Tuesday, 20 October 2009

Mas Tahid

Saya sebenarnya tidak terlalu dekat dengan mas tahid.Ada beberapa alasan kenapa demikian, Pertama waktu smp tidak pernah sekelas, kedua SMA beliau merantau ke Solo, sementara aku masih setia di Wonogiri, ketiga kalau boleh bikin stratifikasi beliau itu golpi (golongan pinter), sedangkan aku masuk golpas (golongan pas-pasan). Kalau ada yang sama setelah kita sama-sama tua yaitu sama2 golkar (golongan kasep rabi, ha...ha). Gak tahu setelah beliau muncul di panggung blog ini dengan tulisan perdana "roketku", rasanya kok mak nyes, begitu kontemplatif, kelingan bapaknya kalau lagi khotbah di masjid Taqwa Wonogiri, terus rasane dadi cedhak. Beberapa kali telepon ternyata piyayine memang ramah dan renyah. Ada dua hal yang menyentuh dalam tulisannya itu pertama kalimat "aku menjadi tidak peduli: aku belum punya apa dan mereka sudah punya apa" . Kalimat itu rasanya hanya bisa muncul dari orang yang berhati tulus, tanpa pamrih dan memiliki semangat pengabdian total. Kalimat selanjutnya "Hari2 ku kuisi dengan berpikir dan merenung bagaimana merancang bangun roket yang semakin handal dan canggih". Tantangannya sungguh luar biasa karena roket termasuk teknologi strategis dan tidak ada satupun negara di dunia yang rela bekerjasama menukar teknologinya jika kita hanya sebagai “teman” dan bukan “sekutu”. Dari material sampai informasi semuanya tertutup dan itulah tantangan yang kami hadapi sepanjang masa. Ya itulah gambaran dari semangat ilmuwan sejati,selalu berpikir, mencari dan mengatasi tantangan yang muncul tanpa pamrih. Semangat mesu budi/asketis kata Prof Sartono. Dalam iklim politik yang hiruk pikuk, narsis, oportunis, tanpa karakter, media yang penuh kekerasan dan pesimisme, semangat mas tahid ini seperti oase. Ternyata masih ada anak bangsa yang berpikir dan bekerja untuk hal-hal yang strategis. Alhamdulillah itu adalah teman kita. Alhamdulillah itu bukan di Iran yang begitu gigih mempertahankan hak dan harga dirinya akan penguasaan teknologi nuklir. Asyiknya dalam medan yang berbeda masih ada mas Kenang DR kita alumni Jerman yang masih bersahaja, Mas Nasih dosen yang tekun dan rapi jali, Mas Beno penulis Par exelent, mas Kisut rohaniwan kita, dan lainya yang tak mungkin saya sebut satu persatu.Bravo Alumni 81.

9 comments:

Nasih said...

yang paling asyik tuh kalu ngeliat Tahid pas lagi ngorok di tengah tidurnya yang lelap ... wow.
itu waktu belau kuliah tahun 1 di yogya (1984)...

kisut65 said...

mas Djoni, terima kasih untuk sapaannya. Saya sangat bangga dengan angkatan kita yang walaupun pada sukses tapi sangat rendah hati dan sungguh bersahaja. Dari hati tulus saya mengucaapkan banyak terima kasih. saya kembali menemukan habitat saya dengan teman se angkata SMP. Moga wadah ini bisa mengurangi stress kita bila menghadapi kesulitan. Terus terang kalau saya mendapat sms atau tilp dari teman-teman rasanya saya menjadi sangat hidup. sekali lagi terima kasih Mas Djoni Nur , Saya sendii juga tidak derkat dengan mas Taahid tapi saat reuni semua bisa akrab, sungguh mengagumkan

salam

A N T O said...

Waduh Mas joni sdh ikut meramaikan blog neh.... Sugeng rawuh mas Joni, kami seneng banget atas keikutsertaan panjenengan nulis di blog ini.

Btw klw mas Joni menyinggung golpi (golongan pinter), sedangkan aku masuk golpas (golongan pas-pasan). Kalau ada yang sama setelah kita sama-sama tua yaitu sama2 golkar (golongan kasep rabi), sekarang teman2 kulihat sudah banyak yang menjadi ekses (eksukutif sukses), kalau aku seh tetap saja jadi espas (eksekutif pas pasan) ha...3

siswadi kasep said...

ndang podo ngendikano, aku tak ngrungokne karo liyer liyer dhisik

Beno said...

Begitulah, amat beragam ''keistimewaan'' teman-temin lulusan 1981. Semua aling melengkapi dan memperindah kehidupan. Sukses - kurang sukses, pinter - paspasan, eksekutif - buruh, ..... dll dll saya kira tidak penting.
Mari, kita nikmati pertemanan-perteminan, saling mendorong dan mendukung ..... bahkan, tolong-menolong. Bahagia, senang, gembira bersama-sama; begitu pula, susah, sedih, sakit ........

Djoni nur ashari said...

setuju mas beno, kita memang gak ingin membicarakan sukses dan kurang sukses, pinter gak pinter. itu sekedar joke saja. Dalam terminologi sufi orang itu sudah ada "maqamnya" masing2. Saya hanya ingin mengulas pemikiran/sisi kehidupan temen2 yang dapat memberi inspirasi bagi kita.Maaf bila kurang berkenan.

Beno said...

Santai saja, Mas Joni, kita juga penuh joke yang kadang-kadang saru hahahahaha ......

Bambang Supriyadi said...

Tentang Mas Tahid, bener sekali Mas Joni, Dia sudah menjadi sahabat saya sejak SD. Waktu itu saya di SD 3 sebagai murid baru di kelas 6 karena sekolahan saya kena bendungan gajah mungkur. Dia yang membantu saya banyak hal, kalau ada PR aku gak bisa, pagi2 saya sudah datang dan minta dia ajarin saya terutama kalo ada pelajaran menulis hurub Arab.

Seneng sekali akhirnya kita bisa tahu temen2 kita sudah pada sukses. Mungkin memang tidak banyak waktu yang bisa kita luangkan karena masing2 punya kesibukan, tapi paling tidak dari beragam keahlian yang ada saya percaya nantinya ada hal yang bisa kita lakukan bersama untuk kota kita tercinta. Memang tidak bisa instan, perlu waktu untuk itu semua.

mujtahid said...

Kita semua adalah pribadi yang istimewa dengan keunikan kita masing-masing