Wednesday, 2 December 2009

INDONESIA DIPUJI OLEH KARDINAL JEAN LOUIS TAURAN DARI VATIKAN


Dua hari ( Minggu dan Senin ) saya ikut menyambut dan mendampingi Kardinal Jean Louis Tauran Presiden Dewan Kepausan Vatikan untuk hubungan antar umat beragama ( setingkat menteri ) yang berkunjung ke Yogyakarta ( dari rangkaian kunjungan 1 minggu di Indonesia ). Beliau terkesan akan kerukunan hidup beragama di Indonesia. Pertemuan dengan berbagai tokoh agama dari Muslim, Budha, Hindhu dan Kristen (serta bertemu Sri Sultan ) memberikan keyakinan kepada Kardinal bahwa kedamaian akan tercapai di Indoensia karena dialog bisa berjalan dengan baik. Indonesia adalah negara yang sangat pluralis, dan jumlah umat Muslimnya terbesar di seluruh dunia dan Indonesia adalah negara yang majemuk dari Sabang sampai Merauke, tetapi semua memiliki sejarah harmoni yang sangat panjang. Banyak orang kagum. Meskipun Indonesia beragama banyak, berbeda warna kulit, bahasanya banyak tetapi bisa hidup berdampingan secara damai.
Rasanya sungguh indah tetap bersatu dalam keberagaman, itulah ungkap Kardinal.
Kita alumni SMP 1 rasanya sudah mewujudkan semangat kerukunan tersebut. Saya merasa semua alumni SMP 1 adalah teman saya tanpa perbedaan. Selamat untuk usaha kita bersama untuk terus menjaga kesatuan dalam keberagaman; dan rasanya semua adalah saudara. Penerimaan teman-teman terhadap saya ( Mas Wahid, Mas Beno, Mas Yusup, mas Kingkong, mas Maryanta, mas Agustinus Agus Susanto dll) menunjukkan pesaudaraan sejati.Terima kasih teman-teman untuk persaudaraan kita.
( berita sekitar kunjungan Kardinal bisa dilihat di KOMPAS mulai Sabtu 28 Nopember )
Salam

9 comments:

siswadi kasep said...

mas Kisut,,,,
nek ada alumni 81 yang ngga' maw kompak untuk membawa dan mengamankan gerbong persatuan dan kesatuan yang telah qta rintis bersama sama, mereka disuruh pindah kereta aja mas.
terserah mereka sendiri aja, maw mlaku thimik thimik opo maw digendong mbah surip terserah........
yang jelas mari kita tetap jalin persatuan dan kesatuan untuk mengisi dan memajukan bangsa melalui profesi kita masing2.
alumni 81 is the best............

Harjono "Kingkong" said...

Bravo Indonesia...Hidup Pluralisme....

mujtahid said...

Iyo ... semua yg baik selama ini harus tetap dijaga, jadi (mengutip Kardinal Tauran) harus lebih dari sekedar toleransi .. tidak ada batas lagi .. sebab kalau toleransi masih mengandung unsur "aku disini" sedangkan "kamu disana".
Jangan sampai deh kita sampai seperti negara2 lain yg tercabik-cabik gara2 perbedaan : Nigeria, Pakistan, Filipina ...

A N T O said...

Tapi sing apik2 28 tahun kepungkur bareng ketemu dhek reuni tibake akeh sing kaget mergo saiki wis akeh sing ora apik, he...3

Mincuk 234 said...

beneer banget mas Kisut, dengan persatuan dan perbedaan agama yang beragam kita tetap harus kompak.... ojo koyo politisi kita... maunya ngacau melulu mencari salah sana-sini. urip sing legowo.... penak olehe mikir

kisut65 said...

Mas Tahid benar. Kardinal Tauran memang mengharapkan tidak hanya berhenti toleransi tetapi saling menyayangi. Maka kalau ada teman yang susah kita semua ikut susah, kalau ada yg senang smua ikut senang. Maka kita yg punya waktu wujudkan cinta kasih itu dgn datang ngunduh mnatern tgl 8 Des.
setujuuuuu

siswadi kasep said...

mas anto,,,,,
ojo ngono to,
wong sing tak delek'i 28 taon kepengkur, yen tak keker (tak teropong soko Planetarium Boscha mBandung) ijik tetep apik kok, ijik tetep kempling....
Wk....wkwkwkwk

Beno said...

Sebagaimana pernah saya katakan, keberagaman justru kian mendekatkan satu sama lain. Tak peduli agamanya apa (atheis sekalipun), pendek atau tinggi, gemuk atau kurus, hitam atau kuning, ...... termangsuk ''elek'' opo ''apik'', dsb dsb.
Soal ''elek'', tetep perlu kita banggakan ... hehehehehe (jarang lho yang merasa bangga karena ''elek'') !!

kisut65 said...

betul mas beno, keindahan dalam keberagaman perlu kita junjung tinggi. walaupun botak aku tetap bangga lho/. he..he..he..

salam