Monday, 2 March 2009

Oemar Bakri Pergi Ke Turki

Catatan Perjalanan seorang guru ndeso (2)

PIERRE LOTTI :
SESRUPUT KOPI TURKI SEMBARI MEMANDANG BENUA SEBERANG


Dari bandara Ataturk dengan pelayanan yang standar dan fasilitas bandara yang bagus, kita segera naik bus menuju ke sekolah di daerah Eyub melewati beberapa tempat peninggalan kesultanan Ottoman semisal benteng-benteng tua yang meskipun tinggal puing tetap terawat dan layak jadi obyek wisata sejarah (kalo malam ada lampu yang disorotkan ke arah benteng2 tua ini ). Setelah tahun 1920-an berubah dari kesultanan menjadi republik sekular dan tarik menarik kepentingan untuk menjadi negara eropa yang modern dengan keinginan untuk tetap dalam tatanan tradisi lama ternyata peninggalan masa lalu masih bisa kita kunjungi dan terawat baik.Bangunan tua termasuk Masjid dengan bentuk menara yang seragam membuat suasana klasik begitu terasa.

Di Eyup kita mengikuti Upacara penghormatan 70 tahun kematian Mustapha kemal Attaturk, acaranya ringkas cuma hening cipta dan menyanyikan lagu kebangsaan Turki kemudian...selesai.


Memang luar biasa Attaturk yang satu ini, sebagai peletak ideologi sekular, kalau orang Turki ditanya siapa presidennya, jawab mereka “ Mustafa kemal Attaturk “ , “ lha presiden yang sekarang ? “, kata mereka itu cuma pengganti Attaturk. Ketika kita beli SIM Card dan roti sebesar paha(tentu paha orang, bukan paha jangkrik) , komunikasi meskipun dengan bahasa Inggris ternyata sulit juga nyambungnya. Secara umum bahasa Inggris mereka terhitung pas-pasan, termasuk polisinya karena bahasa utama mereka adalah Bahasa Turki, jadinya kita transaksi pake bahasa Tarsan dan pake alat sakti untuk tawar menawar namanya “Kalkulator”, yang penting jual beli terjadilah. Pulsa 9 dolar dan roti segede paha perbiji sekitar 1 Yeni Turk lirasi (YTL, kurs sekitar 8 ribu rupiah). Habis itu kita menuju hotel untuk check in, Sarapan pagi jam 11.30 waktu Istanbul, menunya roti tawar, margarine,Yogurt, tomat, mentimun, buah Zaitun dan beberapa menu lain yang gak membangkitkan selera makan orang jawa (kalo gak makan nasi artinya belum sarapan...).

Istirahat sejenak lalu jam 14.30 kita berangkat ke kantor dinas pendidikan wilayah Eyup untuk mengadakan audiensi dengan kepala Dinas Pendidikan Eyup Mr. Gusamettin Erdogan. Dia njelasin mengenai pola pendidikan di Turki, yah kayaknya gak terlalu jauh beda dengan di Indonesia.

Pertemuan sampai dengan jam 16.30 dilanjutkan jamuan minum di Pierre Lotti. Pierre Lotti adalah sebuah tempat minum sekaligus gardu pandang sembari melihat terusan yang memisahkan Benua Asia dan Eropa.


Dengan suhu sekitar 10 derajat Celsius, menikmati segelas kopi Turki seharga 3 YTL dipadu sebatang rokok Dji Sam Soe thik ya nikmat ya.




Jam 17.30 kita menuju ke kawasan masjid Osmani yang digunakan juga untuk sekolah semacam pesantren dengan dana dari pengusaha di sana. Kita makan siang sekaligus malam dengan menu Turki plus nasi yang kaya nasi uduk (biji berasnya gede-gede dan dikasih minyak Zaitun) dan yang pasti bikin perut kenyang (Porsi makan di Turki memang jumbo, kalo di Nogiri porsi tukang macul lah, begitu ditambah lagi dan lagi dan lagi...). Paduan menu kebab daging sapi dicampur terong, wah kayaknya lebih enak kalo terongnya disayur lodeh. Acara jamuan berakhir sekitar jam 20.30 lalu kita kembali ke hotel di kawasan Eyub dan istirahat....


8 comments:

mujtahid said...

Dari dulu ... yen duwe duit, pinginku melancong ke Turki. Lihat masjid biru, museum ayasofia, dan minum teh sinambi menikmati lalu lalang kapal di Selat Bosphorus .. ditambahi Nasih : menthelengi perawan Turki sing huayu-huayu.
Ning sayange koyok-e tangeh lamun, ra ono alasan untuk pergi kesana .. peluang sing ono yo mung : India .. nehi, nehi .. Cina .. sheshe, wome,..

Susilo said...

Tenan hid, rasah dipenthelengi perawan turki ki pancen huayu2 apamaneh dipenthelengi ya mung aromane kok rada prengus, apa merga irungku sing rada sulaya ya ?

mujtahid said...

Kakean ngemplok wedhus..

Beno said...

Aku yo terpesona ambek cewek-cewek Turkiye, lepas soko prenguse (merga wedhus).
Kapan-kapan, Mas Tahid, siapa tahu kita bisa berkunjung ke sana. Khusus untuk membuktikan prengusnya cewek sana hehehehehehe .....

Mincuk said...

Ikut senang ternyata guru di nogiri mendapat kesempatan untuk ke Luar Negeri... moga bermanfaat bagi pend di wng umumnya dan SMA 2 khususnya.

SUNAR PRIYONO said...

Selamat Mas Susilo dah jadi Guru hebat ,,,ke Turki awan esok mangan
kebab ora Mas??kalau masalah wong
ayu-ayu aku ga komentar...mengko
yen kebaca anakku wedhok,,,malah di
fikir bapake playboy,,pada hal playstation. OH,,iya Mas Susilo inget ga kenangan kita lomba baca puisi di RSPD Wonogiri,,penghayatan dan suara mas susilo apik lan gemontang.Terus kita ngumpul ono cerak plinteng semar berangkat menyang solo mau puisi,,rupane cuma jalan-jalan.slah satu cewek sing melu dyah Adi. Gimana sekarang bakat puisi nurun ga ke anaknya?? salam ya buat keluarga/

Susilo said...

makasih mas sunarpri, yang aku ingat dari sampeyan adalah kerapian dan kehalusan tutur, luar biasa...
Soal baca puisi itu rumangsaku ya ora gemontang kaya gledeg (isih kalah karo ponari). Salam hangat dari kami sekeluarga, donga dinonga ya mas...

mujtahid said...

Yen aku dadi juri bingung le milih .. sing siji cemengkling nggemontang .. sing siji sendu merayu .. huahahaa