Monday, 3 August 2009

Menikmati Dunia Nyata


SUDAH lima hari ini gerobak pinjaman kantor masuk bengkel untuk memuluskan lecet-lecet bodinya, termasuk penyok di dekat lampu depan gara-gara menubruk pikap yang ngerem mendadak.
Saya memilih naik angkutan umum untuk pergi-pulang ke dan dari kantor, serta ke mana-mana. Kalau Mbah Surip ada di Semawis, sebenarnya saya pilih digendong ke mana-mana sama dia.
Selama beberapa hari itu pula saya seperti kembali ke dunia nyata, dunia realitas yang sebenar-benarnya. Sebelumnya, kan mirip di awang-awang. Bolak-balik antara rumah dan news room, sesekali diseling ke mal atau tempat-tempat lain yang lebih bersifat borjuis.
Jadilah saya mendengar celotehan rakyat kecil (hehehehe, memangnya saya rakyat besar ?!) mengenai cari uang yang kian susah, SBY yang diharapkan bisa membuat harga-harga kembali murah, dsb dsb.
Namun meski hidup dalam kesusahan (memang saya tidak susah ?!), mereka kelihatan masih mampu bergembira atau menciptakan kegembiraan sendiri sebagai upaya mempertahankan daya hidup atau vitalitas di tengah keterimpitan.
Lihatlah, seorang karyawati gerai pakaian di sebuah mal yang mengaku digaji di bawah upah minimum (upah minimum Kota Semarang sekitar Rp 800 ribu/bulan) tetap bisa happy full. Dia menelepon pacarnya dengan ponsel berkamera seharga dua jutaan rupiah. Hebat kan ?!
Seorang pengamen usia 18 tahunan berulang-ulang mengucapkan terima kasih ketika saya beri Rp 5 ribu. Saya jadi malu sendiri, karena andai punya pecahan Rp 500 barangkali itulah yang akan saya berikan padanya.
Selain menikmati kendaraan umum yang seringkali penuh sesak lengkap dengan aneka parfum buatan dan alami, saya menyempatkan diri jalan kaki barang seratus atau lima ratus meter.
Saya juga mampir ke penjual nasi kucing. Walau awalnya terbayang soal higienitas dan berbagai penyakit, saya berani-beranikan menyantap makanan rakyat itu. Toh saya juga sekelas dengan mereka.
Nah, dari situ saya diingatkan untuk sesekali melepas dunia awang-awang, terjun ke dunia nyata yang penuh persoalan, realitas yang asimetris, serta kelucuan-kelucuan yang sangat menyenangkan.

3 comments:

Maryanto_DS82 said...

Ya...mungkin kadang-kadang kita harus menikmati kedidupan yang nyata disekitar kita.....
untung di saku mas Ben ada 5rb an kalau yg paling kecil 50rb an , pengamen nya lansung NYEMBAH2 mas.......ndak pa pa mas naik angkot panas , gobyos tapi sampai kantor kan mak nyess...apalagi begitu masuk kantor nya njenengan bagian depan di bagian iklan....wah wah KASIR nya bisa ngadem ke pikir ( AC ruangan wae kalah ).....wis sip tenan......

mujtahid said...

Dunia nyata memang menyedihkan tapi kadang ironis ya ... keliatan susah tapi ber-hp jutaan .. la kalau ilang opo ora ciloko.
Makane aku dari dulu membatasi budget untuk hp disekitar angka 1 jt-an ... ben yen ilang ra gelo (itu pikiranku sing paling "cethek") ... tapi orang lain mungkin berpikir : dasar pelitttt!

Beno said...

@ Mas Maryanto: awalnya memang terpaksa, Mas, habis motor sudah dilego; wah, soal kasir yang ciamik itu ..... gak komentar deh hahahahahaha !

@ Mas Tahid: tak sarankan beli BB atau hp yang Rp 1,5 jutaan, penting saat kita keluar kota; syukur punya communicator !