Saturday, 2 May 2009

Kalah Melawan Komik dan Teve



SEJAK awal saya ingin mengenalkan kegiatan luar ruang kepada anak-anak. Misalnya bersepeda, sepak bola, dan main layang-layang.
Lumayan sukses. Si sulung hobi berat sepak bola dan memutuskan ikut ekstrakurikuler cabang olahraga itu. Si bungsu tak mau lepas dari sepedanya. Bangun tidur pun langsung menyambar kendaraannya.
Namun, lama-lama saya perhatikan ada ''pengganggu'', yakni televisi dan komik. Pada jam-jam tertentu ada film kartun.
Nah, mereka pun asyik di depan layar gelas, bisa berjam-jam. Komik jepang juga memberikan keasyikan tersendiri, meski dalam pandangan saya malah merusak mata karena hurufnya kecil-kecil dan gambarnya berantakan.
Intensitas kegiatan di luar ruang pun kian berkurang ketika usia mereka bertambah. Televisi dan komik telah merenggut salah satu upaya membuat anak-anak memperoleh udara segar, bergerak, dan mengeksplorasi alam sekitar. Sedih deh.

6 comments:

SUNAR PRIYONO said...

Mas Beno jadi ingetkan sama si Bungsu Altero anakku mas.Komik Doraemon selalu menemani saat makan, menjelang tidur,Bangun Tidur bahkan boker di kamar mandi.Untuk menyiasati supaya ada ilmunya sekarang sudah ada Doraemon edisi ilmu pengetahuan alam dan Biologi yang di kemas dalam serial komik.Jadi tidak selamanya membaca komik bikin anak bodoh dan malas.Beda sama zaman kita Wiro sableng,sibuta dari gua hantu dan gundala putra petir.hahahaa.apa Mas Tahid dulu suka baca komik ya,,kok SMP dah pakai kaca mata.Muncul dong!!!!

mujtahid said...

Untungnya dari dulu aku ga suka komik, tapi lebih beratnya lagi suka buku/novel sejak bisa baca (kelas 1 SD) .. jadi deh pakai kacamata sejak kelas 2 SD.
Bayangin mas Sunar, sejak kelas 1 SD aku sudah melahap buku2 silat SH Mintardja (Api di Bukit Menoreh, Nagasasra Sabuk Inten, Suramnya Bayang2, dll), karya Kho Ping Hoo dah ga keitung banyaknya sampai buku2 sastra seperti Siti Nurbaya, Sukreni Gadis Bali, dll .. walaupun nalarku belum "nyandak"
Bener, anakku juga tergila2 dengan komik Naruto, Yugi-Oh, dll sampai terkikik2 membacanya. Terus terang sbg ortu saya belum tahu apa sih isinya .. ga sempat, jadi mau "membatasi" juga ga ada dasarnya.
Seperti mas Sunar, untungnya anakku juga tertarik dengan "bacaan penyeimbang" : ensiklopedi anak2, buku2 pengetahuan sekarang juga banyak yang dikemas menarik dengan banyak gambar kayak komik .. tapi ya itu mahalnya minta ampun untuk ukuran kantong PNS.
Sama Ben, anakku lanang juga hoby bola .. dari main sampai mengikuti "perekembangan terkini" .. la repotnya aku sudah menilai rada kebablasan, baca koran dan tabloid cuma dicari kabar "bola"nya.
Alah wis ben wae, ngurusi bocah saiki mumet yen kakean aturan.

SUNAR PRIYONO said...

OOO,,,,NOGO SOSRO SABUK INTEN,dibaca sewaktu SD. pantes,,,,,Tahun 84,bacaan iku baru bisa aku nikmati.Walah,,,anak-anak Mas Tahid lan Mas Beno suka main bola to,malah anakku senenge game online permainan bola,,,,Kaki sering kram sichh

mujtahid said...

Podo mas, selain "main" dan "baca berita" dia juga hobby main game bola. Yen ditakoni cita2ne mau jadi pemain bola .. ben wae!

SUNAR PRIYONO said...

yen anakku cita citanya jadi pemain games,,,hahhaaa,,,,yo wis ben,kegemaran sejalan dengan usia,,yen dipaksa belajar malah sutres!!

mujtahid said...

Tul!