Wednesday, 18 November 2009

Budaya Menanam

Politikus Anas Urbaningrum dalam Diskusi menyambut 100 th Kebangkitan Nasional di Jakarta tanggal 9 Pebruari 2008 mengingatkan perlunya menumbuhkan spirit menanam untuk memetik hasil. Anas menjelaskan, maksud budaya menanam adalah ikhtiar. Manusia perlu menjalani ikhtiar sebelum memetik hasil. Apa yang kita tanam itulah yang kita petik.

Kita memang hidup dalam zaman serba cepat. Semua hal ingin serba instant. Seperti makan fast food, segala yang kita inginkan dengan seketika tersedia didepan kita. Persoalannya adalah kita ingin mendapatkan sesuatu tanpa bersedia untuk membayar harganya. Atau sesuai prinsip ekonomi pengorbanan sekecil-kecilnya namun ingin hasil yang sebesar-besarnya.

Hasilnya?. Bencana lingkungan hidup seperti banjir, tanah longsor, musim yang makin tidak pasti adalah contoh hasil dari sikap tidak mau menanam. Kalau ingin kayu tinggal lari kehutan. Bertahun-tahun hutan dirambah entah untuk diambil kayunya atau lahannya dikonversi menjadi tanaman semusim. Jutaan ha setiap tahun hutan berubah menjadi gundul, tanpa upaya serius untuk menanam. Akhirnya bisa diduga, bencana silih berganti setiap musim hujan menjelang.

Kalau diteruskan contoh budaya instant dan tidak bertanggung jawab ini sudah merambah seluruh sendi kehidupan. Arfan Pradiansyah (You Are A Leader:2005) mengingatkan kita : Persoalannya adalah kita ingin mendapatkan sesuatu tapi tak mau repot-repot membayar harganya. Kita ingin makan nangka tapi tak mau kena getahnya . Kita ingin pandai, tapi tak mau susah-susah belajar. Kita ingin banyak kawan tapi malas membina hubungan. Kita ingin dipromosikan tapi tak serius bekerja. Suaranya saja yang dikerasin kerjanya tidak. Kita ingin punya karyawan berkualitas, tetapi tidak pernah meluangkan waktu untuk mengembangkan mereka. Kita lupa bahwa di dunia ini perbuatan dan konsekwensi/hasilnya berada dalam satu paket. Kita dapat memilih perbuatan kita tetapi tak dapat memilih konsekwensi dan hasilnya karena sudah ditentukan oleh hukum alam. Peribahasa menyatakan “Siapa menanam akan mengetam”.

Tidak ada makan siang gratis kata pepatah Yahudi. Semua perbuatan ada harganya. Pemikiran dan perilaku yang reaktif dan serba instant yang saat ini telah menjadi gaya hidup sungguh merisaukan. Reformasi yang menuntut perubahan yang serba instant seolah menafikan apa saja yang sudah dibangun 30 tahun oleh orde sebelumnya. Tidak ada falsafah mempertahankan yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. Semua yang lama adalah jelek, korup. Liberalisasi menjadi “roh” reformasi. Liberalisasi seolah-olah seperti puyer “bintang tujuh” yang diharapkan secara instant dapat mengobati segala penyakit. Hasilnya pusingnya sedikit berkurang tetapi penyakitnya tidak kunjung sembuh, Masalah seperti tak ada ujungnya. Semua merasa bisa, semua merasa benar, semua merasa hebat. Tidak ada pengendapan, tidak ada penyelesaian dan tidak ada keputusan. Seperti kampung tanpa lurah. Mudah-mudahan masih ada ruang untuk merenung “pengalaman adalah guru yang terbaik”.

3 comments:

Beno said...

Budaya kita adalah memetik, kalau perlu nyolong !

Nasih said...

aku nandur karbon ning jero lemah ...

mujtahid said...

Anas Ubaningrum pancen pinter .. menanam korupsi di KPU .. memetik hasil di Demokrat.
Jaman sekarang lebih baik berbuat daripada kakean "cangkir"