasu di rasani, wong mlebu neng Fisika, lha terus sing digoleki opo. Pinter yo ora. ;) Benar kata Ben kalo saat ini bidang terkait IT sedang ngetrend dan diantaranya untuk industri kreatif yg semakin berkembang. Namun perlu disadari bahwa untuk industri ini bukan harus ahli IT tetapi punya minimal skills on IT. Jujur saya sampaikan, saat ini untuk penopang hidup saya disupply dari hasil industri software, yg kebetulan ada produk saya yg sudah banyak terpakai [www.proeddit.com => sorry iklan dikit] (barangkali saya kesasar jurusan, tapi wis kadung telat... hehehe) Tapi ini tidak menjamin nanti ke depan bagaimana. Barangkali trendnya bisa berubah.

Untuk yg IPS kalau di Malang (UB)ada FIA (administrasi Publik dan Niaga), Ekonomi (Akutansi, Manajemen, & Studi Pembangunan) dan ada juga yg baru FIS (Fakultas Ilmu Sosial yg didala,nya ada bidang komunikasi). Skills tambahan yg diharapkan untuk lulusan, selain hardskill bidang ilmu, adalah kemampuan IT minimal, komunikasi (bahasa Inggris) dan kewirausahaan (bukan jualan lho ya). Seperti bidang-bidang lain, di bidang sosial untuk yg memiliki kehalian/kelebihan di bidang IT akan mendapatkan keuntungan tersendiri dalam berkompetisi di lapangan kerja.

Yg pasti saya termasuk penganut aliran, rejeki ono sing ngatur, dioyak nganti nyungsep-nyungsep ora ketemu. Ditinggal lungguh tenguk-tenguk ono getuk marani... ;). Tapi ya memang harus berusaha, tetapi dengan pemikiran untuk doing somtehing usefull, rejeki nyusul.

Nasih said...

Apapun bidang studi yang ditekuni, jangan lupa usaha dan wirausaha terus jalan .
Kenang tambah sakti aja .

mujtahid said...

Setuju sama "sesorah" njenengan semua.
Nasih mbukak wadi, tapi bener Sih dulu aku seneng ndelok pilem India, Cina dll didorong keinginan untuk mengamati dan menthelengi adat budayanya yang "unik", dari perayaan dewali, kehidupan di biara, di forbiden city, struktur kemasyarakatannya, dll. Sampai sekarangpun kalau ada kesempatan liat pilem2 luar yang eksotis (sing penting dudu Holiwod) kayak dari Iran, Ukraina, Jepang dll aku sempat2in.
Setelah rada "sugih" lan kuat tuku buku, aku borong buku/novel tentang Pakistan, Afghanistan, bahkan sampai Botswana ... menarik sekali. Jika istri anda agak gemuk (triple-x 'kali!), itu adalah wanita idola di Botswana sampai sekarang :"Beruntung sekali bapak punya calon istri yang 'berisi'", komentar penjaga toko waktu 'si tokoh' memperkenalkan calon istrinya.
Kebetulan dulu ada mbakyuku yang kuliah di Fisipol, walaupun masih SMP aku curi2 bukunya yang berisi tentang budaya, sifat2 suku bangsa, dll.
Jadi mbak, mas, seperti Kenang dan Beno, akupun sekarang merasa "salah tempat" walaupun ya tetap kunikmati 2 dunia yang kelihatannya berlawanan itu.

Beno said...

Mas Tahid, salah tempat pun bisa merasa happy kok.

Mincuk said...

Ternyata salah tempat dan salah masuk bisa juga bikin happy... happy saja.

Beno said...

Hehehehehe, belum ngerasain sih ! Uenak polllll .......