Wednesday, 14 October 2009

Paceklik I

Membuka Kompas hari ini tanggal 14 Oktober 2006 hal I pikiran saya langsung tercenung melihat gambar waduk Gajah Mungkur yang kering kerontang. Bahkan sudah sebulan ini airnya tidak cukup untuk menggerakkan turbin. Melihat foto itu ingatan saya melayang ke masa kanak-kanak tahun 70 an. Tahun-tahun itu orang Wonogiri merasakan betul apa artinya paceklik. Kosa kata yang sekarang hampir jarang terdengar kecuali paceklik air bersih di Wonogiri Selatan. Di tahun 70 an bulan Oktober seperti sekarang selalu disikapi dengan hati mendua, senang karena bulan ini adalah awal musim penghujan sehingga menjadi awal musim tanam, prihatin karena bulan itu menjadi puncak paceklik, karena cadangan pangan hampir habis sementara musim tanam baru dimulai.Tidak terbayangkan kalau bulan Oktober belum turun hujan seperti sekarang. Selama musim paceklik yang dimulai dari bulan April, biasanya menu kita bukan lagi sego putih, tetapi sudah nasi paron (nasi putih dicampur tiwul), diselingi bulgur dan beras tekat (beras buatan dari ketela)jatah dari Pemerintah. Untuk bulgur supaya gak terasa sepo (hambar)oleh ibu saya dibikin "krawu"(isih ngerti krawu po ora, itu lho bulgur yang dicampur parutan kelapa ditambah sedikit garam. Ayah saya yang seorang guru sederhana dengan 6 orang anak punya sepetak sawah tadah hujan (letaknya sebelahnya rumah Anik, sekarang sudah jadi kantor DLLAJR/Dinas Perhubungan)dan pekarangan di sebelah rumah. Sawah itu ditanami padi gogo dan setahun panen dua kali. Hasilnya sebagian untuk dikonsumsi sebagian gabahnya disimpan di grobok (kotak kayu untuk menyimpan gabah kering)untuk cadangan waktu paceklik. Kalau musim kemarau sawah itu ditanami krai (hayo sopo sing isih ngerti), itu lho sejenis ketimun yang bentuk dan warnanya seperti ketimun tapi ijonya lebih terang, rasane seger.Pekarangan oleh ibu saya dibikin sorjan (yang gak ngerti bisa tanya mas Nasih), bagian yang basah ditanami ketan serang (ketan yang bulirnya merah rasanya pulen dan baunya wangi), sedangkan bagian yang kering ditanami singkong, kacang tanah/kedelai, krowotan (suwek, uwi,gembili, mbothe, tales,gadung), labu (waluh, bligo, blonceng) dan sayur-sayuran(cabe, koro, benguk, bayam, kenikir, mbayung, long telo), sedangkan sekeliling pekarangan ditamani lamtoro. tanaman pekarangan ini khususnya singkong, krowotan dan labu sangat membantu apabila musim paceklik tiba, karena pada musim itu tanaman ini justru sedang musim panen. Untuk kebutuhan proteinnya ibu memelihara beberapa ekor ayam untuk diambil telurnya dan disembelih kalau lebaran atau musim kondangan. Sedangkan untuk cadangan biaya sekolah' ayah memelihara beberapa ekor kambing yang sewaktu-waktu gampang dijual.Musim panen dan paceklik adalah siklus alam. Orang tua kita telah mengajarkan kearifan untuk bagaimana menjaga kelangsungan hidup dan bertahan dalam kondisi alam yang kadang tidak bersahabat. Tanpa konsep yang muluk atau program yang ndakik-ndakik oarang tua kita telah mengajarkan konsep ketahanan pangan yang seutuhnya, bagaimana menanam, apa yang harus ditanam, musim apa harus menanam, menyimpan, merawat dan menggunakanya secara cermat dan bijaksana.Mereka juga mengajarkan diversifikasi pangan, konsep yang saat ini begitu susah payah untuk diaplikasikan. Karena diversifikasi, disaat paceklik kita masih punya cadangan pangan yang panen diwaktu kemarau seperti umbi-umbian dan labu. Meskipun kita harus makan thiwul tapi kita tidak kekurangan asupan gizi dari pemanfaatan pekarangan secara optimal. Saat ini ketika ketahanan pangan bertumpu pada beras masyarakat seperti kehilangan daya survival atau sangat rentan kalau terjadi krisis beras (ingat bencana kelaparan di Papua tahun 1997 atau isyu nasi aking). Dari Sabang sampai lereng gunung di Papua semua tergantung beras. Kita seperti tidak punya peta pangan. Seharusnya ketergantungan kita kepada beras harus dikurangi (Konsumsi beras kita per kapita 135 kg/th bandingkan dengan Malaysia sekitar 70kg/th atau Jepang 50-60 kg/tahun).Caranya : Diversifikasi sekarang juga. NTT bisa bertumpu pada jagung, Maluku dan Papua bertumpu pada sagu, Jawa disamping beras optimalkan pekarangan dengan tanaman pangan dan hidupkan lagi lumbung pangan, sebagaimana telah diterapkan secara arif oleh masyarakat adat di Badui, Sukabumi Selatan, kampung Naga di Tasikmalaya, kampung Adat di Cikelet, Garut Selatan. Di Kampung Adat Desa Ciroyom, Cikelet, Garut Selatan, ketika tanggal 15 September 2009 saya berkesempatan mengunjungi Garut untuk distribusi bantuan gempa, Kampung adat itu utuh dan tidak kekurangan pangan. rumah adat mereka utuh dan lumbung padi mereka penuh, sehingga tidak membutuhkan bantuan lagi, padahal kampung disekelilingnya banyak yang hancur. Beras memang komoditas yang seksi karena gampang diproduksi secara masal, mudah digerakkan (melalui move regional maupun nasional), harganya relatif terjangkau, gampang diakses. Namun dalam jangka panjang politik beras telah mematikan kearifan lokal dan menurunkan daya survival masyarakat. Tidak aneh bila ada isyu produksi turun karena el nino (seperti tahun 2006,2007) Pemerintah sudah was-was luar biasa. Harga beras di pasar internasional langsung naik tajam, karena pasti Indonesia akan mengimport dalam jumlah besar. Belum lagi masalah lahan sawah kita yang setiap tahun selalu berkurang karena dikonversi menjadi industri dan perumahan atau kondisi tanah yang sudah bantat karena penetrasi bahan pupuk dan obat-obatan kimia. Akhirnya tidak ada jalan lain kita mesti kembali ke jalan kearifan. Mahatma Gandhi mengingatkan " dunia dan seisinya ini cukup untuk kelangsungan hidup manusia tetapi tidak cukup untuk keserakahan".

12 comments:

Nasih said...

Wah tak kira Mas Joni ki ahli hukum, ternyata ahli paceklik .... eh ahli pangan to.
Tak tunggu loh seri berikutnya.
Judule mesti "Gemah Ripah Loh Jinawi"

kisut65 said...

Ini juga tugas dari mas Beno sang ahli pertanian untuk disumbangkan bagi Wonogiri tercinta sebagai rumah kita.
Ayo mas Beno kita maju berjuang untuk membangun Wonogiri.

salam

Beno said...

Aku ora perlu mudhun, Mas Kisut, wong pakare wis jelas. Mas Joni (Bulog) lan Mas Nasih (Pertanian UGM). Yen mung nyuntik, aku gelem wae hahahahaha .....

kisut65 said...

Mas Beno yen mung nguntik wae akeh sing gelem to. he..he...he....
pokoke ayu bebarengan mikir Wonogiri kita ini.

salam

Bambang Supriyadi said...

Saya masih inget Jon ketika mesti makan nasi tiwul sama ikan asin pada jaman susah dulu. Masyarakat kita sebenarnya sudah terbiasa dengan makanan lokal seperti tiwul, jagung, sagu dll tetapi Pemerintah yang memaksakan diversifikasi dengan beras. Selain mereka tidak siap dengan cara bercocok tanamnya juga perutnyapun sebenarnya tidak siap apalagi kantongnya. Coba mas Joni berapa harga beras di Irian sana atau Indonesia timur umumnya.

Mengapa pemerintah tidak mengembangkan sagu di Irian dan ambon, mengembangkan Jagung di NTT tetapi lebih sibuk mengurus Import beras? PR nya mas Joni deh....

Djoni nur ashari said...

Itulah mas bambang harus ada edukasi agar masyarakat mulai mengurangi ketergantungan terhadap beras. optimalkan sumber-sumber pangan lokal dan pemanfaatannya. Ibu-ibu RT di pedesaan melalui PKK bisa diedukasi untuk mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan dengan tanaman pangan (saya dapat cerita dari kampung, ibu2 muda di pedesaan sekarang malah sibuk SMS gara2 hp,lupa ngurus pekarangan he..he). bentuk lumbung pangan di tingkat rumah tangga (sistem grobok) dan ditingkat dusun.

mustikawati_endah said...

Aku cuma mau koreksi dikit, mas-mas, ndak komentar soal substansi soal e gak mudheng. Mas Joni (aku rada lali wajahe), data panjengengan komplit-plit. Nanging aku rada takon bab kutipan tahun terbite Kompas bener 2006 apa 2009?

Djoni nur ashari said...

kalau lupa itu biasa mbak, teman baru berdatangan teman lama dilupakan, he...he. apa kabar mbak endah, masih suka bikin puisi? terima kasih koreksinya yang benar kompas 2009

mujtahid said...

Yen "ahli beras" wis ngomong ternyata ngedap-edapi yo ...
Bener pakde .. dulu orang tua kita memang "pandai menyiasati alam", kalau sore hari dirumahku disediakan 9 piring (wong anak-e 9), isini : mbili, suweg, uwi .. pokok-e kudapan sing maregi .. ternyata kuwi adalah siasate ibuku ben bengine wis klenger .. dadi maem-e kari sthik.
Masalah krawu mengkrawu yo mesti ngerti .. enak yo .. gurih .. ning saiki ono sing perlu "dikrawu raine" kalau gara2 reuni ono sing dadi padu karo bojone (jare mas Anto) .. aku dadi penasaran, sapa?
Eh ngomong2 biyen kita suka nyolong krai di Mbrumbung .. ojo2 tandurane pakde Joni's mom.

Beno said...

Ternyata sing diamuk mergo reuni Mas Anto dhewe hahahahahaha ...

mujtahid said...

Mugo-mugo Ben ... dudu liyane!

Djoni nur ashari said...

wah kuwi jenenge "paceklik perhatian", akhirnya reuni go kompensasi, he...he.Hasile reuni mop, itu tugasmu hid sebagai inisiator.