Monday, 16 February 2009

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Cina (2) : Three Gorges, Bendungan Terbesar di Dunia







Three Gorges, arti harafiahnya Tiga Jurang/Ngarai, diklaim Cina sebagai bendungan terbesar di dunia, terletak di propinsi Hubei, sekitar 1500 km arah barat daya Beijing. Propinsi ini termasuk daerah tengah (pedalaman) Cina, namun justru masih natural dan indah, tidak semaju dan sehiruk-pikuk daerah2 pantai timur seperti Sanghai, Dalian, Senzhen, Dongguan, dll.

Setelah berhasil mendarat di Yichang (semacam kotamadya) dan menyelesaikan segala urusan, tibalah saatnya bersantai mengisi waktu luang. Saya katakan berhasil mendarat di Yichang karena sebelumnya kami sempat tertahan di Guangzhou selama 2 hari akibat cuaca buruk. Kabut dan salju sering menyelimuti Yichang sehingga penerbangan sering dicancel. Mau memilih jalan darat sekitar 1000 km juga gagal karena jalan tol (highway) ditutup akibat kabut. Cerita mengenai jalan tol di Cina, skalanya bukan lagi ratusan km dan sepotong-potong seperti disini, tapi sudah puluhan ribu km dan telah menjangkau seluruh pelosok negeri. Sambil menunggu kabar bisa terbang, kami diinapkan gratis di hotel. Walaupun gratis, namun menyebalkan juga menunggu tanpa kepastian. Konyolnya lagi kita tidak boleh pergi jauh2 karena panggilan terbang bisa datang sewaktu-waktu. Untuk menghibur diri saya ya bersyukur saja, menyadari kalau aturan di Cina (dan tentunya negara2 lain juga) sangat ketat dalam urusan yang berhubungan dengan nyawa manusia. Saya jadi teringat kejadian2 di tanah air, kalau ada cuaca buruk, mau terbang ya silakan, mau jalan monggo, mau berlayar ya oke saja. Urusan slamet apa ora yo wis takdir lan nasibmu. Makanya sedih juga lihat Garuda sampai sekarang masih dilarang terbang ke Eropa.

Kembali ke Yichang, pantas saja kota ini sulit didarati karena topografinya dikelilingi gunung2 tinggi sehingga dinginnya minta ampun. Sudah musim dingin, tambah lagi di gunung, suhu bisa mencapai -3 C. Kalau pagi2 daun2 tertutup salju. Sambil ndrodok kademen, Wonogiri yang panas menyengat memanggil-manggil dan membayang di pelupuk mata. Tetapi walaupun di pegunungan, tidak ada cerita jalan2 sempit meliuk-liuk naik turun seperti di Bandung atau Puncak. Kebanyakan jalan lurus dan lebar dengan puluhan terowongan menembus gunung disana-sini, bahkan didalam kota sekalipun. Ketika keluar terowongan dan mendongak keatas, diatas terowongan itu bertebaran rumah susun, apartemen, pertokoan sampai stasiun kereta api. Cara berpikir yang brilian, dengan investasi awal yang sangat mahal namun selanjutnya akan efisien dan ekonomis. Yichang terletak dipinggiran sungai Yangtse dengan area pedestrian di tepi sungai yang lebar, bersih dan tertata rapi seperti gambar paling atas. Andaikan saja latar belakang gambarku itu adalah Jurang Gempal atau Taman Jurug ...

Akhirnya pada hari Minggu 11 Januari 2009 ada waktu juga untuk refreshing dan kami diantar ke Three Gorges. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam melalui jalan tol di tepian sungai Yangtse yang sangat lebar dan bersih dengan warna air yang hijau kebiruan bertepikan gunung2 yang menjulang tinggi. Dikanan kami bertepikan gunung tinggi sedangkan dikiri kami terhampar air sungai. Saya kurang tahu persis apakah jalan yang kami lewati ini di tepi gunung atau berupa jembatan. Jalan tol keluar kota juga lebar lurus menembus gunung, bahkan sekali melewati terowongan kadang2 sampai 15 menit (sekitar 20an km). Belum sempat bernapas lega melihat cahaya matahari sudah kembali masuk ke terowongan lagi. Sesekali kami melihat kapal2 besar (seukuran feri di Indonesia) menyusuri sungai menuju laut Cina di pantai timur, seperti latar belakang gambar kedua dari atas.

Ketika sampai di area bendungan Three Gorges, tidak ada kata lain yang bisa terucap selain : luar biasa!. Bendungan ini luar biasa besar seperti hamparan air laut dengan dua pintu air utama. Pintu air pertama berfungsi untuk menggerakkan turbin air pembangkit listrik sedangkan pintu kedua terdiri dari beberapa kanal (saluran) yang bertingkat-tingkat dan bisa dibuka tutup untuk lewatnya kapal dari pedalaman Cina menyusuri aliran sungai, sehingga seolah-olah terdiri dari beberapa bendungan yang bertingkat-tingkat. 2 gambar terbawah yang saya sertakan bukanlah pintu air penggerak turbin, tetapi kanal-kanal tempat kapal berlayar dari arah bendungan menuju sungai dibawahnya. Pintu airnya jauh lebih banyak dan besar lagi, terdiri dari puluhan kanal (Di Gajah Mungkur kalau tidak salah terdiri dari 3 atau 4 saluran). Sekali lagi saya salut dengan visi jauh kedepan pemerintah Cina. Walaupun proyek ini dikecam seluruh dunia dengan alasan HAM (memindahkan jutaan penduduk) dan lingkungan hidup, mereka tak bergeming. Hasilnya luar biasa. Dengan investasi sekitar 100 milyar yuan (165 trilyun rupiah), energi listrik yang dihasilkan setara dengan 200 trilyun rupiah per tahun. Dengan demikian dalam setahun sudah balik modal. Jika Wapres kita pak JK (yang kata Beno kakean cangkir) gembar-gembor tentang pengadaan listrik 10.000 MW dalam masa pemerintahannya yang tak kunjung jadi, bendungan Three Gorges menghasilkan listrik 100.000.000 MW sekali bangun, memenuhi sekitar 40 % kebutuhan listrik Cina yang berpenduduk 1,3 milyar jiwa.

Ditepian bendungan dilengkapi dengan sarana turisme yang lengkap, terutama adalah panggung pertunjukan di area terbuka (sayangnya tidak pentas di musim dingin) dan gedung bioskop yang canggih. Film yang diputar menceritakan proses pembangunan bendungan, didramatisir dengan tata lampu sinar laser yang menyorot disana-sini. Kolam air diletakkan diantara bangku penonton dengan layar bioskop dimana airnya akan bergerak, menggelegak, bergemuruh dan muncrat kesana-sini sesuai dengan alur cerita film. Karena ndeso dan katro, bahasa tubuhku yang terucap otomatis yo mung : mlongo, ndomblong dan ngowoh (sing penting ra ngeces) saking gumun-e

Karena padatnya acara dan takut terkendala cuaca di Yichang, kami kembali ke Guangzhou lewat Wuhan (ibukota propinsi Hubei). Dari Yichang ke Wuhan sekitar 400 km kami tempuh sekitar 4 jam lewat jalan tol. Sambil merem melek menikmati suasana pedesaan Cina, saya kembali ngowoh (mungkin sambil ngeces) melihat plang berkelebat disana-sini : Beijing ke kiri 1500 km, Sanghai lurus 1200 km, Fushow ke kanan 1100 km. Sambil setengah mimpi saya merenung, kenapa rencana jalan tol trans Jawa yang cuma 1000an km saja kok diributkan setengah mati dengan berbagai alasan : memakan lahan pertanian, dsb. Apakah kita memang bangsa yang suka nyinyir ataukah malah termasuk bangsa yang belum siap maju.
Yichang dan Wuhan yang tak terlupakan, belum tentu aku akan mengunjungimu lagi di sisa umurku.

21 comments:

Nasih said...

luar biasa ...

Mincuk said...

luar biasa dan hebat banget, kepingin juga rasanya kesana, tapi saat ini cukup waduk Gajah Mungkur dulu.

mujtahid said...

Sing hebat lan luar biasa critane .. opo uwonge .. huahaha.
Agak narsis dikit, tapi tak sawang2 .. wong ngguantheng ngene kok biyen yo ra payu2 yo ...

Mincuk said...

yo kabeh wae...., memuji kan ada baiknya lo. Sayang sekali ketika ketemu teman-2 aku tidak bawa kamera atau mau pakai HP, eh tidak bisa digunakan maklum hanya untuk sms atau call aja. Sori banget tidak bisa menampilkan sesuatu yang dikangeni... he..he..he.

mujtahid said...

Sih ... kangen ra, Sih? (Deloken kae langsung manthuk!)
Yen aku terus terang wae kangen sih ora, cuma penasaran wae ... kanca2 ki saiki do dadi kepiye "prejengane".
Makane mbak Mincuk itu kemana-mana harus bawa kamera, untuk mengabadikan momen2 penting. Buktine mbak Mincuk terbukti yang paling OK dalam mengumpulkan balung pisah. Piye Ben, yen perlu dadekke wartawan lepas untuk liputan Wonogiri wae, wabil khusus untuk liputan alumni 82. Gajine saka Suara Merdeka.
Penasaranku weruh Sriwanto belum terobati lo, matur nuwun untuk YB-nya.

Nasih said...

coba dieling-eling maneh Hid, sing gantheng2 jaman biyen ... sapa wae sing kasil ngerangkul buah hatinya

awak2 dhewe ki malah kualitas ekspor lho ... ya ta, payune ana manca (luar nogiri)

lha yen temen-temen putri, pancen bibit unggul lagi metu seka gerbang SMP we langsung wis disaut ...

Mincuk said...

Disaut piye...! la wong wis dicekeli terus... ora iso mlayu.

tiger said...

kelihatanya kok rame ada apa to?

Nasih said...

hei hati-hati di jalan ... ini ada macan mau menerkam kita (smile).

Hi tiger hu a yu ?

Beno said...

Mas Tahid, emben panjenengan ora ''payu-payu'' mergo kurang kendel wae. Coba to, wajah ora nguciwani, otak encer, bibit-bebet-bobot memenuhi syarat.
Nanging ora usah nyesel, manusia punya garis dan gambarnya sendiri-sendiri kan.

mujtahid said...

Beno paling iso ... membuat kita melambung.
Bener jare Susili, saya bagus saya ra payu

mujtahid said...

Sory Sus salah ketik bukan maksudku mengganti namamu ... tapi ojo2 itu nama "malam-mu" , huahahaha

Susilo said...

Hid, thik awakmu ketok lemu tur rada putih bareng neng Tiongkok?

Nasih said...

Sus, aku yakin 300% if Tahid menetap di Tiongkok mesti maleh putih banget .... apa anu wae Hid golek amoy ben turun puteh he he

Beno said...

Lha iyo, Mas Tahid kadhemen ono Negeri Amoy nganti nyebut Mas Susilo keliru Mbak Susi (li) ........

mujtahid said...

Rada lemu piye Sus, saiki wis gimblah2 arep ngurokke awak wae setengah mati. Ditambah nganggo jaket winter dadine malah kaya astronot.
Yen masalah putih .. he he .. jo percoyo, gambar lebih indah dari warna asline. Ning mungkin yo bener saiki ra tau diklanthang kaya jaman cilik.
Yen masalah perbaikan keturunan kaya sarane pak Mendell .. ra sah kok ajari Sih, dari dulu kriteria golek bojo : piye carane ben anakku rada luntur. Mengko kapan2 tak upload anakku sing wis rada luntur yo.

Nasih said...

yen pegamalanku dhisik mangkene:
berjemur di tengah hari yang terik ning seluruh badan dikrubuti rapet, wis dijamin maleh putih bersih ....

sebetulnya ndak usah kawatir, yen kulit putih iku lebih rentan misalnya pas kukule njedhul ...

nah sebaliknya,kalau kulit hitam disuruh panas berjemur yang kita tega saja, mesti tahan jemur ya...

Harjono "Kingkong" said...

Tak kira fotone Genghis Khan, jebule koq Mujtahid., kwek..kwek..kwek....
Mbiyen wonge kacamata blor-an anteng banget, meneng blass.
Huebaat, wis klakon ketemu wong China tenan ya...,dhek mbiyen ketemune rak ya mung China Kuncoro, Gegeh, Si-Hen dll.. ha..ha..ha...

mujtahid said...

Bener Jon, sing tak eling2 nganti saiki si Hohek (ngisor plintheng Semar)kancaku kelas 1d, karo Lilis kulon lapangan tenis. Saiki do ngandi yo?
Pingin crito monconegara kon nyritakke pak wartawan Beno kae lo, wis langlang buono ngandi2, apa pak dosen Kenang kae : "sekeping hatiku tertinggal di Adelaide", huahahahah .. Nasih yo wis tau ketemu Oshin to? Piye critane?
Kok fotomu nganggo sragam kaya "angkatan" ki, pancene saiki diangkat nangndi?

mujtahid said...

Perkara "anteng dan meneng", jane kuwi dudu gawanku Jon .. he.. he. Pingin-ne yo "lincah dan obah" kaya Ambar, Rinawati apa Kristi ... (do kelingan ra karo temin2 kita yang kaya "pinjal" itu?). Gandeng ra pe-de dadine yo koyo ngono kuwi

Bambang Supriyadi said...

Wah Hid aku yo rodo pangling sithik weruh photomu sing terbaru, yo nek wis ndeleng konco-koncne dewe lagi sadar nek podo wis tuo yo. Susilo mbiyen imut2 tapi bareng wis ono brengose yo bedo. Wah Kingkong selamat datang ya, baru sempat menyapamu. Posting dong fotonya biar kita bisa lihat seperti apa dirimu.