Tuesday, 15 December 2009

Mengenang So Hok Gie

Sebuah Tanya

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”

So Hok Gie

Mengenang So Hok Gie meninggal 16 Desember 1969 di Puncak Mahameru dan adikku si bungsu Toni Munandar yang telah mendahului kami 20 April 2000 (nasibmu sama dengan Gie, meninggal muda dalam idealisme yang menggelora), istirahatlah dalam damai.

5 comments:

Beno said...

Saya selalu kagum pada orang muda yang kuat idealismenya. Untung, sebagian kecil mati muda sehingga tidak kena polusi kekuasaan dan kekayaan. Sudah banyak contohnya. Aktivis mahasiswa 1998 sudah tak lagi kedengaran suaranya ........

kisut65 said...

Lha piye mas, apa pengin mati muda ??? kita khan masih perlu emmperjuangkan keadilan dan kebenaran tho ??? tentu juga kejujuran he...he..he..

salam

siswadi kasep said...

angkatan 98' sudah banyak yang duduk di kursi empuk mas, sehingga lupa berdiri.
rata rata mereka ngga' tau diri,,,,
(untung aku masuk diangkatan 81')

mujtahid said...

Wong apik biasane dipundut cepet .. la yen wong nasar kakean dosa memang sering luwih awet.
Akan tetapi lebih baik lagi orang diberi umur panjang dengan amal yang segudang

kisut65 said...

'tul mas Tahid. mumupung diberi umur pamjang mari kita isi dengan hal-hal yang berguna untuk sesama , negara dan bangsa. Saya setuju dengan mas Ssis yang bangga dengan angkatan 81 ini. rasanya saya merasa satu saudara tanpa ada perbedasan tua muda, kaya miskin, agama atau etnis apapun. Kita satu dan satu.. Prifiacait angkatan 81
salam