Thursday, 19 March 2009

GM, Raksasa yang Tersia-sia


KETIKA dibangun pada tahun 1980-an Waduk Gajah Mungkur (GM) membersitkan harapan menjulang sebagai objek wisata potensial di samping fungsi utama pembangkit listrik, irigasi, dan pengendali banjir.
Waduk yang ''memaksa'' ribuan warga Kecamatan Nguntoronadi dan sekitarnya bedhol deso ke Sitiung, Sumatra dan menggunakan konsultan sekaligus modal dari Jepang tersebut diperkirakan bisa berumur 100 tahun dalam konteks fungsinya.
Ternyata, sedimentasi yang sulit diatasi menyebabkan waduk yang diresmikan -- kalau tidak leiru --1981 itu umur efektifnya tinggal 25 tahun.
Kita lihat, fungsi irigasinya cukup baik, terutama untuk mengairi lahan-lahan di kabupaten-kabupaten tetangga, yakni Sukoharjo dan Sragen. Fungsi pengendali banjir tidak optimal, antara lain akibat daya dukung daerah aliran sungai yang rendah.
Buktinya, setiap musim hujan banjir selalu saja terjadi mulai Solo, Cepu, Bojonegoro, Tuban, hingga Gresik. Memang, penyebab banjir bukan hanya ''salah'' Waduk GM, tetapi ada peran faktor lain. Misalnya, sudah disebutkan, daerah aliran sungai yang tidak mendukung akibat eksploitasi sumber daya yang tak terkontrol.
Sebagai pembangkit listrik, saya kekurangan informasi apakah perannya cukup memadai dalam jaringan interkoneksi Jawa-Bali.
Objek wisata ? Pada awalnya memang lumayan, tetapi akhir-akhir ini saya melihat Waduk GM sebagai ''raksasa'' dalam hal potensi seperti tengah ''tertidur'' (atau ''ditidurkan''), bahkan kesannya tersia-siakan.
Ramai cuma pada dua hari Lebaran, sampai-sampai jalan menuju pusat objek wisata di Sendang macet total. Di luar hari-hari itu biasa-biasa saja, kalau tak boleh dikatakan sepi nyenyet !
Arena bermain, gajah, pancingan, dan rumah makan apung kurang tergarap baik.
Hotel-hotel kelas melati yang dulu bertebaran di Sendang sejak beberapa tahun lalu merana. Beberapa di antaranya digunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif.
Bagaimana jika potensi-potensi dasar yang jempolan itu dibangkitkan ? Contohnya menggarap rumah makan apung, wisata air, wisata jalan kaki atau bersepeda keliling waduk, terjun payung atau paragliding, dan ......... masih banyak lagi yang lain.
Sekarang, yang dibutuhkan adalah niat dan didukung oleh modal serta orang-orang yang mau bekerja keras untuk ''membangunkan si raksasa bernama GM'' itu.

6 comments:

Nasih said...

pertimbangan ekonomi maneh ...

mujtahid said...

Ra sah selak .. wong urip yo butuh duit ben makmur dan sejahtera

Beno said...

Betul, Mas Tahid, yen pengin Nogiri makmur kan ekonomine kudu dibangun bebarengan karo SDM-e. Tapi SDM-e sing kualitas tinggi minggat kabeh, emoh urip ono Nogiri, soro !!

Nasih said...

sekolah dhuwur-dhuwur, mboro nyuyaki upa supaya uripe luwih makmur ...
bareng wetenge wis rada isi, banjur kelingan tanah leluhure sing ditinggal.
yen SDM hig quality bali Nogiri, malah medeni soale isa mangan wong, watu, wit ... jan nggegirisi.

SUNAR PRIYONO said...

WGM di bangun dengan cost cukup tinggi dengan pengorbanan yang luar biasa bagi penduduk yang terkena pembangunan.Saya merasakan karena seluruh Pekarangan,rumah dan tegalan warisan harus dibayar dengan ganti rugi yang sangat minim.Semoga WGM dapat di tingkatkan fungsinya.Kalau tidak kena Waduk barangkali saya masih di Wuryantoro, jual ikan dan nyopir bus.CURHAT NICH!!!

Beno said...

Ternyata proyek GM juga memencelatkan nasib Mr ''Sonar'', wong Yantoro aseli jadi bisnis-men, bukan sopir atawa nelayan hehehehehehehe.
Kalau Mr ''Narsih'', wong Giritontro asli memang sejak kecil sudah bercita-cita minggat, dan kebetulan nemplok di Jokja.