Thursday, 15 October 2009

Paceklik II

Meneruskan cerita paceklik, wonogiri itu gudangnya cerita paceklik. Menurut cerita Mbah atau orang tua kita bagaimana sengsaranya jaman malaise tahun 30 an (sering diplesetkan menjadi "jaman meleset"), jaman romusha Jepang, dan krisis pangan pertengahan tahun 60 an. Yang terakhir ini orang tua atau kakak kita mungkin masih mengalami langsung bagaimana dangkel/bonggol pisang terpaksa diolah untuk dimakan. Jaman orde barupun bukannya tidak ada cerita krisis pangan, ada krisis beras tahun 1972, tahun 1993 dan terakhir 97/98 (tahun sendyakalaning pak Harto), Pemerintah harus import sampai 4 juta ton. Namun dengan kebijakan stabilisasi pangan yang ketat dan konsisten krisis tersebut dapat ditangani dengan baik. Terbukti selama 30 tahun Pak harto relatif tidak terjadi gejolak pangan yang berarti.

Sayang sekali belum ada dokumentasi atau cerita tertulis yang komprehensif mengenai masa-masa krisis tersebut. Sedikit sekali kita memperoleh cerita bagaimana krisis itu terjadi, apa penyebabnya dan bagaimana pemerintah membuat langkah penyelesaian.

Saya surprised justru menemukan cerita lengkap tentang paceklik Wonogiri pada masa kolonial, dari memorie Harloff , 4 April 1922 (ternyata Wonogiri sudah sangat dikenal dari sejak jaman kolonial)yang saya kutip dari buku Biografinya wong Wonogiri yang jadi begawan Sejarah Alm. Prof. Sartono Kartodirjo (M. Nursam, Membuka Pintu bagi Masa Depan, Biografi Sartono Kartodirjo,Kompas, Maret 2008, hal 5).Prof Sartono ini lahir di Wonogiri 15 Februari 1921,pernah sekolah di HIS Wonogiri yang sekarang menjadi gedung SMP I kita tercinta.Untuk mendapat gambaran sekilas mengenai situasi Wonogiri pada periode th 20 an, dikutip dari laporan serah terima jabatan residen Surakarta, Harloff,4 April 1922:

Wilayah Mangkunegaran di Onderafdeling Wonogiri mencakup luas sekitar 300.000 bahu yang lebih dari sepertiga wilayah Solo dan memiliki penduduk sekitar 430.000. Kondisi ekonomi penduduk di tiga distrik timur laut, yakni Jatipuro (mungkin yang dimaksud Jatipurno, karena Jatipuro masuk Karanganyar,pen), Jatisrono dan Purwantoro pada umumnya baik. di 3 Distrik lain, khususnya di dataran Sembuyan (aliran hulu sungai b.Solo)kondisi pangan sering rawan dan dari tahun ke tahun menuntut perhatian khusus dari Pemerintah. Sebagai akibat dari kondisi tanah yang lebih rendah dan letak yang sangat terisolir, pengaruh cuaca, penyakit dan wabah dalam tanaman pertanian, persediaan pangan di daerah ini mendadak menmgalami kekacauan dan penduduk menderita kekurangan.

Kondisi sangat berbahaya bagi Wonogiri Selatan di tahun lalu diuraikan secara panjang lebar dalam usul saya pada pemerintah tanggal 12 Januari 1919 No. 2763/2 dimana tindakan diumumkan untuk mengentaskan penduduk dari keterbelakangan ekonomi. Sistem pengambilan panen yang belum saatnya (khususnya) tanaman ketela, tanaman pangan utama di daerah ini(pantes wonogiri dikenal menjadi kota Gaplek,pen) jelas mengarah pada bencana. Faktor-faktor khusus seperti kenaikan harga pangan dan kebutuhan hidup lain pada tahun-tahun akhir Perang Dunia I, kegagalan panen jagung dan padi gogo di musim hujan 1917-1918, musim kemarau sangat panjang dan keras yang mematikan bagi sebagaian tanaman ketela, selanjutnya wabah suro yang sangat merugikan bagi ternak (wabah suro ki opo mas beno? apa sejenis penyakit mulut dan kuku?). Jelas setelah saya mengambil alih pemerintahan, saya segera mengambil tindakan tegas atas wabah suro ini dengan bantuan legiun berhasil dalam waktu singkat mengatasi penyakit yang sangat berbahaya dan meminta banyak korban. Kondisi ini sangat memperparah krisis sehingga pada tahun 1919 tindakan tegas diperlukan untuk menghindari kondisi membahayakan ini.

Selain tindakan yang sangat diperlukan dengan penyediaan bahan pangan yang memadai (gaplek dan nagur?) dari luar dan impor (ternyata jaman kolonial sudah ada import pangan, pen)atas tanggungan penguasa pribumi sebanyak ribuan bibit ketela dari kediri senilai f 90.000 yang jauh dibawah biaya yang diberikan bagi penduduk miskin, serta pembebasan kerja untuk perbaikan jalan dan proyek irigasi (kalau sekarang semacam proyek padat karya kali, pen)sebaiknya masih ada tindakan lain yang diperlukan untuk mempertahankan daya tampung penduduk di masa depan dan memperbaiki keseimbangan yang terganggu dalam hubungan ekonomi. Sejarah Wonogiri dalam jangka waktu panjang melihat berbagai percobaan di bidang pertanian pribumi, perbaikan ternak, irigasi dan pembukaan jalan dengan tujuan mengentaskan daerah ini dari kondisi terbelakang. Terbukti bahwa banyak percobaan dan tindakan yang tidak memiliki dasar yang kokoh. Pandangan subyektif terutama muncul sementara kurangnya persiapan dan penelitian tentang kasus ini bersama dengan kurangnya sistem yang tertata rapi bagi rekonstruksi perekonomian daerah dan akhirnya tidak adanya kelanjutan yang diperlukan dalam banyak kasus terutama usaha tersebut sudah dianggap gagal tau tidak berguna.

Pembentukan Komisi Wonogiri yang disetujui pemerintah pada bulan September 1919 dilakukan dengan tujuan menciptakan kelanjutan dan kestabilan di bidang ekonomi di kabupaten ini (ide Komisi Wonogiri ini boleh juga nih, bisa diadop untuk menampung putra-putra terbaik wonogiri ingin berkiprah membantu pembangunan Wonogiri, pen). Komisi ini terdiri atas penguasa pribumi sebagai ketua dan 12 anggota, para pejabat pemerintah dan pejabat bidang khusus terutama teknik. Setelah persiapan di berbagai sub-komisi, Komisi Wonogiri memberikan nasehat kepada penguasa pribumi tentang hal-hal berikut ini :irigasi, pembentukan perkebunan milik kraton yang baru, emigrasi, perbaikan ternak, pertanian pribumi dan Eropa, tanaman buah, persediaan air bersih bagi manusia dan hewan, pembukaan sekolah desa, lumbung desa, kas desa dan bank desa, pembangunan jembatan, pembukaan pasar, pesanggrahan dan proyek lain yang berguna, kehutanan dan kesehatan rakyat. Sejak tanggal 13 Agustus 1921 oleh sekretaris Komisi suatu usulan singkat yang terdiri dari berbagai hal dan usulan yang diajukan.Tinjauan ini berlangsung sampai dengan akhir April 1921.

Pembukaan proyek irigasi yang mahal di Wonogiri belakangan dihentikan dengan tujuan untuk bisa menyelidiki hasil-hasil percobaan pengairan dan pemupukan, penelitian tanah dan air dan memperoleh jaminan mengenai hasil padi berlimpah di tanah-tanah beririgasi. Persoalan ini dibahas kembali dalam rapat Komisi. Di dekat Wonogiri pada tahun ini percobaan dilakukan dengan usaha peternakan yang terdiri dari 30 usaha sapi pribumi dan beberapa hewan bertanduk jenis Onggole. Dengan informasi dari tuan Blank-waard, pengelola tanah Mento, 16 bahu kebun ketela untuk bibit disiapkan dengan tujuan tahun ini diperoleh hasil baik dalam masalah ketela sehingga persediaan Wonogiri sangat penting. Perbaikan jalan Wonogiri-Jatisrono pada tahun ini mengalami kemajuan. usul lebih lanjut untuk memperoleh subsidi pemerintah pada tahun 1923 bagi perbaikan ini sedang dibuat. Rencana Van Oort sejak ini ditemukan kembali oleh arsitek Mangkunegaran di kantor kepala bagian pengairan Semarang.

Hubungan dari Solo ke Wonogiri semakin membaik dengan jalur trem yang sampai jarak 33 km dari ibu kota dieksploitasi dan menurut persyaratan konsesi ditarik sampai Kakap. Sementara itu oleh pengurus NIS kepada pemerintah permohonan dibuat untuk bisa mengakhiri pembukaan jalan di Baturetno karena penghematan. Disini belum ada keputusan yang diambil. Mengenai kondisi politik bahwa pada awal 1921 aksi gerakan Tunggal Budi (Jawadipa) terjadi di Distrik Baturetno yang tampaknya dengan bantuan beberapa pengurus desa dan petugas kehutanan Mangkunegara menentang pemerintah pribumi.Tetapi ini segera bisa diakhiri. Selain itu masih ada beberapa kasus menarik di Distrik Baturetno dan Wuryantoro....

6 comments:

Beno said...

Sithik meneh wis dadi buku. Ayo, Mas Joni !

Djoni nur ashari said...

tak leren sik mas beno, nunggu tahid sik, bar ngompori kok terus ngilang

Beno said...

Mas Tahid lagi nyoba ''roket''-e sing anyar ..... cespleng opo ora !

mujtahid said...

Sory pakde Joni .. ora maksudku ngilang .. lagi Diklatpim 3 selama 2 bulan .. ngerti dewe to .. mboseni ning tugas-e seabreg2. Yen ono wektu mampir .. aku dikurung rong sasi di Diklat Depkes Hang Jebat cedak Mayestik.
Wah pakde .. jebul tulisanmu yo oke no .. jernih, mengalir, renyah .. from nogiri with love .. he he

Djoni nur ashari said...

oh lagi bertapa tho, lha kuwi kerep tak liwati hid, istirahat jam piro, mengko nek longgar sampean tak culik (tinimbang nyulik miyabi,he..he), nongkrong no bakso paun (pati unus) nyamleng, sing disawang akeh.

Beno said...

Selamat bosen, Mas Tahid. Siap-siap dadi penggede di Lapan ....