Tuesday, 26 May 2009



SEBERAPA LAMAKAH KITA DIKUBUR ??

Pernahkah teman - teman membayangkan, seberapa lama kita dikubur, setelah meninggal ? Saya juga tak bisa memberikan jawabannya. 
Pada hari itu, awan sedikit mendung, namun diperkirakan tidak akan hujan. Seorang bocah bernama Pipit dengan kaki-kaki mungilnya, berlari-lari kecil sambil bergembira melihat pemandangan sekitar kawasan jembatan Pokoh. Baju merahnya yang kebesaran melambai lambai ditiup angin, saat ia menyebrangi jalan bersama ayahnya tercinta, menuju pemakaman umum. 
Dimana almarhum mendiang neneknya dimakamkan, tangan kanannya memegang es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya.
Ketika memasuki wilayah pemakaman umum, Pipit dan sang ayahnya berputar sejenak kekanan dan kemudian duduk di atas seonggok batu nisan bertuliskan “Hj Rajawali binti Elang 19 Maret 1905 – 20 Januari 1965.?
Kemudian Sang ayah berkata: “Nak, ini kuburan nenekmu mari kita berdo’a untuk nenekmu.” Sesaat kemudian, Pipit menatap wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Lantas, ia mendengarkan ayahnya berdo’a untuk neneknya…
Tak lama berselang Pipit berujar kepada ayahnya: “Ayah, nenek waktu meninggal umur 60 tahun ya yah.” Lalu, Ayahnya mengangguk sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya.
“Hhhmmm.., berarti nenek sudah meninggal 44 tahun ya yah…” lanjut Pipit berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya mulai berhitung. “Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 44 tahun … “ jawab Sang ayah.
Pipit memutar kepalanya, memandang, memperhatikan sekeliling pemakaman, hatinya berkata, banyak juga ya, kuburan di sana. Sejurus kemudian matanya tertuju pada sebuah kuburan yang terletak di samping kuburan neneknya, kuburan tua berlumut dengan batu nisan bertuliskan “Muhammad Zaini : 19 Pebruari 1882 – 30 Januari 1910 ??? 
Ayah-ayah, “Hmm.. kalau yang itu sudah meninggal 99 tahun yang lalu ya yah” jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi, ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. “Memangnya kenapa ndhuk?”, ujar sang ayah menatap teduh mata anaknya. 
“Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu dikubur dan bila kita banyak dosanya, kita akan disiksa di dalam kubur dan di neraka”, jelas Pipit sambil meminta persetujuan ayahnya.
“Iya kan yah?” sambil matanya melirik ayahnya. Sang Ayahnya tersenyum, “Lalu?”, timpal ayah.
“Iya .. kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 44 tahun dong yah di dalam kubur. Tapi kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 44 tahun nenek senang di dalam kubur…. ya nggak yah ?” Mata Pipit berbinar karena bisa menjelaskan pendapatnya kepada ayahnya. 
Ayahnya tersenyum, namun dibalik senyuman sang ayah, sekilas tampak keningnya berkerut, dan tampaknya cemas….. “Iya nak, kamu pintar,” jawab ayahnya pendek.
Sepulang dari pemakaman ayah Pipit tampak gelisah, memikirkan apa yang dikatakan anaknya … 44 tahun … hingga sekarang… kalau kiamat datang 100 tahun lagi ….144 tahun disiksa .. atau bahagia di kubur …. Lalu ia menunduk … meneteskan air mata …
Kalau ia meninggal .. lalu banyak dosanya … lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’un … air matanya semakin banyak menetes…..Sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan .. kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur .. lalu setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi ketika disiksa di neraka ??? Tahankah...? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa di terminal kemarin ia sudah tak tahan?
Ia semakin menunduk ... tangannya terangkat ke atas..bahunya naik turun tak teratur…. air matanya semakin membanjiri jenggotnya…..
Dihampirinya Pipit yang tertidur di atas dipan bambu… dibetulkannya selimutnya. Pipit terus tertidur …tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya .. arti sebuah kehidupan… dan apa yang akan datang di depannya…

Wassalam, dengan harapan setelah kita membaca kisah di atas dapat mengambil hikmahnya, Amiin. Bila ada kesamaan nama ini hanya sebatas ilustrasi dan tidak ada maksud lain



2 comments:

Beno said...

Sebuah cerita yang menyentuh ..... terima kasih telah memberi peringatan !

mujtahid said...

Yen wis ngalami ngono piye yo ... masalah-e rampung ... opo malah entuk masalah baru?
Yen wong bunuh diri kae njuk piye ....