Wednesday, 18 March 2009

Thiwul, Tempe, Koro Benguk, Lamtoro, ...........


DULU, thiwul dan tempe adalah lambang keterbelakangan, kemiskinan, dan kebodohan. Demikian pula bahan pangan semacam koro benguk, lamtoro, daun ketela pohon, kecipir, umbi talas, pelepah dan daun senthe, umbi gadung, dan masih banyak lagi lainnya.
Sampai ada istilah ''mental tempe'' dan ''otak thiwul'' untuk menggambarkan posisi rendah dalam konteks intelektualitas dan relasi sosial. Siapa sangka kini hak atas kekayaan intelektual tempe menjadi ''rebutan'' dengan Jepang, dan untuk itu kita merasa kecolongan.
Thiwul ? Sami mawon, sejak 1980-an menjadi ''barang mewah'' karena kian sulit dijumpai bahkan di ''negeri'' asalnya, Nogiri ! Penyebabnya, sebelum telanjur dibuat tepung telah ''disabot'' ketika masih berupa gaplek untuk dijadikan chips dan diekspor. Sekali lagi, diekspor !!
Berbagai penelitian menunjukkan potensi koro benguk dan kecipir sebagai sumber protein yang luar biasa sebagai pengganti atau substitusi protein hewani. Lamtoro atau kemlandhingan beserta familinya semacam petai dan jengkol yang biasa diauhi karena efek baunya, melalui berbagai rekayasa teknologi pengolahan pangan bisa berubah menjadi makanan bergengsi.
Umbi talas, umbi gadung, tela rambat, serta keluarga umbi-umbian lainnya merupakan penopang ketahanan pangan yang heibat bat bat bat jika saja dikelola dan dibudidayakan secara luas dan terstruktur.
Betapa banyak sumber daya pangan yang dulu biasa terdapat di pekarangan, tegalan, dan lahan-lahan tak terurus disia-siakan serta dinihilkan peran dan potensinya. Kini, mungkin sebagian telah lenyap. Anak-anak kita barangkali tak tahu apa itu umbi gadung, talas, kecipir, koro benguk, lamtoro, dan sebagainya.
Saya masih teringat saat paceklik tahun 1970-an, betapa nikmat makan thiwul bersama-sama di tampah bersama empat saudara. Lauknya tempe goreng tanpa minyak plus sambal yang pedasnya bikin air mata berlelehan. Kenangan pahit yang monumental, dan sekarang dalam bayangan saya terasa begitu manis.
Sayur pelepah senthe atau lompong, betapa sedap meski kalau tak tak pandai-pandai mengolah dan memasak, bibir dan mulut bisa gatal-gatal. Mungkin ada yang tak membayangkan bahwa pelepah pisang juga enak disayur selain jantung dan batang atau gedebog-nya.

17 comments:

patrem said...

Di Nogiri thiwul, Gathot,tempe benguk dll itu jane masih ada tiap pagi di pasar-pasar. Coba kalau pulang, jalan2 ke pasar krisak cari thiwul lan gathot pasti ada tur enak, hanya saja belum dikemas dengan baik, untuk oleh2 misalnya. Kalau kita jalan2 ke Wonosari Gnkidul, di sana ada warung yang khusus menjual Thiwul & Gathot dengan kemasan untuk oleh2, ramai banget warunge. Maka kalau plng ke Nogiri mau ke jogja, sembari nengok museum karst kita lewat wonosari cari masakan tradisional ini yang sdh dikemas dengan baik di Nosari. O iya, kukira ini salahsatu ide yang baik utk dikembangkan di area museum karst nantinya. Thanks ben.

Nasih said...

Kalau aku sudah membayangkan masukan (bukan makanan) itu dalam bentuk juice ... apa saja bahan alam yang dapat dirombak (dengan bantuan mikrobia dan ensim terlebih dahulu, ba) itulah yang masuk ke dalam tubuh kita untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi, substrat metabolisme dsb yang selama ini diperankan oleh makanan. Jadi konsepnya mirip dengan memperbanyak tawon dan kumbang, kita tinggal menghisap madu atau jelly. Sedikit tapi lebih digdaya.
Jadi kalau pelepah atau batang pisang disantap itu masuk akal.

SUNAR PRIYONO said...

Kalau pengharum ruangan sing wangi khan biasa yo Mas.Kayaknya ada peluang baru nich,,,Produksi bau jengkol, Pete, Sembukan, Lamtoro di proses menjadi suatu gas dan di kemas dalam tabung sing apik. Bintang iklannya iso MAs Beno sing guanteng dan siapa gitu Dessy Ratnasari atau Tamara.Apa Fungsinya???untuk menghalau demonstan yang anarkhi, Orang pacaran di sembarang Tempat, Bapak-bapak yang suka KDRT,Kalau untuk mengusir penjahat lampu merah,,mesti di tambahi cairan Cabe. Siapa minat?? Guyon tur iso dadi duwit Mas.

mujtahid said...

Bener Trem, selain di Gunung Kidul thiwul yang dikemas menjadi thiwul instan (kayak Indomie .. gampang masak-e) juga menjadi oleh2 khas dari Blitar. Kebetulan adik iparku dari sana, kalau pulang kampung thiwul instan itulah yang kami tunggu2. Kapan yo ada pengusaha Nogiri yang memeloporinya? .. Peluang usaha lo!

mujtahid said...

Jantung pisang dimasak lodeh dicampur kacang tholo? .. Bikin mak cegluk.
Itulah sayur klangenan yang selalu kuminta dimasak simbok-ku jika lagi mulih ndesa .. dan istriku wajib mempelajarinya, dan harus seenak masakane ibuku .. khusus untuk sayur yang satu itu. Satu lagi sayur klangenanku : jangan kluwih.
Tapi jangan salah sangka lo .. meskipun sayur ndeso .. bahan bakunya adanya malah di Carefur atau Ramayana.

Nasih said...

Memang luwih enak belanja di mall. sekali parkir akeh sing isa dikerjakan. shopping, cuci mata, cuci muka, cuci mulut ...
Sebenarnya pamarentah juga sudah merenovasi/merevitalisasi pasar tradisional.
Syukurlah kalau wong kutho isih tresna resep desa, supoyo petani tetap gelem nandur ya lan tambah makmur.

mujtahid said...

Bukan karena pingin ke mall Sih, justru di tukang sayur keliling dan di pasar tradisionil itu yang namanya ontel dan kluwih itu susah dicari. Sekalinya bojoku takon kluwih ke tukang sayur jarene malah dijawab :"Woalah bu, itu mah sayuran orang kampung ..".
Dicritani bojoku ngono aku dadi gonduk .. ngenyek banget .. justru selera ndeso itu mas yang bikin otak encer .. ga pakai pengawet dan pewarna serta kolesterol rendah

Beno said...

Betul, Mas ''Tauhid'', di mal-mal itu malah sering yang ndesani tersedia lengkap.

Maryanto_DS82 said...

wah mas tahid, klo di Semarang aku pernah jumpai sayur gudeg soko jantung pisang, ada nya di daerah pasar mranggen (semarang ke arah purwodadi) di situ juga tersedia nasi jagung gudangan lauk nya gereh,thiwul,cenhil...di warung di daerah cinde semarang setiap hari nyedikan lodeh kluwih,rebung...kapan klo tindak semarang tak traktir menu-menu itu mas.....menu deso protein tinggi....uenake pol mas.......klo daerah ngaliyan mau kerumah mas beno dari arah kota kiri jalan sebelum kecamatan ngaliyan ada nasi gudangan,tumpang,trancam nama nya WM mbak Lea....uenak mas Beno....karena saya orang klilingan jadi makan nay sak enggon enggon tur masakan ndeso....

mujtahid said...

Mas Maryanto critamu bener2 bikin mak cegluk. Semarang emang gudange makanan enak juga yo .. waktu aku PKL di PLTU Tambak Lorok blusukan na Pasar Bulu .. mangut lele-ne nyuamleng tenan. Waduh .. pasar2 "eksotis" tempat njenengan blusukan cari makanan ndeso itu bener2 bikin iri hati untuk menyambangi. Iparku ada 2 wong Semarang, tapi biasane aku cuma ditraktir soto-soto yang sebetulnya juga uenaak pol, ning wis rada "nguthani".

Beno said...

Walah, aku kalah sama Mas Maryanto. Kalah segalanya .... hehehehehehe !

Maryanto_DS82 said...

mas beno didepan kantor nya njenengan pandanaran atau tepatnya depan show room yamaha ada W. Bu Sum (gang kecil ke arah selatan)itu warung makan masakan nya juga masakan ndeso mas....ada oblok-oblok godong telo,mangut...sayur lodeh ny a juga enak tur klo siang sing jajan ayu-ayu pegawai kantoran sing isih nom-nom wah tambah sumringah mas....ya karena saya orang klilingan jadi yo cari yang enak murah sesuai ro lidah wong ndeso....

mujtahid said...

Oblok-oblok mlanding utawa oblok-oblok godong pohung dicampur teri? .. Gek kapan iso merasakan lagi .. Hoka-hoka bento utawa hanamasa juga lewaat wat

Beno said...

Kalau yang Bu Sum itu, saya naksir cewek yang sengaja dipasang untuk menarik pengunjung plus mbak-mbak kantoran yang mulus-mulus .... hehehehehe, ketularan bakat boyo !

Maryanto_DS82 said...

wah ternyata mas Beno yo sok ngematke putrane bu Sum, nek dodolan mung nganggo daster....wis-wis ndak tambah dosa.....tapi nyenengke...he...he...he...kapan-kapan ketemu di situ mas Beno, klo pas klilingan tak mampir ntar tak kabari......

Maryanto_DS82 said...

betul mas Tahid...oblok oblok dong pohong dicampuri mlanding ro teri...lauk nya peyek gereh.....wis uenak tenan mas......gatot , thiwul , cenhil di Semarang masih agak mudah di cari...sperti di daerah Pasar Mranggen,pasar Pedurungan,pasar gayamsari masih ada........

Beno said...

Mas ''Tauhid'' sekali-sekali perlu diangkut ke Semawis, Mas Maryanto, biar bisa tuntas kangennya pada makanan kesayangannya.